Pemerintah menaruh perhatian khusus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menko Polhukam Dudung Abdurachman menyebut Presiden Prabowo Subianto terus mengawal upaya di lapangan dan mengagendakan evaluasi melalui rapat terbatas pada Senin sore.
Dudung, yang juga Ketua Pengarah Desk Koordinasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, menyampaikan evaluasi dilakukan untuk menajamkan langkah penanggulangan dan memastikan penindakan terhadap pelaku pembakaran berjalan.
"Ya kalau masalah karhutla kebetulan saya juga ketua pengarah masalah karutla, Bapak Presiden sangat konsentrasi dan tadi hari ini 16.30 kita akan melaksanakan rapat terbatas tentang karhutla," ujar Dudung di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, koordinasi lintas instansi telah berlangsung di berbagai daerah, termasuk langkah hukum bagi pihak yang terbukti menyulut api secara sengaja.
"Beberapa tempat kemarin kita sudah rapat koordinasi juga, jadi pelaku-pelaku, termasuk penindakan terhadap oknum yang dengan sengaja membakar, ini sudah dilakukan oleh Satgas," ungkapnya.
Dudung menegaskan penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatra menjadi fokus. Keterlibatan TNI, Polri, unsur terkait, serta partisipasi masyarakat disebut telah berjalan intensif dan akan dievaluasi tahap demi tahap.
"Kalau upaya-upaya yang dilakukan baik TNI, Polri termasuk unsur-unsur lain yang terlibat di dalam penanganan karutla ini sudah sangat serius bahkan melibatkan masyarakat," ucap dia.
Ia menambahkan, proses hukum terhadap pelaku pembakaran yang disengaja terus dilakukan.
"Penanganan, tindakan dan secara hukum juga kepada yang melakukan kegiatan-kegiatan kebakaran yang dengan sengaja ini sudah juga dilakukan," tegas Dudung.
Advertisement
BMKG: Hotspot Meluas, Asap Lintas Batas Muncul
Asap karhutla masih menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia dan mulai terdeteksi memengaruhi negara tetangga. Kualitas udara di beberapa daerah dilaporkan memburuk hingga mencapai level berbahaya.
Berdasarkan citra satelit BMKG per 12 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, titik panas (hotspot) dalam jumlah banyak terpantau di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Pola angin dominan dari Timur–Tenggara menuju Barat Laut–Utara mendorong kabut asap meluas ke area yang lebih besar.
Sebaran asap di dalam negeri terdeteksi di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
BMKG juga mencatat kabut asap lintas batas (trans boundary haze): dari Sumatera memasuki Semenanjung Malaysia dan Singapura; dari Kalimantan ke Sabah, Semenanjung Malaysia, dan Singapura; serta dari Papua Nugini menuju Papua Selatan.
Advertisement
ASMC: Efek Signifikan ke Malaysia, Singapura, hingga Filipina Selatan
ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) melaporkan dampak kabut asap lintas batas yang signifikan di kawasan ASEAN bagian selatan.
Pada laporan 12 Oktober 2026 pukul 10.58 waktu setempat, ASMC menyebut kepadatan asap tingkat sedang hingga pekat tidak hanya mengepung wilayah tengah dan selatan Sumatra serta sebagian Kalimantan, tetapi juga menyelimuti Semenanjung Malaysia, Singapura, hingga wilayah selatan Filipina.
ASMC menambahkan, stasiun pemantau kualitas udara di wilayah tersebut—terutama Kalimantan, Semenanjung Malaysia, Singapura, serta wilayah tengah dan selatan Sumatra—mencatat kategori kualitas udara "Tidak Sehat hingga Berbahaya" bagi masyarakat.