Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kenaikan harga rokok ancam lenyapkan tradisi suku Penesak Ogan Ilir

Kenaikan harga rokok ancam lenyapkan tradisi suku Penesak Ogan Ilir Ilustrasi rokok. ©shutterstock.com/luckypic

Merdeka.com - Isu kenaikan harga rokok Rp 50 ribu per bungkus bakal berimbas dengan kearifan lokal di Sumatera Selatan. Bagi suku Penesak yang berada di Ogan Ilir, jika itu terlaksana secara tak langsung akan melenyapkan tradisi nenek moyang.

Asad (49), warga Kelurahan Payaraman Barat, Kecamatan Payaraman, Ogan Ilir, mengaku sangat keberatan dengan rencana kenaikan itu. Dia menilai, rencana tersebut hanya akal-akalan pemerintah untuk membuat masyarakat makin susah.

"Kalau memang mau bikin susah, 50 ribu itu tanggung, sekalian saja 100 ribu sebungkus. Mau hilangin kebiasaan rokok susah, jadi nanti mau tanam tembakau saja di rumah," ungkap Asad kepada merdeka.com, Senin (22/8).

Selain itu, kata dia, rokok sudah menjadi tradisi wajib bagi warga suku Penesak saat menggelar hajatan, baik pernikahan maupun syukuran atau sedekahan lain. Di mana, ahli hajat mesti menyiapkan sedikitnya 15 slop rokok berbagai merek dan kualitas setiap digelarnya hajatan itu.

Rokok tersebut biasanya diletakkan di atas meja tamu atau tempat memasak sejak empat atau lima hari menjelang hari H.

"Rokok itu biasanya sebagai perangsang tetangga atau warga biar giat bantu-bantu. Kalo tidak ada rokok orang malas, ahli hajat juga sering dibilangin pelit. Makanya harus ada rokok," ujarnya.

Asad mengatakan, jika harga rokok naik berkali lipat otomatis akan memberatkan warga yang menggelar hajatan. Sebab, biaya hajatan akan semakin tinggi atau justru habis terkuras hanya untuk membeli rokok.

"Misalnya 15 slop, dipukul rata bisa habis Rp 1,5 juta. Nah, kalau sebungkusnya naik Rp 50 ribu, bisa-bisa uang yang disiapkan sampe Rp 15 juta atau Rp 20 juta. Wah, berat itu," kata Asad.

Dengan demikian, sambung Asad, ahli hajat tak akan menyediakan rokok sebagai pelengkap meja tamu. Lambat laun, tradisi nenek moyang tersebut akan hilang dan hanya tinggal cerita.

"Ya pasti begitu. Tradisi-tradisi seperti itu pasti hilang, padahal menarik kearifan lokalnya," imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Sudirman (50), warga Betung, Kecamatan Lubuk Keliat, Ogan Ilir. Menurut dia, pemerintah sebaiknya mengevaluasi rencana tersebut.

"Jika alasannya penerimaan pajak kurang, bisa dicari cela lain, tidak merugikan satu pihak. Saya yakin yang mewacanakan perokok juga, tapi kaya dan pejabat, jadi masih bisa beli rokok walaupun mahal," tukasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP