Mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Komisaris Jenderal (Purnawirawan) Polisi Susno Duadji tiba-tiba menjadi buah bibir di media sosial. Mantan perwira tinggi kepolisian itu kini menjadi petani.Susno mengaku bertani dengan menggarap lahan milik kedua orangtuanya, seperti kebun, sawah, pekarangan dan kolam ikan di Pagar Alam, Sumatera Selatan."Sawah ini adalah warisan orangtua saya yang juga petani, luasnya tidak seberapa. Sekarang saya garap sendiri, benaran loh!" tulis Susno lewat akun Facebook miliknya, Selasa (24/5).
Susno Duadji ©Facebook/Susno Duadji
Saat masih aktif, Susno memang salah satu jenderal yang kontroversial. Susno dikenal akibat ucapan cicak versus buaya saat berseteru dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu Susno juga disebut- sebagai jenderal yang berani menghapuskan organisasi legendaris Gajah Oling. Saat masih jayanya, Gajah Oling sangat terkenal di kalangan pemilik jasa angkutan barang. Hampir semua truk angkutan barang di Pantura dan jalur selatan pasti menempelkan tulisan Gajah Oling.
Advertisement
Gajah Oling sendiri merupakan anak koperasi pembekalan angkutan (bekang) Kodam V Brawijaya. Organisasi ini mulai didirikan sejak krisis 1998 oleh Mayor (pur) Kacuk Sukiran. Saat mendirikan Gajah Oling Kacuk Sukiran masih berpangkat kapten.Perang terhadap beberapa organisasi pungli itu Susno sampaikan saat menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pada tahun 2008. Begitu menjadi Kapolda, Susno langsung mengumpulkan seluruh Polres dan Polsek se-Jabar."Saya sudah mengumpulkan kapolres dan kapolwil untuk mendata organisasi pungli ini. Saya juga sudah memperingatkan di koran, tidak boleh lagi ada pungutan liar," kata Susno di halaman kantor Polda Jabar, Senin (17/3/2008).
Gajah Oling ©istimewa
Susno menjelaskan, perintah pembasmian organisasi pelaku pungli ini harus segera dilakukan dan diusut sampai tuntas. "Hari ini dimulai. Sangkar mereka harus diusir. Tulisan di mobil seperti Kotikam, Gajah Oling dan lainnya harus dihapus. Kalau ada yang marah, justru itu yang kami cari," kata Susno.Sejak genderang perang itu ditabuh, Polisi langsung melakukan razia terhadap stiker-stiker atau tulisan di badan truk. Sebelumnya banyak truk yang ditulisi Kotikam dan juga Gajah Oling.
Advertisement
Ketua Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) Jabar Andriansyah saat itu mengatakan, tulisan-tulisan di pantat truk bertuliskan Gajah Oling, Kotikam dan sebagainya bukan tanpa maksud. Untuk bisa menuliskan 'Gajah Oling' di pantat truk, pengusaha atau pemilik truk harus menyetor uang perbulan. Bila truk tidak ditulisi, maka truk-truk itu akan menjadi sasaran perampokan kawanan bajing loncat.Besaran pungutan liar ini bervariasi bergantung pada jenis kendaraan. Untuk kendaraan jenis kontainer dikenakan pungutan Rp 300.000 per bulan per unit. Adapun untuk kendaraan boks atau barang dikenai pungutan Rp 250.000-Rp 350.000 per tahun.
Gajah Oling ©istimewa
"Kalau tidak dikasih, mereka mengancam akan mengganggu perjalanan atau pengiriman barang," papar Andriansyah kala itu.Hal ini yang membuat Kapolda Susno ingin membongkar praktik pungli angkutan truk ini. Sejak saat itu organisasi-organisasi pungli seperti Gajah Oling pun mulai meredup dan akhirnya mati.