Andy F Noya Soroti Nasib Korban Gempa NTT, Pemulihan Tak Cukup dengan Bantuan Darurat

Andy F Noya menilai bantuan bagi korban bencana perlu berlanjut setelah masa tanggap darurat. Air bersih, pendidikan anak, dan pemulihan ekonomi menjadi perhatian dalam proses pemulihan masyarakat terdampak gempa NTT.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Andy F Noya Soroti Nasib Korban Gempa NTT, Pemulihan Tak Cukup dengan Bantuan Darurat
Founder Yayasan Benih Baik, Andy F Noya

Founder Yayasan Benih Baik, Andy F Noya, menyoroti pentingnya bantuan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut dia, pemulihan korban bencana tidak cukup hanya mengandalkan bantuan darurat, tetapi juga perlu memperhatikan kebutuhan dasar, pendidikan anak, hingga keberlangsungan ekonomi keluarga.

Andy mengatakan, berdasarkan pengalamannya menangani berbagai program kemanusiaan, bantuan biasanya ramai berdatangan ketika bencana baru terjadi. Namun, perhatian terhadap korban cenderung berkurang setelah beberapa minggu berlalu, sementara masyarakat masih harus menghadapi dampak bencana dalam jangka panjang.

"Setiap kali ada peristiwa, bencana, itu semua orang datang ya seakan-akan ingin menunjukkan kepedulian yang tinggi. Itu bagus, terutama ketika membawa obat-obatan dan sembako atau makanan yang dibutuhkan," kata Andy dalam Media Briefing dan Penyerahan Donasi Program Industry Social Responsibility (ISR) Kebaikan Berkelanjutan di Graha AAJI, Jakarta, awal pekan ini.

Menurut Andy, bantuan kerap dianggap cukup ketika kebutuhan darurat telah terpenuhi. Padahal, masyarakat masih harus berjuang memulihkan kehidupan, termasuk memperbaiki tempat tinggal dan mencari kembali sumber penghasilan yang terdampak bencana.

"Tetapi banyak orang atau banyak teman-teman yang kemudian merasa bahwa uluran tangan itu cukup atau berhenti ketika fisik bangunan itu atau kebutuhan-kebutuhan itu sudah terlihat diterima dan dimanfaatkan oleh teman-teman atau saudara-saudara kita korban bencana. Habis itu biasanya sepi," ujarnya.

Andy menyampaikan pandangan tersebut berdasarkan pengalamannya mengunjungi sejumlah lokasi bencana. Ia menilai, kerusakan tempat tinggal dan hilangnya sumber mata pencaharian dapat menghambat masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah masa tanggap darurat berakhir.

Karena itu, menurut dia, bantuan kemanusiaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada fase pemulihan, bukan hanya berfokus pada penanganan awal bencana.

Air Bersih dan Pendidikan Anak Jadi Perhatian

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bersama 19 perusahaan anggota berkolaborasi dengan Yayasan Benih Baik untuk membantu masyarakat terdampak gempa NTT.
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bersama 19 perusahaan anggota berkolaborasi dengan Yayasan Benih Baik untuk membantu masyarakat terdampak gempa NTT.

Dalam program ISR Kebaikan Berkelanjutan, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bersama 19 perusahaan anggota berkolaborasi dengan Yayasan Benih Baik untuk membantu masyarakat terdampak gempa NTT.

Andy menjelaskan, akses air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhatikan. Menurut dia, sejumlah wilayah di NTT telah menghadapi persoalan ketersediaan air bahkan sebelum bencana terjadi.

"Kalau kita bicara di NTT, memang tidak ada bencana aja NTT punya masalah dengan air, apalagi ketika ada bencana," kata Andy.

Selain kebutuhan dasar, program tersebut juga memperhatikan pendidikan anak-anak terdampak melalui dukungan sarana belajar atau school kit. Andy menilai, keberlanjutan kegiatan belajar menjadi bagian penting dalam membantu anak-anak kembali menjalani rutinitas setelah mengalami bencana.

"Hal yang paling dibutuhkan anak-anak untuk bisa healing adalah kembali ke sekolah," ujarnya.

Menurut Andy, bencana dapat mengganggu kegiatan belajar sekaligus kondisi psikologis anak. Karena itu, dukungan terhadap sarana pendidikan dan keberlangsungan kegiatan belajar diharapkan dapat membantu anak-anak menjalani proses pemulihan.

Bantuan Perlu Dipantau Secara Berkelanjutan

Andy menegaskan, penyaluran bantuan tidak boleh berhenti setelah kebutuhan masyarakat dipenuhi. Pemantauan diperlukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan.

Ia menjelaskan, Yayasan Benih Baik bekerja sama dengan AAJI serta pihak terkait untuk memantau pelaksanaan program. Koordinasi dengan pemerintah daerah juga diperlukan agar bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi wilayah setempat.

Andy mengatakan, pemantauan program direncanakan berlangsung lebih dari satu tahun. Ke depan, dukungan juga berpotensi dikembangkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat setelah kebutuhan dasar mereka terpenuhi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kolaborasi industri asuransi jiwa untuk membantu masyarakat terdampak bencana.

Menurut Emira, meskipun perusahaan asuransi berkompetisi dalam kegiatan bisnis, mereka tetap dapat bekerja sama untuk memberikan dukungan kemanusiaan.

Ia berharap, inisiatif serupa dapat terus dikembangkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di NTT maupun wilayah lain di Indonesia.

Melalui program ISR Kebaikan Berkelanjutan, AAJI dan Yayasan Benih Baik berupaya memastikan dukungan bagi korban bencana tidak hanya hadir pada masa darurat, tetapi juga berlanjut selama proses pemulihan berlangsung.

Rekomendasi