Kader HMI berulah di kampung orang saat kongres bikin naik pitam

Mereka kecewa merasa diabaikan panitia. Namun malah merusak fasilitas umum dan mengancam orang lain.

Aryo Putranto Saptohutomo
Kader HMI berulah di kampung orang saat kongres bikin naik pitam
Kongres HMI ricuh. ©2015 Merdeka.com/Abdullah Sani

Kongres Himpunan Mahasiswa Islam di Pekanbaru, Riau, tercoreng. Sejumlah kader organisasi itu berulah di kampung orang.Peristiwa itu terjadi sejak Sabtu (21/11) malam. Saat itu, sekitar 3.000-an kader HMI dari Sulawesi Selatan dan Barat terlantar di Kota Pekanbaru. Mereka protes karena tidak dapat penginapan. Namun, mereka malah merusak sejumlah fasilitas di dalam GOR Pekanbaru."Makan kami tidak teratur, dari Tanjung Priok, tidak dikasih makan selama dalam perjalanan. Ada yang makan ada yang tidak. Kalau pun ada, itu yang punya duit pribadi," kata Gazali, mahasiswa HMI dari Makassar, saat berbincang dengan merdeka.com, usai aksi bakar ban di jalan jenderal Sudirman Pekanbaru, Riau.Gazali merasa kedatangannya jauh-jauh dari Sulawesi Selatan diabaikan oleh panitia Kongres HMI Pekanbaru. Gazali mengaku tidak meminta banyak, hanya makan dan tempat tidur."Tapi itu panitia kongres dapat Rp 3 miliar dari Pemerintah Riau, ditambah Rp 4 miliar dari senior HMI, tapi kami ditelantarin, padahal kami disuruh datang," ujar Gazali.Sementara itu, Direktur Intelijen Polda Riau, Kombes Djati Witoyo Abadi, menyesalkan kondisi itu. "Panitia ini enggak siap menerima peserta dari Sulawesi yang banyak. Mereka datang dari jauh, sampai sini panitia enggak ada dilihat," kata Djati.Djati menambahkan, mereka kecewa lalu cari perhatian, kemudian aksi di jalan protokol Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Gedung Olah Raga (GOR). "Kita sudah nego, mereka setuju untuk redam, kita cari panitia kongresnya, dan mereka janji akan mencari solusi penginapan. Ada ribuan mahasiswa dari Sulawesi pakai bus, difasilitasi, tapi sampai sini tidak mendapat perhatian," ucap Djati.Selain merusak fasilitas umum halte bus, mereka menghancurkan lampu taman hias Gelanggang Olahraga Remaja, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Massa ini melempari kaca halte, bahkan sempat memblokir ruas jalan dengan cara membakar tempat sampah yang terbuat dari ban.Bahkan, mereka sempat mengancam akan menghancurkan Gelora Olahraga (GOR) Pekanbaru jika permintaannya tak dipenuhi. Massa sudah lebih dulu merusak sejumlah fasilitas umum, lampu-lampu taman dan kaca-kaca GOR."Kami mendesak penyelenggara segera memberikan penginapan! Kalau enggak diberikan GOR akan akan dihancurkan," teriak Panitia HMI dari Makassar, Ahmad.Ahmad melanjutkan, rombongan kader HMI asal Makassar ini sudah mendapatkan janji dari panitia untuk menyediakan makanan dan penginapan sejak pagi. Namun belum dipenuhi hingga malam ini hingga membuat sebagian besar rombongan resah."Panitia janjikan tiga menit disediakan, sampai sekarang belum ada penginapan," keluh Ahmad.

Sementara itu, Koordinator Publikasi Kongres HMI, Daud mengatakan, panitia tidak bisa menyediakan penginapan bagi rombongan asal Makassar. Mereka beralasan, massa datang lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan, yakni 22-26 November 2015."Sebenarnya ini tidak bisa difasilitasi, kegiatan ini harusnya 22-26 November, berhubung rombongan datang pada 21, jadi enggak difasilitasi. Jadi bukan karena persoalan, tapi teknis," ujar Daud.Sebelum membuat keributan di Kota Pekanbaru, massa HMI asal Makassar juga membikin ulah di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Bahkan, ulah mereka membuat rugi puluhan pemilik warung di Jalan Lintas Timur, Desa Kota Lama, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Inhu, Riau.Ketika itu, ribuan massa HMI Makassar menggunakan 21 bus dari Jakarta hendak menuju Kota Pekanbaru, singgah buat makan siang di Rumah Makan Umega, Desa Kota Lama.Setelah kenyang, massa HMI Makassar hendak menghadiri Kongres HMI di Kota Pekanbaru, tidak membayar makanan telah mereka habiskan. Atas kejadian ini, pihak rumah makan Umega mengalami kerugian mencapai Rp 12 juta.Tak hanya itu, pemilik warung-warung kecil berada di sekitar rumah makan Umega juga turut merugi ratusan ribu rupiah. Sebab, sebagian massa HMI Makassar makan dan minum di warung-warung itu juga tidak membayar."Rombongan HMI itu tidak bersedia membayar tagihan makan dan minuman yang mereka habiskan. Kami rugi hampir Rp 12 juta, belum lagi warung-warung di sekitar kami mengalami hal yang sama," kata pengelola rumah makan Umega, Deddi.Dikatakan Deddi, saat mereka menagih pembayaran, rombongan massa HMI Makassar malah mengancam akan mengamuk. Karena rombongan massa HMI berjumlah banyak, pihak rumah makan Umega dan pemilik warung kecil tidak berani melawan. Mereka langsung melaporkan kejadian ini kepada polisi."Saat kami tagih, mereka menolak membayar karena alasan mereka tidak diserahkan bon. Padahal kami sudah menyerahkan bon. Karena tidak juga mau membayar, sejumlah pelayan kami menahan mereka. Namun rombongan tersebut melawan. Bahkan mereka mengancam akan melakukan tindakan anarkis bila tidak diperbolehkan pergi dari rumah makan kami," ucap Deddi.

Menurut Deddi, pihaknya telah merekam aksi massa HMI Makassar itu melalui kamera pengawas (CCTV). Rekaman itu akan diserahkan kepada pihak kepolisian."Kami punya bukti-bukti rekaman CCTV atas tindakan terlarang para aktivis HMI tersebut," ujar Deddi.Hal sama juga dialami Lilis, salah seorang pemilik warung kecil berada di sekitar Rumah Makan Umega. Dikatakannya, dia mengalami kerugian sekitar Rp 300 ribu akibat ulah kader HMI Makassar itu."Awalnya, rombongan itu turun dari bus yang ada spanduk bertulisan HMI, kemudian mereka memesan makan. Setelah makan, satu per satu mereka pergi begitu saja tanpa membayar. Saat saya tanya soal pembayaran, mereka malah marah dan berkata tidak tahu menahu soal pembayaran," ujar Lilis.Kapolsek Rengat Barat, Kompol Frengky Hutabarat, membenarkan kejadian itu. Dia mengaku mendapat laporan dari pengelola rumah makan Umega secara lisan. Hanya saja saat personel polisi ke lokasi, rombongan HMI Makassar itu sudah pergi."Saya beharap koordinator lapangan atau panitia kongres teman-teman dari HMI dapat menyelesaikan masalah ini. Setidaknya melakukan koordinasi dengan pihak pengelola Rumah Makan Umega," kata Kompol Frangky.Sementara itu, Ketua Panitia Kongres HMI, Ahmad Siregar, saat dikonfirmasi melalui selulernya mengatakan, hanya menjawab diplomatis soal kader HMI Makassar yang makan tanpa membayar. Dia berkelit akan berkoordinasi terlebih dulu dengan penanggung jawab Kongres HMI lainnya. Lantas, jika telah ada keputusan, dia akan bertemu langsung dengan pihak pengelola Rumah Makan Umega. Sayangnya, dia tidak memberikan tenggat waktu kapan hal itu akan dilaksanakan.Tak sampai di situ, massa HMI asal Pinrang, Sulawesi Selatan, merusak mobil Satuan Lalu Lintas Polresta Pekanbaru.Wakil Kepala Polresta Pekanbaru, AKBP Sugeng Putut Wicaksono, mengatakan, tindakan tidak terpuji itu dilakukan massa HMI saat pembagian nasi bungkus dipimpin Kompol Zulanda."Kita sangat sayangkan dengan kejadian tersebut. Semaksimal mungkin polisi berusaha mengakomodir massa namun justru tindakan anarkis yang diberikan," kata Putut.Mobil operasional Satlantas Polresta Pekanbaru itu penyok pada bagian belakang akibat ditendang massa. Menurut Putut, pelaku pengrusakan diperkirakan sejumlah tujuh orang.Aksi itu berawal saat Kompol Zulanda membagikan makan siang kepada massa HMI dari Pinrang. Saat itu massa meminta sebanyak 42 bungkus nasi, sementara petugas menyediakan 50 bungkus. Tanpa alasan jelas, perwakilan massa tiba-tiba marah dan mengaku nasi diberikan kurang.Pasca kejadian itu, Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Aries Syarif Hidayat, memerintahkan ketua rombongan menemui petugas. Saat itu juga, sejumlah massa melakukan perusakan menemui Kombes Aries. Dalam pesannya, Kombes Aries menyesalkan perbuatan itu.

"Kita sudah berupaya membantu rekan-rekan sejak tadi malam. Kenapa ini dibiarkan terjadi?" kata Aries.Tingkah kaderh korps hijau hitam itu membikin Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak senang. Dia menyebut kader HMI tidak boleh mengutamakan emosi ketimbang logika."Anda datang di sini (kongres) sebagai insan akademis yang mendahulukan akal, mendahulukan logika, perilaku yang baik, pikiran, inovasi, dan persatuan bangsa. Bukan mendahulukan marah-marah. Itulah kader HMI," kata JK, sapaan Jusuf Kalla, saat menghadiri acara kongres di Hotel Labersa, Pekanbaru.Tanpa akal sehat, lanjut JK, semua persoalan tidak akan terselesaikan. Termasuk persoalan bangsa."Harus pakai akal sehat, inovasi, semangat persatuan bangsa. Kalau tidak ada semangat persatuan, bangsa ini tidak akan bersatu. Kita semua menjaga bangsa ini ke depan," ujar JK.Ulah kader HMI dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat juga menuai kecaman dari kalangan organisasi masyarakat setempat. Sebab, aksi mereka sudah dianggap mengarah ke tindakan anarkis, dengan melempari kaca halte bus dan kaca dinding gedung GOR, serta meresahkan masyarakat Pekanbaru.Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau menilai aksi kader HMI itu sudah tidak beradab. Sebab, mestinya sebagai tamu mereka menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral saat berada di wilayah lain."Mereka (HMI Makasar) itu tamu. Aksi mereka dengan merusak fasilitas umum itu kerja tak beradat. Semua aturan adat ditabrak, apapun alasan mereka," kata Ketua Harian LAM Riau, Al Azhar.Menurut Al Azhar, sikap tidak baik ditunjukkan oleh gerombolan HMI dinilai sebagai perbuatan yang tidak beretika."Meraja-raja di kampung raja, aturan adat apa yang mereka pakai? Merusak di kampung orang lain," ucap Al Azhar.Al Azhar menilai, gerombolan HMI itu terpisah dari kegiatan Kongres HMI ke-29 berlangsung di Labersa Hotel, Kampar itu."Mereka tidak terdaftar, dan bukan bagian dari kongres," lanjut Al Azhar.


Al Azhar meminta aparat kepolisian dan pemerintah daerah mengusir gerombolan perusuh ini, karena telah berbuat anarkis di Ibukota Provinsi Riau. Al Azhar mengingatkan, jika tidak diusir, maka tidak dapat disalahkan jika nantinya organisasi kemasyarakatan yang ada di Riau kesal terhadap ulah mereka."Sebaiknya aparat ekstradisi (usir) mereka dari Riau. Sejumlah ormas menelepon saya, mereka tidak senang. Itu kita minta aparat keamanan dengan aparatur pemerintah untuk mengeluarkan mereka dari Riau, sebelum ormas-ormas di Riau ini mengusir mereka," ancam Al Azhar.Karena aksi kader HMI dikhawatirkan akan lebih merusak fasilitas lainnya, maka polisi memindahkan mereka dari GOR Sudirman yang dirusak, ke Kampus Universitas Riau (UR) di Jalan Patimura Gobah.Al Azhar menyatakan menghormati Kongres HMI ke-29 di Hotel Labersa dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, dia tidak bisa mentolerir jika ada sekelompok orang yang melakukan teror di Riau."Kita menghormati acara itu, tetapi itu kejadian itu terpisah. Yang kita maksud itu gerombolan yang di Gobah (Kampus UR), balikkan saja mereka. Kongres itu silakan berjalan," lanjut Al Azhar."Kalau sudah menabrak aturan hukum dan aturan adat, jangan salahkan kalau orang kampung mencari mereka sekarang," tutup Al Azhar.

Rekomendasi