Mantan aktivis 98, Ubedilah Badrun menanggapi pertemuan sejumlah aktivis mahasiswa dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan beberapa waktu lalu. Dia mengaku kecewa dengan gerakan mahasiswa dewasa ini yang kerap terperdaya oleh tangan-tangan kekuasaan.Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta itu menegaskan, sikap manis yang ditunjukkan pihak Istana kepada para mahasiswa itu sesungguhnya merupakan akal bulus penguasa yang ingin meredam gerakan mahasiswa."Itu hiburan dari Istana untuk mahasiswa, sekaligus kesempatan bagi Istana memecah belah mereka. Mahasiswa sesungguhnya telah banyak berkorban, konsolidasi mengumpulkan mahasiswa, menggerakannya dengan pengorbanan waktu, tenaga, keringat, fisik, pikiran dan finansial. Tapi mereka lalai, keliru langkah, karena ujungnya malah memberi panggung untuk Istana," ujar Badrun saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5)."Bahkan kenyataannya mahasiswa kini malah berlaga seperti pegawai yang mempersilakan tuan Istana," katanya menambahkan.Badrun mengatakan, sebenarnya momentum peringatan 17 tahun reformasi merupakan kesempatan bagi mahasiswa, untuk kembali menunjukkan 'taring' gerakannya seperti saat era '98."Tetapi sayangnya, substansi gagasan perlawanannya belum sampai pada ranah ideologis, masih gerakan populis di area front stage. Di saat yang sama mahasiswa juga tak menyadari, saat ini sedang ada kontestasi kekuatan antara pihak Istana dengan Teuku Umar," ujar Badrun."Gerakan mahasiswa berhasil dimanfaatkan Istana dengan sangat baik. Menjadi panggung mereka tanpa secarik kertas pun komitmen yang ditandatangani antara Istana dan mahasiswa. Misi menculik orang nomor satu Istana gagal apalagi menjatuhkannya," pungkasnya.
Aktivis 98 kecewa gerakan mahasiswa mudah diperdaya kekuasaan
Sejumlah aktivis mahasiswa beberapa waktu lalu dijamu Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan.
Rekomendasi