Pakar energi Ali Ahmudi Achyak menilai positif terobosan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam mengelola seluruh wilayah kerja (WK) migas. Langkah Subholding Upstream Pertamina ini, baik melalui pencarian sumur baru maupun optimalisasi sumur tua, dinilai sangat krusial dalam memacu angka produksi nasional.
"Saya kira PHE terus berbenah dalam mengelola seluruh wilayah kerja, termasuk untuk meningkatkan produksi. Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua," kata Ali dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis (15/10).
Menurut Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) Universitas Indonesia (UI) tersebut, memanfaatkan potensi sumur tua menjadi peluang nyata untuk menopang ketahanan energi nasional. Apalagi, inisiatif ini disokong oleh keandalan manajemen hulu serta penguasaan teknologi PHE yang kian mumpuni.
"Tentu saja, dengan tetap melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur baru, serta pemberdayaan sumur masyarakat. Sebagai upaya pencapaian target PHE, hal itu memang baik," ujarnya.
Ali tak menampik bahwa menggarap sumur tua punya tantangan tersendiri. Tingkat produksi dari sumur tua jauh di bawah capaian sumur baru. Dari kacamata keekonomian, mengoperasikan sumur tua dengan teknologi lama juga berisiko tidak efisien karena biaya yang membengkak seiring menurunnya hasil tangkapan.
Namun, penerapan teknologi anyar diyakini sanggup menekan komponen biaya sumber daya manusia (SDM) sehingga operasi sumur tua tetap bernilai ekonomis.
Advertisement
Teknologi dan Efisiensi Biaya
Selain adopsi teknologi, efisiensi biaya juga bisa ditempuh lewat kerja sama pengelolaan bersama pemerintah daerah—seperti di Riau dan Sumatera Selatan. Hasil minyak dari daerah nantinya tetap dijual ke Pertamina untuk memperkuat angka lifting migas nasional.
"Ini adalah upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apapun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi," tambahnya.
Apresiasi terhadap pengelolaan sumur tua PHE sebelumnya juga datang dari parlemen. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade memuji kinerja PHE Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) saat meninjau langsung sumur lepas pantai di Perairan Utara Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026).
Meski lapangan migas tersebut sudah beroperasi sejak 1969 dan sempat melewati fase peralihan pengelolaan, Andre menilai PHE ONWJ terbukti berhasil menjaga produktivitas sumur tua tersebut tetap stabil.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4040873/original/024134300_1654177448-WhatsApp_Image_2022-06-02_at_4.29.24_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9374490/original/087764200_1792052870-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_15.12.14.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9374462/original/044165000_1792052238-915b5262-518c-4f4a-8953-5112d9378c7a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/552934/original/110816bfoto-utang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9374431/original/017936100_1792051422-WhatsApp_Image_2026-10-15_at_12.40.41.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490104/original/053721500_1769996978-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290047/original/026639200_1753088112-kop2.jpg)