Tahukah Anda? Avtur Hijau dari Minyak Jelantah Bakal Diproduksi di Kilang Dumai dan Balongan Mulai Akhir 2026!
Pertamina akan mereplikasi produksi Avtur Hijau ramah lingkungan dari minyak jelantah di Kilang Dumai dan Balongan, menargetkan produksi mulai akhir 2026. Penasaran bagaimana limbah jadi komoditas berharga?
Pertamina berencana mereplikasi keberhasilan produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur ramah lingkungan di Kilang Cilacap. Inisiatif ini akan diperluas ke Kilang Dumai dan Kilang Balongan. Targetnya, produksi avtur hijau dari minyak jelantah ini dapat dimulai pada akhir semester 2 tahun 2026.
Komisaris Utama dan Independen Pertamina, Mochammad Iriawan, mengungkapkan rencana ekspansi ini dalam acara Jejak Keberlanjutan Series di Kilang Cilacap. Ia memuji inovasi yang berhasil mengubah minyak jelantah, yang sebelumnya dianggap limbah, menjadi komoditas bernilai tinggi. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar dalam pemanfaatan limbah untuk energi bersih.
Direktur Operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Didik Bahagia, menambahkan bahwa kapasitas produksi avtur hijau di Kilang Balongan dan Dumai masing-masing direncanakan sebesar 8 ribu barel per hari. Angka ini sedikit di bawah kapasitas Kilang Cilacap yang mencapai 8.700 barel per hari. Langkah strategis ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendukung transisi energi nasional.
Ekspansi Produksi Avtur Hijau dan Pemanfaatan Limbah
Keberhasilan Kilang Cilacap dalam memproduksi avtur ramah lingkungan menjadi landasan bagi rencana replikasi ini. Produksi Pertamina SAF di Cilacap menggunakan teknologi co-processing yang inovatif. Teknologi ini didukung oleh Katalis Merah Putih, sebuah inovasi buatan anak bangsa.
Mochammad Iriawan sangat mengapresiasi upaya insan Pertamina yang berhasil mengubah limbah minyak jelantah menjadi produk bernilai. Fenomena masyarakat yang berbondong-bondong menyetorkan minyak jelantah ke titik pengumpulan menunjukkan adanya nilai ekonomi baru. Hal ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan peluang pendapatan bagi masyarakat.
Rencana ekspansi ini mencakup Kilang Balongan dan Kilang Dumai, yang akan memiliki kapasitas produksi avtur hijau masing-masing 8 ribu barel per hari. Meskipun sedikit lebih kecil dari Kilang Cilacap, penambahan kapasitas ini signifikan. Target produksi pada akhir 2026 menunjukkan percepatan dalam pengembangan energi terbarukan.
Inovasi Teknologi dan Langkah Menuju Transisi Energi
Produksi avtur hijau di Kilang Cilacap telah membuktikan bahwa inovasi teknologi dapat memberikan solusi konkret bagi tantangan energi. Penggunaan Katalis Merah Putih adalah bukti nyata kemampuan dalam negeri. Ini merupakan langkah maju dalam menciptakan bahan bakar penerbangan yang lebih lestari.
Selain produksi, Pertamina juga telah melakukan uji coba penerbangan komersial. Maskapai Pelita Air menggunakan Pertamina SAF untuk rute Jakarta-Denpasar pada 20 Agustus lalu. Penerbangan perdana ini menandai tonggak penting dalam transisi energi di Indonesia.
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menyatakan bahwa penerbangan tersebut bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah simbol nyata dari komitmen Indonesia terhadap energi berkelanjutan. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong sektor penerbangan untuk lebih ramah lingkungan.
Dengan replikasi di Kilang Dumai dan Balongan, Pertamina menunjukkan keseriusan dalam mempercepat adopsi energi terbarukan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Ini juga membuka jalan bagi pengembangan inovasi lain di masa depan.
Sumber: AntaraNews