Tak Punya Modal Bisnis FnB, Perempuan Asal Papua Ini Nekat Bangun Rumah Makan Khas Jogja dengan Omzet Rp55 Juta Per hari
Dia pernah kecewa terhadap Tuhan karena wawancara kerjanya gagal menjadi pramugari.
Perempuan di usia 55 tahun, bukan alasan bagi Peggy untuk bermalas-malasan. Pengalaman gagal dalam wawancara kerja justru menjadi sebuah motivasi bahwa dia harus tetap bangkit.
Dilansir dari akun Pecah Telur, Peggy merupakan perempuan asal Papua sekaligus pemilik usaha rumah makan Pawon Sambal Kenthir. Langkah Peggy membuka usaha ini menjadi pengorbanan bagi karirnya sebagai pramugari di Garuda Indonesia.
Peggy bercerita, sewaktu masih duduk di bangku SMA di Papua, dia sangat mengidam-idamkan bekerja sebagai pramugari. Tekadnya bergitu kuat, setiap hari Peggy selalu membawa kamus sambil menumpang dengar suara pemberitahuan berbahasa Inggris yang diputar di bandara Papua.
Lulus SMA, Peggy melanjutkan Pendidikan tinggi di Jakarta. Keseriusan Peggy menjadi pramugari ditopang dengan mengikuti kursus di sebuah Lembaga Pendidikan non formal.
"Saat itu saya tes dan saya langsung masuk ke advance, jadi bukan lagi intermediate apalagi basic," ujar Peggy, dikutip Minggu (17/11).
Merasa dirinya sudah memiliki kapabilitas yang cukup, Peggy bergegas melamar kerja saat mengetahui ada lowongan sebagai pramugari di maskapai Merpati.
Namun, harapan Peggy menggapai cita-citanya harus menemui tantangan. Dia dinyatakan tidak lolos.
"Saat itu saya hanya diminta menyebutkan 1990 dalam bahasan Inggris, tapi di situ saya blank, gugup, tidak tahu harus mengatakan apa," ucapnya.
Peggy kecewa dengan realita bahwa tidak diterima bekerja sebagai pramugari. Hingga dia sempat kecewa dengan nasib yang diberikan Tuhan untuknya.
Rupanya, Tuhan memberikan Peggy jalan lain. Saat itu, ada informasi lowongan kerja sebagai pramugari di Garuda Indonesia. Peggy ingin kembali mencoba, namu dia ragu, takut Kembali gagal. Rasa minder Peggy memuncak perusahaan yang akan dia lamar merupakan maskapai termewah di Indonesia.
Berkat dukungan orang tua, Peggy memberanikan diri mencoba peruntungannya di Garuda Indonesia.
"Saat wawancara itu saya hanya diminta menceritakan masa kecil saya di Papua dengan berbahasa Inggris. Semua berjalan lancer, smooth tanpa ada rasa ragu, Dan di situlah saya diterima bekerja," ungkapnya.
Awal Mula Bangun Bisnis Rumah Makan
Hampir dua puluh tahun Peggy berkarir sebagai pramugari, dia akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja. Alasannya, demi anak.
Suami Peggy juga merupakan pilot pesawat charter, yang mana tidak memiliki Waktu pasti.
"Saya enggak mau tinggalin anak saya terus, akhirnya saya yang mengalah, saya resign dari pekerjaan saya," ucapnya.
Namun menjadi ibu rumah tangga, tanpa ada aktivitas lain membuatnya tidak betah. Peggy kemudian merintis usaha warung skala sangat kecil. Profesinya saat menjadi pramugari, membantu Peggy mengembangkan bisnis rumah makan yang terus besar hingga terciptalah rumah makan Pawon sambal Kenthir.
Menu makanan Utama rumah makan ini adalah khas Yogyakarta. Peggy mengaku sangat mencintai kebudayaan Yogya, hingga ini yang menjadi inspirasi Peggy membuat konsep rumah makan khas Yogyakarta.
Selain masakan khas Jawa, khususnya Yogyakarata, rumah makan ini juga menyediakan masakan nusantara seperti nasi liwet, coto makasar, ayam woku, papeda, dan sebagainya.
Dalam sehari, Peggy bisa menghasilkan omzet Rp55 juta di akhir pekan, sementara di hari biasa omzet berkisar Rp38-40 juta per hari.