Sejarah telah diukir oleh PT Astra International Tbk di industri otomotif nasional. Lewat dua merek otomotif yang dinaunginya, Toyota dan Daihatsu, sejarah baru ini ditulis Astra dengan meluncurkan mobil kembar, Astra Toyota Calya dan Astra Daihatsu Sigra, pada Agustus lalu. Ini mobil segmen low cost green car (LCGC) dengan kapasitas 7 penumpang. Ini adalah kolaborasi kedua untuk produk otomotif, yang mencantum nama Astra sebagai merek mobil, setelah Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla (mobil LCGC 5 penumpang). Menghabiskan investasi Rp 2,4 triliun, mobil kembar anyar ini melibatkan 178 pemasok lokal tingkat pertama dan 890 pemasok lokal tingkat kedua. Walhasil, tingkat kandungan lokal Astra Toyota Calya dan Astra Daihatsu Sigra sangat tinggi, 94 persen. "Tingkat kandungan lokalnya 94 persen dan tenaga kerja yang terserap mencapai 600.000 orang," ujar Sudirman MR, Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor, sekaligus Direktur Astra International, saat public launching Calya-Sigra.Sejatinya, mobil kembar Astra Toyota Calya dan Astra Daihatsu Sigra adalah kolaborasi keempat dari Toyota dan Daihatsu di Indonesia. Setelah model Avanza-Xenia pada 2003, Rush-Terios (2006), dan Agya-Ayla (2013) - mobil LCGC pertama di Indonesia. Kolaborasi dua merek di bawah payung Astra ini makin menjejakkan lebih dalam perusahaan ayang akan berusia 60 tahun di 2017 di industri otomotif nasional. Kolaborasi ini juga terbukti sukses sebagai strategi jitu perusahaan yang dibangun oleh William Soerjadjaja pada 1957, untuk selalu dominan di pasar otomotif Indonesia. Laporan penjualan otomotif Astra Grup yang diterima Merdeka.com menegaskan dominasi itu. Per Oktober 2016, total penjualan mobil Astra Grup mencapai 477.691 unit. Meraih pangsa pasar 55 persen, Toyota dan Daihatsu berkontribusi terbesar, masing-masing 310.153 unit dan 153.114.Bukti lainnya, mobil kolaborasi pertama, Avanza-Xenia, terus memimpin pasar mobil low MPV di Indonesia. Bahkan Avanza mencetak rekor sebagai mobil dengan penjualan 1 juta unit paling cepat dalam sejarah industri otomotif nasional. Hanya perlu waktu sekitar 10 tahun, tepatnya pada 2014 Toyota Avanza menjadi mobil terpopuler dengan populasi 1 juta unit di republik ini. Bandingkan dengan Toyota Kijang yang semula ditasbihkan sebagai mobil terpopuler di Indonesia, perlu butuh waktu 36 tahun untuk mencapai penjualan 1,5 juta unit.Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kini populasi Avanza di tanah air mencapai 1,49 juta unit dengan pangsa pasar rata-rata di atas 40 persen.Kesuksesan model Avanza-Xenia ini tampaknya berlanjut ke model Astra Toyota Agya dan Astra Daihatsu Ayla, sebagai mobil LCGC pertama di pasar. Sejak 2013 hingga September 2016, Agya mencatat total penjualan lebih dari 183 ribu unit, dengan pangsa pasar rata-rata hampir 40 persen per tahun. Data Gaikindo juga menyebutkan dominannya Toyota dan Daihatsu di segmen LCGC. Per Oktober tahun ini, pangsa pasar Astra di segmen mobil kecil ramah bahan bakar ini mencapai 67 persen dengan penjualan 123.267 unit. Ditambah model anyar Astra Toyota Calya dan Astra Daihatsu Sigra yang dirilis Agustus lalu, besar kemungkinan Astra memimpin lagi pasar mobil segmen LCGC nasional. Apalagi harga jualnya terjangkau mulai Rp 106 juta - Rp 150 juta per unit, tapi dengan fitur lengkap untuk sebuah LCGC 7 penumpang. "Keberhasilan pemasaran Toyota di pasar nasional menempatkan Indonesia sebagai pasar keempat terbesar Toyota di dunia, setelah negara besar Jepang, Amerika Serikat, dan China," ujar Henry Tanoto, Vice President Director PT Toyota-Astra Motor, saat perayaan 45 Tahun Toyota Indonesia, baru-baru ini. Kata Henry, hingga kini mobil Toyota sebagai mobil populasi terbesar di Indonesia dengan angka sekitar 4,9 juta unit. Volume itu datang lebih dari 22 model ditambah dengan 8 model Lexus.
Advertisement
Nah, bagaimana kinerjanya secara keuangan? Bisnis otomotif yang notabene bisnis tradisional Astra Grup terus bertumbuh, di saat bisnis lainnya meredup di tahun ini. Menurut laporan keuangan Astra International per kuartal III 2016, laba bersih bisnis otomotif Astra naik 12 persen menjadi Rp 6 triliun. Berkontribusi sekitar 53 persen terhadap total laba bersih Astra yang tercatat Rp 11,3 triliun. Kenaikan laba bersih itu ditopang kenaikan penjualan sebesar 10 persen menjadi 422 ribu unit. Total ada 10 model baru dan 7 model revamped sepanjang tahun ini yang mendorong pertumbuhan penjualan tersebut. Perlu diingat, meski Toyota dan Daihatsu menjadi kontributor terbesar, bisnis otomotif Astra Grup juga ditopang merek-merek lain, seperti Isuzu, UD Trucks, Peugeot, Honda (sepeda motor), dan PT Astra Otoparts Tbk (komponen otomotif). Strategi TepatKukuh Kumara, Sekretaris Jenderal Gaikindo, berpendapat Astra mampu menjaga merek-merek otomotifnya dengan baik, seperti merek Toyota yang sangat populer di sini. Kemudian kombinasi strategi harga jual yang tepat dan kemampuan memenuhi selera masyarakat membuat penjualan produk otomotif Astra Grup senantiasa bersemi di Tanah Air. "Jangan lupakan jaringan purnajual. Ini faktor dominan keberhasilan sebuah brand di Indonesia. Saat ini, menjual mobil, bukan saja menjual produk, tapi juga menjual layanan," ucap Kukuh kepada Merdeka.com. Saat ini jaringan diler Toyota di seluruh Indonesia mencapai 292 outlet termasuk Auto2000 milik Astra Grup. Sedangkan Daihatsu mencapai 222 outlet.
Astra International ©2016 Merdeka.com
Secara umum, kata Kukuh, Astra Grup berperan signifikan bagi industri otomotif nasional. Kontribusinya cukup besar, yang mana satu merek otomotif di bawah Astra Grup saja memiliki pangsa pasar lebih 30 persen. Selain itu, kelompok usaha besar ini juga memiliki industri komponen otomotif. Gaikindo juga mencatat Astra Grup berkontribusi memperbesar volume pasar otomotif domestik selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Lewat peluncuran model-model baru menarik seperti Avanza-Xenia yang bahkan menciptakan segmen baru, yakni low MPV. Di periode 2005-2015, volume pasar otomotif Indonesia tumbuh rata-rata 11,4 persen per tahun. Dari 533.917 unit pada 2005 menjadi 1.013.291 pada 2015 alias tumbuh dua kali lipat.Dengan volume rata-rata 1 juta unit per tahun sejak 2012, kini Indonesia menjadi pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Mengalahkan Thailand yang memiliki volume 799.632 unit di tahun lalu.
"Sambil memperhitungkan kontribusi merek lain, Astra Grup memiliki kontribusi penting memperbesar volume pasar otomotif nasional, yang mencapai satu juta unit sekarang. Astra meluncurkan produk-produk baru yang memang dicari konsumen otomotif Indonesia," ujarnya. Gaikindo berharap, ke depan Astra Grup teguh di barisan terdepan untuk meningkatkan kapasitas produksi industri otomotif nasional yang kini mencapai 1.098.780 unit. "Caranya, dengan berorientasi pada penjualan ekspor," pungkas Kukuh.
Advertisement
Advertisement
Kekuatan LokalisasiKeberhasilan Astra International di jagat otomotif nasional tak lepas dari kekuatan strategi lokalisasinya. Sejak awal kelompok usaha besar ini berdiri, kesadaran terhadap strategisnya lokalisasi produk otomotif di dalam negeri sudah terpatri dalam pandangan bisnis para pendiri Astra. Lihat saja sejarah pendirian PT Multi Astra pada 1973, sebagai perusahaan perakitan kendaraan pertama Toyota, yang kini dikenal sebagai Pabrik Sunter I. Kemudian PT Toyota Mobilindo pada 1977 sebagai perusahaan pembuat komponen bodi, PT Toyota Engine Indonesia sebagai perusahaan pembuat mesin tipe 5K. Ketiga pabrik itu dibangun dengan visi besar bahwa lokalisasi produk otomotif adalah modal dan kekuatan untuk sukses di bisnis otomotif nasional.Dari fasilitas lokalisasi itu, lahirlah Toyota Kijang Generasi I produksi 1977 adalah mobil pertama made in Indonesia. Meski kandungan lokalnya saat itu baru 19 persen. Kini, kekuatan lokalisasi otomotif Astra Grup itu bermetamorfosis lewat kehadiran PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Astra Daihatsu Motor (ADM).
ADM memiliki dua pabrik di Sunter dan Karawang, masing-masing berkapasitas 330 ribu unit per tahun dan 200 ribu unit. Sehingga total kapasitasnya 530 ribu unit per tahun dan menjadi pabrik otomotif terbesar di Indonesia. Di pabrik ADM pula mobil-mobil kolaborasi Toyota-Daihatsu diproduksi, seperti model Avanza-Xenia, Rush-Terios, dan Astra Toyota Agya-Astra Daihatsu Ayla. Hingga kini mobil Daihatsu made in Indonesia juga diekspor ke 52 negara di dunia.
Sementara TMMIN memiliki pabrik di Karawang dengan kapasitas produksi 250.000 unit per tahun. Total ada enam model kendaraan diproduksi TMMIN, yaitu Toyota Fortuner, Kijang Innova, Sienta, Vios, Yaris, dan Etios. Tingkat kandungan lokalnya semakin tinggi, berkisar 60 persen hingga 85 persen dari 139 pemasok lokal first tier. Warih Andang Tjahjono, Vice President Director TMMIN, menyatakan tantangan pihaknya adalah menambah tingkat kandungan lokal dari pemasok lokal terutama di level third tier. Sebab pemasok di level ini kebanyakan usaha kecil dan menengah (UKM). "Bagaimana pemasok lokal skala UKM ini kami bisa angkat dan masuk menjadi salah satu dalam mata rantai pemasok global Toyota di Indonesia. Ini tantangan kami demi terus menambah kandungan lokal mobil Toyota produksi Indonesia," ungkap Warih. Mobil Toyota produksi TMMIN juga diekspor ke mancanegara. Sejak ekspor perdana di 1987, saat ini rataârata volume ekspor kendaraan utuh Toyota dan grup mencapai 12.000 unit per bulan. Pada tahun lalu, ekspor mobil Toyota made ini Indonesia mencapai 176.700 unit, setara 85% dari total ekspor kendaraan utuh Indonesia. Per September 2016, total volume ekspor mobil Toyota menembus angka 1 juta unit, tepatnya 1.001.726 unit. Selain kendaraan utuh, Toyota Indonesia juga mengekspor dalam bentuk kendaraan terurai atau complete knock-down (CKD). Produk-produk ekspor tersebut dikapalkan ke lebih dari 80 negara di dunia. Kinerja ekspor ini pun menuai penghargaan dari Bank Indonesia pada 2015, sebagai perusahaan Pelapor Devisa Hasil Eskpor Terbaik dengan pencatatan nilai ekspor US$ 2 miliar dengan angka akumulasi lebih dari US$ 15 miliar."Kinerja ekspor ini menunjukkan bahwa fasilitas produksi dan kompetensi sumber daya manusia Toyota Indonesia sudah bisa disejajarkan dengan standar global," pungkasnya.