Singapura jadi pertama punya standarisasi revolusi industri ke-4

Selasa, 16 Oktober 2018 18:06 Reporter : Ahda Bayhaqi
Singapura jadi pertama punya standarisasi revolusi industri ke-4 Ilustrasi Singapura. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/2nix Studio

Merdeka.com - Pemerintah Singapura menunjukkan kesiapannya menghadapi industri 4.0 atau revolusi industri ke-4. Deputi Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Ekonomi dan Kebijakan Sosial Singapura, Tharman Shanmugaratnam mengatakan, aspek industri 4.0 merupakan kolaborasi pemerintah, perusahaan, serta universitas.

"4.0 bukan individual, bukan tentang Singapore, tapi membangun jaringan," kata Tharman dalam pembukaan Industrial Transformation Asia-Pacific 2018 di Singapura, Selasa, (16/9).

Langkah awal yang diambil Singapura adalah dengan menyadarkan perusahaan besar ataupun kecil untuk memutakhirkan kemampuan menghadapi industri 4.0. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, melalui badan Enterprise dan Singapore Standards Council, meluncurkan Standards Mapping for Singapore Smart Industry Readiness Index (SmS).

"Bagaimana membuat framework untuk perusahaan besar atau kecil menyadari kondisi saat ini, menyadari gap supaya siap dengan masa depan," jelas Tharman.

SmS adalah alat standarisasi pertama industri 4.0 yang diciptakan bekerja sama dengan TUV SUD, perusahaan inspeksi, sertifikasi, dan pelatihan asal Jerman. Serta divalidasikan oleh penasehat industri dan akademisi.

SmS menghadirkan standar kebutuhan industri dalam menghadirkan interoperabilitas, reliabilitas, kenyamanan dan keamanan siber. Dengan standar tersebut diharapkan berdampak pada perusahaan dalam menumbuhkan produktivitas, mengembangkan pasar, efisiensi sumber daya dan me keamanan dan kebutuhan sosial.

Standar SmS meliputi delapan indeks fokus utama. Pertama, pengoperasian yang dimaksudkan untuk memberikan standar sistem dan mesin dari berbagai vendor untuk dapat bekerja dalam satu pengoperasian. Serta, mengatur bagaimana mengurangi konsumsi energi.

Kedua, rantai suplai, standar yang menangani proses dan prosedur operasi rantai suplai supaya menjamin keamanan dan kelangsungan bisnis.

Ketiga adalah keberlangsungan hidup sebuah produk. Standar ini mengatur agar sebuah produk memiliki kualitas lebih baik dan stabilitas. Serta memudahkan perpindahan informasi dari tiap tahapan manufaktur.

Keempat, mengatur otomatisasi sebuah perusahaan. Agar menjamin keamanan teknologi terbaru yang digunakan, seperti robot kolaboratif dan mesin cetak 3D.

Kelima, konektivitas untuk membantu perusahaan membangun jaringan sensor. Dan, perusahaan menjalankan pengoperasian dengan keamanan siber terlindungi.

Keenam, menstandarkan intelijensi sebuah perusahaan agar menggunakan data dari mesin. Supaya mengembangkan proses, seperti misalnya untuk mengurangi tingkat kesalahan mesin, meningkatkan produksi, meningkatkan efisiensi alat dan mengurangi kerusakan alat.

Ketujuh, perusahaan bakal diatur struktur dan manajemen, agar membantu mengembangkan proses dan prosedur untuk mengatur kualitas, tanpa suap, dan aman.

Terakhir, memberikan standar kesiapan talent. Perusahaan dibantu dalam perencanaan sumber daya manusia dan menilai kesuksesannya. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Industri 4.0
  2. Singapura
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini