Tahukah Anda, Bahan Bakar Pesawat Bisa dari Minyak Jelantah? Kemenhub Percepat Regulasi Sustainable Aviation Fuel (SAF)

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat regulasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk dekarbonisasi industri aviasi nasional. Simak bagaimana bahan bakar ini dapat menekan emisi penerbangan!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda, Bahan Bakar Pesawat Bisa dari Minyak Jelantah? Kemenhub Percepat Regulasi Sustainable Aviation Fuel (SAF)
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat regulasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) untuk dekarbonisasi industri aviasi nasional. Simak bagaimana bahan bakar ini dapat menekan emisi penerbangan! (AntaraNews)

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah gencar memperkuat kebijakan untuk mengakselerasi pemanfaatan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Langkah ini diambil sebagai strategi utama dalam upaya dekarbonisasi industri aviasi di Indonesia. Percepatan regulasi ini diharapkan mampu menekan jejak karbon sektor penerbangan secara signifikan.

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, menjelaskan bahwa percepatan ini melibatkan penguatan peta jalan. Selain itu, mekanisme pemantauan dan pelaporan emisi juga akan ditingkatkan. Penerapan skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) sesuai standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) juga menjadi fokus utama.

Pernyataan ini disampaikan Sokhib dalam forum "Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) Forum 2025" yang digelar di Jakarta pada Senin (20/10). Forum tersebut menjadi wadah diskusi lintas sektor, melibatkan maskapai, industri pesawat, lembaga sertifikasi, dan perwakilan pemerintah. Tujuannya adalah membahas ambisi Indonesia dalam mengurangi emisi dan manfaat dari penggunaan SAF.

Mendorong Adopsi Sustainable Aviation Fuel Melalui Regulasi dan Insentif

Kemenhub berkomitmen penuh untuk memastikan seluruh kebijakan dekarbonisasi sektor penerbangan nasional selaras dengan target penurunan emisi global. Penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dipandang sebagai langkah strategis yang tidak mengganggu operasional penerbangan eksisting. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mencapai target lingkungan.

Sokhib Al Rokhman menegaskan, "Roadmap SAF, mekanisme MRV oleh operator, serta regulasi penerapan skema CORSIA telah disiapkan. Dengan sertifikasi sesuai ketentuan Ditjen Migas dan ICAO CORSIA, serta insentif yang proporsional, adopsi SAF di dalam negeri dapat dipercepat." Inisiatif ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.

Kolaborasi antara regulator, industri, dan lembaga sertifikasi menjadi kunci keberhasilan program ini. Tujuannya adalah menciptakan penerbangan yang lebih hijau dan berkelanjutan di masa depan. Dukungan regulasi yang kuat akan menjadi fondasi utama bagi adopsi SAF secara luas.

Potensi Indonesia sebagai Produsen Sustainable Aviation Fuel Berbasis Minyak Jelantah

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah di kawasan Asia. Hal ini diungkapkan oleh Country Manager Indonesia Cathay Pacific Airways, Tony Sham, dalam forum yang sama. Namun, tantangan terkait harga dan ketersediaan bahan baku perlu diatasi secara kolektif.

Tony Sham menyebut, "Cathay Pacific menargetkan 10 persen pemakaian SAF pada 2030." Komitmen maskapai global ini menunjukkan pentingnya energi bersih dalam industri penerbangan. Kolaborasi lintas pelaku industri menjadi sangat penting untuk mempercepat transisi menuju bahan bakar berkelanjutan ini.

Senior Managing Director Boeing, Malcom An, menambahkan bahwa kawasan Asia Tenggara memiliki sumber daya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar berkelanjutan secara mandiri. "Minat untuk mengubah minyak jelantah dan limbah pertanian menjadi SAF terus meningkat. Kawasan ini bahkan berpotensi memproduksi lebih untuk diekspor," ujarnya. Ini membuka peluang besar bagi Indonesia.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menegaskan peran Pertamina sebagai penggerak utama pengembangan energi bersih untuk industri penerbangan. Pertamina Group diketahui telah memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF melalui ekosistem terintegrasi mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi.

Menjamin Integritas Rantai Pasok Sustainable Aviation Fuel dengan Sertifikasi Global

Kualitas dan integritas rantai pasok Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitasnya. CEO Qualitas Sertifikasi Indonesia, Ryanza Prasetya, menjelaskan pentingnya penerapan International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) CORSIA. Sertifikasi ini menjamin keaslian dan standar bahan bakar.

Sertifikasi ISCC CORSIA memastikan integritas rantai pasok SAF, mulai dari asal bahan baku hingga perhitungan emisi yang dihasilkan. Selain itu, ketertelusuran proses produksi juga terjamin sesuai standar global yang ditetapkan. Ini memberikan keyakinan kepada konsumen dan regulator mengenai kualitas SAF.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya menekan emisi karbon dari sektor penerbangan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi sirkular bagi masyarakat. Pemanfaatan limbah seperti minyak jelantah menjadi produk bernilai tinggi merupakan contoh nyata ekonomi berkelanjutan. Ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pembangunan hijau.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi