Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat proses eksplorasi logam tanah jarang (LTJ) dari semula enam tahun menjadi hanya satu tahun. Sejalan dengan langkah tersebut, Kementerian ESDM mendorong Institute for Critical Minerals Universitas Hasanuddin (ICM Unhas) menjadi hub nasional pengembangan mineral kritis dan logam tanah jarang.
Staf Ahli Menteri ESDM, Bidang Kelembagaan, Tirta Nugraha Mursitama, menegaskan bahwa kementeriannya mendukung penuh ICM Unhas. Bahkan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah berkomunikasi langsung dengan Rektor Unhas terkait hal ini.
"Kami dari Kementerian ESDM sangat mendukung inisiatif ini. Makanya beliau mengirim kami ke sini dan menjadikan ICM Unhas sebagai hub. Bukan sebagai Unhasnya saja," ujar Tirta usai Simposium Nasional di Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Senin (12/10/2026).
ICM Unhas akan diarahkan menjadi pusat transfer teknologi dan pengembangan SDM melalui dukungan LPDP, Kementerian Riset dan Teknologi, serta pelaku industri mineral. Unhas juga diminta tidak berjalan sendiri, melainkan merangkul kampus-kampus lain di seluruh Indonesia.
"Unhas tidak bisa sendiri. Beberapa kampus sudah punya kompetensi. Jadikan hub di timur. Timur ini masa depan Indonesia," lanjutnya.
Tirta menegaskan bahwa payung hukum hilirisasi sudah sangat kuat melalui UU Minerba, yang sejalan dengan Asta Cita poin 2 dan 5 Presiden Prabowo. Kuncinya berada pada kolaborasi pentahelix—pemerintah, industri, akademisi, masyarakat, dan NGO—agar sama-sama memetik manfaat, mulai dari penyediaan fasilitas fisik, pengembangan SDM, hingga transfer teknologi.
Advertisement
Vitamin Perkembangan Teknologi
Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030, Surono, mengibaratkan LTJ sebagai "vitamin" bagi perkembangan teknologi. Meski volumenya tidak besar, keberadaannya sangat menentukan untuk produksi mobil listrik hingga generator.
"Logam tanah jarang itu vitaminnya teknologi. Kebutuhannya sedikit, tetapi sangat urgent. Seperti kita minum vitamin, barang ini sedikit tidak seperti nasi. Tapi sangat bermanfaat," kata Surono.
Menjawab kekhawatiran publik soal bahaya radiasi, Surono memastikan bahwa setiap aktivitas penambangan wajib diawali kajian lingkungan yang ketat dari Kementerian Lingkungan Hidup, mulai dari tahap penambangan hingga reklamasi pascatambang. Ia juga mengingatkan agar pemanfaatan kekayaan LTJ tidak mengabaikan kesejahteraan warga sekitar.
"Kalau LTJ ini membuat kaya negara, ya masyarakat di sekitarnya harus sejahtera dong," tegasnya.
Kepada Unhas, Surono berpesan agar kampus tetap konsisten menjaga objektivitas keilmuan.
"Universitas seperti Unhas harus menjadi think tank-nya. Bukan hanya berpihak kepada industri, tetapi berpihak kepada realita, kepada masyarakat. Ilmu pengetahuan hanya boleh salah, tidak boleh bohong," tutur Surono.
Advertisement
Pengalaman Mengolah LTJ
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Global Research Institute Unhas Prof. Adi Maulana, yang mewakili Rektor Unhas, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan University of Queensland. Kampus Australia tersebut memiliki Sustainable Minerals Institute yang berpengalaman puluhan tahun mengolah LTJ.
Menurut Prof. Adi, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukanlah teknologi, melainkan efisiensi waktu.
"China itu sudah dari tahun 80 mereka memulai, sementara kita baru mulai sekarang. Kalau kita business as usual, berarti 30 tahun lagi baru kita kuasai," ungkap Prof. Adi.
Oleh karena itu, target pemerintah di bawah instruksi Presiden adalah memangkas seluruh tahapan birokrasi dan eksplorasi.
"Yang tadinya 6 tahun kalau normal, itu di-cut sampai 1 tahun," jelasnya.
Ia menutup perbincangan dengan menegaskan komitmen Unhas agar agenda hilirisasi ini memberikan dampak nyata bagi banyak pihak: 'Kaya bersama, sejahtera bersama, dan kemudian pintar bersama'.