Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bisnis jual beli anak ayam berwarna, kalau mati bisa ditukar lagi

Bisnis jual beli anak ayam berwarna, kalau mati bisa ditukar lagi Anak ayam warna-warni. ©2016 Merdeka.com/dede rosyadi

Merdeka.com - Pedagang anak ayam kini tidak hanya menjual dengan kemasan polos. Namun, demi menghasilkan untung besar, para pedagang tega mewarnai anak ayam dengan zat pewarna tekstil yang membahayakan kesehatan. Alhasil banyak anak ayam yang mati secara mengenaskan akibat keracunan zat pakaian itu.

"Ya namanya jualan. Anak ayam yang diwarnain ini kan buat di jual lagi ke anak-anak sekolah buat mainan. Malahan yang laku yang ini (anak ayam dikasih warna). Yang polos kurang menarik buat anak-anak," kata Ati (47), salah satu agen bibit ayam yang berada di Jakarta Timur, saat ditemui merdeka.com, Selasa (29/3).

"Kita jual secara grosir dan per-ekor juga bisa. Bisa dipesan warna anak ayam apa yang mau. Karena kita warnain sendiri di sini," imbuhnya.

Ati mengaku menjual per ekor anak ayam warna warni Rp 2.500. Jika membeli dengan jumlah banyak (satu kardus bibit ayam 150 ekor) Rp 250 ribu. Jika membeli dengan partai besar akan dikasih bonus dua ekor anak ayam.

"Harganya sama. Anak ayam polos dengan anak ayam warna warni itu per-ekor Rp 2.500. Kalau beli seboks anak ayam ya Rp 250 ribu, bisa kita kasih diskon Rp 10 ribu jadi Rp 240 ribu.

Bisa dijual lagi ke anak-anak sekolah kan untungnya gede tuh," beber Ati.

Solihin (51), salah satu pembeli bibit ayam warna warni di kios Ati ini mengaku sudah langganan beli anak ayam untuk dijual kembali ke sekolahan SD dan keliling kampung.

"Beli anak ayam buat dijual lagi ke anak-anak sekolahan SD. Keliling kampung jualan pakai sepeda. Lumayan laku sehari beberapa ekor ke jual anak ayam yang warna warni ini," ucap Solihin.

Namun, Solihin mengeluh jika anak ayam warna warni yang dibelinya itu tidak bertahan lama dan sering mati karena zat pewarna yang menempel di tubuh ayam.

"Anak-anak sih pada suka ayam yang warna warni. Kan menarik tuh, tapi nggak tahan lama, cepet lemes, sakit. kalau udah begitu pasti mati," beber Solihin.

Lanjut, Solihin memaparkan jika anak ayam yang dibelinya itu sakit maka dia akan menukar kembali ke kios Ati.

"Anak ayam yang sakit kita balikin ke kios. Minta tukar yang agak sehatan, kan buat dijual lagi. Kalau anak ayam yang sakit dipisahin ya nunggu mati ajah. Abis mau gimana lagi," tutur Solihin.

"Tadi ada tiga yang sakit. Saya pulangin ke kios, taruh ajah di kardus nggak dirawat lagi. Ya biasanya bakal mati, nggak ada harapan hidup kalau udah sakit," sambung Solihin.

Dari pantauan merdeka.com, para pedagang eceran banyak membeli anak ayam warna warni di kios Ati. Mereka membeli dengan cara harga satuan dan bebas memilih. Anak ayam itu akan dijual ke anak sekolahan dengan harga per ekor sekitar Rp 5000.

Para pedagang terpaksa membeli anak ayam warna warni karena lebih disukai anak-anak meski warna itu membahayakan hewan demi keuntungan mereka mengabaikan hal tersebut.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP