1.110 siswi Sekolah Dasar hingga SMA di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, memenuhi lokasi wisata Wolorpass, atau lebih dikenal dengan bukit cinta, walau terik matahari menyengat.
Lengkap dengan busana adat, para siswi ini dengan semangatnya memintal buah kapas kering secara tradisional, menjadi benang asli.
Masing-masing siswi membawa bambu, yang nantinya digulungkan uraian benang yang mereka buat.
Kewa, salah satu peserta pintal benang massal mengaku sudah diajarkan orang tua sejak kanak-kanak. Sehingga untuk menghasilkan benang asli yang berkualitas, kesabaran sangat diutamakan.
"Orang tua saya sering pintal benang dari kapas, jadi saya lihat lalu saya belajar. Memang capek karena butuh waktu dan kesabaran, sehingga benang tidak putus-putus," ujarnya.
Atraksi pintal kapas secara tradisional ini merupakan bentuk pelestarian budaya. Hal ini juga merupakan cara pemerintah daerah untuk mempromosikan wisata budaya kepada dunia luar, demi peningkatan ekonomi masyarakat.
"Kita ingin kembangkan budaya daerah yang ada, sehingga perekonomian masyarakat meningkat. Ini kita kemas secara baik, karena kita tidak kejar rekor namun lebih kepada promosi budaya yang ada," kata Bupati Kabupaten Lembata Yance Sunur, Senin (24/9).
Selain memecahkan rekor peserta terbanyak, pementasan ini juga merupakan salah satu kegiatan, dalam festival tiga gunung yang digelar pemerintah setempat. Tiga gunung tersebut yakni, gunung api Batutara, Ile Lewotolok dan Ile Werung.