Tanggapan Bos BPJT soal Pengerjaan Proyek Skema KPBU Tak Untungkan Swasta

Rabu, 20 Maret 2019 20:33 Reporter : Merdeka
Tanggapan Bos BPJT soal Pengerjaan Proyek Skema KPBU Tak Untungkan Swasta pertumbuhan ekonomi. merdeka.com /Arie Basuki

Merdeka.com - Kepala Badan Pembangunan Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit menjawab tudingan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang menilai pembangunan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) cenderung kurang menguntungkan bagi pihak kontraktor swasta.

Danang menganggap, pernyataan itu kurang tepat lantaran belum mempertimbangkan tren pembiayaan pihak kontraktor yang banyak diambil dari pinjaman bank.

"Saya tadi juga ceritakan, pinjaman itu semakin lama semakin terbatas, meskipun banyak juga bank swasta yang sudah mulai masuk. Tapi kan kita punya ceiling yang terbatas, yang sekarang kecenderungannya akan banyak itu CPF, Contractor Pre Financing," jelasnya di Jakarta, Rabu (20/3).

Sebagai contoh, kontraktor yang bekerja pada sebuah proyek otomatis akan memiliki sub kontraktor, yang juga lantas bergantung pada supplier. Skema tersebut yang kemudian disebutnya membutuhkan seluruh sektor industri untuk ikut bergerak.

"Mungkin yang dimaksud bahwa tidak banyak swasta yang menjadi pemain utama, itu mungkin iya. Karena sekarang kan kita lihat saja, secara IRR (Internal Rate of Return) di Sumatera itu kan di bawah tingkat pinjaman bank. Mana ada mau private sektor masuk ke sana," sambungnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Infrastruktur, Erwin Aksa menyebut bahwa perhitungan kelayakan implementasi bisnis (Feasibility Studies/FS) Untuk berbagai proyek infrastruktur seringkali meleset dari kenyataan.

Itu terjadi untuk proyek infrastruktur jalan tol melalui skema KPBU. Dia mengkritik bahwa prediksi jumlah kendaraan yang melintasi suatu tol baru kerap di bawah perhitungan awal, sehingga tak bisa menambal investasi yang digelontorkan pihak operator.

Merespons hal tersebut, Danang menyerukan, argumen itu belum sepenuhnya pas. "Menurut saya bukan enggak benar tapi belum standar. Belum semua konsultan itu punya kompetensi dan kemampuan yang sama untuk melakukan prediksi," ungkapnya.

"Tadi kan ada yang dari prediksi, secara realisasi hanya 50 persen. Tapi ada yang justru realisasinya lebih, seperti Cikopo-Palimanan, prediksi berbanding realisasi kan lebih banyak realisasi," dia menambahkan.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [idr]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini