Pakai Lahan Bekas Tambang, Desa di Kuningan Bantu Kurangi Impor Kedelai

Bahkan di akhir Maret 2021 lalu, Desa Cibulan turut menjadi daerah percontohan berskala Nasional melalui kegiatan 'Gerakan Tanam Kedelai Program Peningkatan Produksi dan Produktivitas melalui Pengembangan Kemitraan dan Pemasaran APBN Tahun 2021' untuk mengurangi impor kedelai dari luar.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Pakai Lahan Bekas Tambang, Desa di Kuningan Bantu Kurangi Impor Kedelai
Gerakan menanam kedelai di Desa Cibulan Kuningan. ©2021 kuningankab.go.id/ Merdeka.com

Di tengah mahalnya harga kedelai, sejumlah usaha terus dilakukan untuk menekan ketergantungan impor. Seperti halnya yang dilakukan oleh Desa Cibulan, di Kuningan, Jawa Barat.

Desa yang berada di kaki Gunung Ciremai tersebut belakangan tengah fokus untuk menggalakkan penanaman kacang kedelai. Hal tersebut sebagai upaya pemenuhan kebutuhan nasional lewat gerakan tanam bersama.

Seperti dilansir dari kuningankab.go.id, Selasa (08/06) gerakan tersebut dilakukan petani setempat dengan memanfaatkan lahan kontraproduktif bekas tambang pasir yang terbengkalai.

“Dilihat dari potensi nya, Kabupaten Kuningan ini sangat luar biasa, bisa kita dorong untuk jadi salah satu sentral kedelai yang ada di Provinsi Jabar.” ujar Direktur Akabi Subdit Kedelai Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Kementrian Republik Indonesia, Mulyono beberapa waktu lalu.

Bisa untuk Memenuhi Kebutuhan Desa Cibulan

Sementara itu, Iwan selaku Kepala Desa Cibulan mengungkapkan, gerakan menanam kacang kedelai sudah dijalankan sejak tahun 2018 lalu.

Dirinya berharap jika kegiatan tersebut bisa ikut membantu pemenuhan kebutuhan suplai kedelai di wilayah desanya, hingga Kabupaten Kuningan secara luas, dengan rata-rata mencapai 1,5 ton per hektare.

"Pemerintah Kabupaten Kuningan telah menanam bibit kedelai di lahan bekas galian pasir. Penanaman kedelai merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan produktivitas kacang kedelai di Kabupaten kuningan yang rata-rata mencapai 1,5 ton/hektare. Hasil kedelai tersebut minimal dapat untuk memenuhi kebutuhan desa Cibulan sendiri," ungkapnya.

Petani Jadi Lebih Sejahtera

Salah satu yang merasakan keuntungan gerakan tersebut adalah Tarpin.

Menurut pria yang juga sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cinta Asih Desa Cibulan itu, kedelai lokal berjenis Anjasmoro tersebut telah mampu mensejahterakan kehidupan mereka.

Hasil panen terakhir pun disebutnya mampu menghasilkan hingga sekitar 4 ton kacang kedelai, dari 4 hektare lahan yang digarap.

"Panen terakhir dapat 4 ton. Saya jualnya bertahap. Saya garap lahan dengan luas 4 hektare," ujar Tarpin.

Tarpin mengatakan, mulanya warga di Cibulan diajak oleh Pemerintah Desa Cibulan untuk mengikuti program penanaman kedelai.

Dalam program tersebut warga difasilitasi untuk langsung menanam bahan utama pembuat tahu dan tempe itu.

Keuntungan pun terus dirasakan warga, karena fasilitasnya sudah dipenuhi Pemdes dan proses menanamnya tidak memerlukan banyak air.

Membuat Lahan Mati Jadi Produktif

Selain memajukan petani setempat, keuntungan gerakan menanam kedelai di lahan-lahan bekas tambang pasir turut memperbaiki ekosistem tanah.

Menurut Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Cibulan, Udin Suhardin ditemui di tempat terpisah mengungkapkan jika kegiatan penanaman kedelai di tanah berpasir dan berkerikil mampu membuat lahan tersebut menjadi gembur dan bisa ditanami tumbuhan lain.

"Provitas ini masih belum maksimal. Langkah kita untuk meningkatkannya pakai kapur dan pupuk. Ini awalnya galian pasir. Jadi masih banyak kerikil. Tapi sekarang sudah jadi gembur karena ditanami kedelai," jelas Udin.

Menjadi Percontohan Nasional

Udin menambahkan, kemajuan kedelai di Desa Cibulan tak bisa lepas dari peran penting Pemdes Desa Cibulan yang aktif memberikan bantuan seperti benih, lahan, dan pupuk lewat BUMDes.

Selain itu, adanya sinergis melalui pembelian produk kedelai oleh pihak desa turut memicu semangat warga mengembangkan komoditas kedelai. Disebutnya jika tahun ini akan dikembangkan jenis kedelai lain yakni, varietas Grobogan yang memiliki ukuran lebih besar.

"Tahun 2018 sebanyak 50 hektare yang ditanam kacang kedelai, tahun 2019 sebanyak 50 hektare. Tahun 2018 provitas kacang kedelai 1,2 ton per hektare. Tahun 2019 provitasnya 1,4 ton per hektare. Tahun 2020 lalu, tanam 100 hektare. Provitasnya 1,43 ton per hektare," bebernya

Bahkan di akhir Maret 2021 lalu, Desa Cibulan turut menjadi daerah percontohan berskala Nasional melalui kegiatan 'Gerakan Tanam Kedelai Program Peningkatan Produksi dan Produktivitas melalui Pengembangan Kemitraan dan Pemasaran APBN Tahun 2021' untuk mengurangi impor kedelai dari luar.

"Ke depan, dengan adanya bantuan teknologi diharapkan produktivitas naik menjadi 2 ton per hektare, untuk itu perlu dukungan dari dinas dan instansi terkait untuk terus mencoba terobosan pengelolaan lahan-lahan tersebut," terang Bupati Kuningan, Acep Purnama.

Rekomendasi