Sudah dua hari ini wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya mengalami hujan cukup deras dan suhu udara cukup dingin. Jika dilihat dari peta cuaca, seharusnya Jabodetabek masih dalam musim kemarau. Tapi kenyataannya berbeda, sama seperti saat kemarau sebelumnya yang disebut kemarau basah.
Deputi Bidang Meteorologi, Drs. Mulyono R. Prabowo, M.Sc., menjelaskan tentang fenomena cuaca yang berbeda ini, seperti dikutip dari website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika:
Advertisement
Menurut Prabowo, hujan bisa saja turun saat kemarau. Hal itu disebabkan adanya kelembapan udara yang tinggi.
"Pada saat musim kemarau, hujan dapat dimungkinkan terjadi jika kondisi atmosfer terpenuhi antara lain supplay uap airnya, kelembapan udara yang relatif masih tinggi dan sebagainya." kata Mulyono, seperti dikutip dari website BMKG, Senin (25/6).
Advertisement
Fenomena ini juga dipengaruhi dengan meningkatnya aktivitas cuaca, yang juga didukung dengan aliran massa udara basah atau fenomena skala regional Madden Julian Oscilation (MJO) atau fenomena gelombang atmosfer tropis yang merambat ke arah timur dari Samudera Hindia sebelah barat Sumatera yang masuk ke wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.
Advertisement
Prabowo menambahkan, kondisi ini juga berkaitan dengan berkembangnya daerah pusaran angin di sekitar wilayah Samudera Hindia barat Sumatra dan Selat Makassar yang memicu pemusatan massa udara, daerah belokan atau perlambatan angin dan jalur pertemuan angin (konvergensi) serta dorongan massa udara kering dari wilayah Selatan yang dapat memicu pertumbuhan awan yang signifikan.