Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung mengungkapkan pertimbangan utama di balik target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen. Menurutnya, percepatan ini krusial agar Indonesia mampu mengoptimalkan momentum bonus demografi yang tengah berlangsung.
Juda menjelaskan bahwa Indonesia hanya memiliki tenggat waktu sekitar 10 hingga 15 tahun ke depan untuk menggenjot produktivitas tenaga kerja, memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), serta memperluas ketersediaan lapangan kerja.
"Indonesia sedang menghadapi peluang demografi yang tidak akan terulang atau tidak akan terbuka selamanya. Dalam sekitar 10-15 tahun ke depan, Indonesia masih memiliki peluang memanfaatkan bonus demografi dengan angkatan kerja besar, generasi muda yang semakin terhubung dengan teknologi serta pasar domestik yang luas," papar Juda saat memberikan arahan dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10).
Kendati demikian, tingginya populasi usia produktif tidak otomatis berubah menjadi keuntungan ekonomi jika tak diimbangi dengan keahlian yang relevan dan ketersediaan lapangan kerja yang mencukupi.
Apabila penyediaan lapangan kerja tertinggal, keahlian tenaga kerja tak sesuai kebutuhan pasar, dan produktivitas berjalan lambat, maka momentum emas (golden period) tersebut bakal terbuang sia-sia.
"Kita tidak boleh menjadi negara yang menua sebelum menjadi negara yang kaya,” tegasnya.
Juda juga memaparkan proyeksi dependency ratio atau rasio ketergantungan demografi di Indonesia. Angka rasio ini diperkirakan merangkak naik dari 46,5 pada tahun 2025 menjadi 46,8 pada 2030, dan terus membengkak hingga mencapai 59,7 pada tahun 2045.
Kenaikan rasio tersebut menandakan melonjaknya proporsi penduduk usia nonproduktif dibandingkan dengan warga usia produktif. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi demografi sebelum memasuki era penuaan populasi.
Advertisement
Jadi Syarat Mutlak
Oleh sebab itu, Juda menegaskan bahwa waktu yang dimiliki Indonesia sangat terbatas. Target pertumbuhan ekonomi 8 persen menjadi syarat mutlak selagi bonus demografi masih terbuka lebar.
"Kalau sense of urgency 8 persen tidak kita lakukan secara bersama baik negara maupun swasta, maka kesempatan ini akan hilang," ucap Juda.
Di samping memanfaatkaan bonus demografi, Juda menambahkan bahwa Indonesia harus segera lepas dari jebakan aktivitas ekonomi yang bernilai tambah rendah.
Indonesia dinilai perlu membangun struktur industri yang lebih kompleks, menggalakkan inovasi, serta memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan, riset, teknologi, dan sektor produksi. Indonesia juga harus mentransformasi diri dari sekadar penyedia sumber daya alam (SDA) menjadi pengolah produk bernilai tinggi.
"Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan mengolahnya. Dari memproduksi barang menjadi merancang dan mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Dari sekedar menjadi pasar bagi produk-produk global menjadi bagian penting dari rantai nilai global," pungkas Juda.