Untung mana main saham atau simpan uang di deposito?

Jumat, 6 Maret 2015 08:34 Reporter : Novita Intan Sari
Untung mana main saham atau simpan uang di deposito? saham. Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Investasi menjadi salah satu strategi menyimpan 'uang lebih' dengan bonus imbal hasil di kemudian hari. Investasi dinilai penting untuk kehidupan masa depan. Jenis investasi pun semakin beragam.

Director of Business Development Manulife Putut Endro Andanawarih mengatakan saat ini investasi yang paling diminati adalah investasi di pasar modal. Alasannya, investasi ini menjanjikan keuntungan tinggi untuk jangka panjang. "Investasi terbaik di pasar modal terbaik," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/3).

Namun belum banyak masyarakat yang terjun dan menanamkan uangnya di pasar modal. Salah satunya karena investasi di pasar modal dinilai penuh risiko. Masyarakat sudah jauh lebih pintar memilih investasi. Mereka lebih memilih menyimpan uang di deposito yang bisa disebut tanpa risiko.

Masyarakat lebih memilih deposito karena cenderung lebih aman meskipun tingkat pengembalian keuntungan sangat minim. Perbankan hanya memberikan return deposito maksimal 7 persen.

"Pasar modal terbaik di dunia tapi investor menaruh ke deposito. Tapi saya pikir deposito lebih ditinggal maka disuruh investasi lain. Makanya jika mau memindahkan investasi dari deposito ke tempat lain harus hati-hati, cari investasi yang sesuai dengan tingkat risikonya dia. Yang ada mencari investasi bodong, yang tidak diawasi ke OJK," jelas dia.

Putut mengingatkan, pada dasarnya semua jenis investasi selalu dekat dengan risiko. Dia menyarankan agar tidak membeli produk investasi yang tidak dimengerti.‭ Sebelum melakukan investasi,‭ ‬berbagai sumber informasi hendaknya dipelajari terlebih dulu. Mulai dari buku, referensi,‭ ‬majalah atau buletin bisnis dan keuangan,‭ ‬hasil riset dari lembaga keuangan atau konsultasi dengan seorang penasihat investasi.

"Kita harus investasi, kalau risiko tinggi maka returnnya tinggi, untuk mengurangi risiko tadi harus belajar. Kenal instrumen, risiko bagaimana. Impian orang returnnya tinggi risiko rendah, itu tidak ada. Sah saja orang deposito di perbankan, tapi nyatanya investor Indonesia maunya returnnya tinggi tapi pengetahuannya kurang jadi gelap mata sehingga menimbulkan instrumen yang bodong jadi dibeli. Investasi jangan semua, cari yang baik," tutupnya. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Investasi
  2. Tips Investasi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini