Harga Emas Antam 12 Oktober 2026 Naik Rp2.000, Cek Rinciannya

Harga Emas Antam hari ini naik ke Rp 2.594.000 per gram, buyback ikut menguat. Berikut rincian per satuan dan sentimen pasar emas global pekan ini.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Harga Emas Antam 12 Oktober 2026 Naik Rp2.000, Cek Rinciannya
Pramuniaga menunjukkan emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk di sebuah gerai emas, Jakarta, Senin (18/1/2021). Harga emas Antam kembali susut Rp 4.000 per gram di awal pekan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Harga Emas Antam bergerak naik tipis pada awal pekan ini. Mengutip laman resmi logammulia.com, Senin (12/10/2026), harga emas batangan Antam dipatok Rp 2.594.000 per gram, atau bertambah Rp 2.000 dibanding hari sebelumnya. Harga buyback juga menguat Rp 7.000 menjadi Rp 2.408.000 per gram.

Pada Minggu (11/10/2026), harga Emas Antam berada di Rp 2.592.000 per gram. Kenaikan hari ini terjadi serentak pada harga jual dan harga beli kembali (buyback).

Sebagai catatan, harga buyback adalah nilai yang diterima pemilik saat menjual kembali emas batangan ke Antam. Adapun harga yang tampil pada awal perdagangan merupakan patokan jual Antam kepada konsumen dan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar.

Pergerakan harga emas cenderung fluktuatif. Sepanjang tahun ini, Emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di Rp 3.168.000 per gram, dengan buyback menembus Rp 2.989.000 per gram.

Rincian harga Emas Antam per satuan pada Senin (12/10/2026):

  • 0,5 gram: Rp 1.347.000
  • 1 gram: Rp 2.594.000
  • 2 gram: Rp 5.138.000
  • 3 gram: Rp 7.689.000
  • 5 gram: Rp 12.785.000
  • 10 gram: Rp 25.490.000
  • 25 gram: Rp 63.560.000
  • 50 gram: Rp 126.955.000
  • 100 gram: Rp 253.760.000
  • 250 gram: Rp 634.090.000
  • 500 gram: Rp 1.267.900.000
  • 1.000 gram: Rp 2.534.600.000.

Emas Global Rebound, Proyeksi Pekan Ini dan Harga Emas Antam

FOTO: Awal Pekan, Harga Emas Antam Turun Menjadi Rp 944 Ribu per Gram
Pramuniaga menunjukkan emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk di sebuah gerai emas, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Harga emas dunia menutup pekan lalu di zona positif setelah melalui periode yang bergejolak. Tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, dan kekhawatiran inflasi sempat membebani pergerakan logam mulia.

Penurunan imbal hasil obligasi dan harga minyak, disertai aksi beli saat harga melemah, membantu pemulihan menjelang akhir pekan.

Pekan lalu, harga emas spot dibuka di US$ 4.142,40 per ons pada Minggu malam. Pada awal pekan, harga sempat menguat karena fokus investor pada potensi inflasi dari konflik AS–Iran, kenaikan harga minyak, serta pembelian emas oleh bank sentral China.

Tekanan meningkat pertengahan pekan setelah risalah rapat The Fed bulan September menunjukkan sebagian besar pejabat masih memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Emas pun menyentuh level terendah mingguan di US$ 4.066,31 per ons pada Rabu.

Harga kemudian pulih dan mencapai puncak mingguan US$ 4.207,48 per ons pada Jumat, didukung pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi.

Mengutip Kitco, Senin (12/10/2026), survei mingguan Kitco News menunjukkan 50% analis Wall Street memperkirakan harga emas naik pekan ini, sementara sentimen investor ritel masih terbelah.

Survei Kitco: Separuh Analis Memilih Kenaikan Emas

Survei Kitco News melibatkan 14 analis Wall Street. Tujuh analis atau 50% memperkirakan harga emas menguat pekan ini, dua analis atau 14% memprediksi turun, dan lima analis atau 36% melihat harga bergerak mendatar.

Darin Newsom, analis senior Barchart.com, menilai secara teknikal emas berada dalam kondisi jenuh jual, sehingga berpeluang mengalami penguatan jangka pendek.

Rich Checkan, Presiden sekaligus Chief Operating Officer Asset Strategies International, juga memperkirakan kenaikan. Menurutnya, tekanan jangka pendek dapat mereda jika The Fed tidak menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Sementara itu, Kevin Grady, Presiden Phoenix Futures and Options, menyebut data inflasi AS yang dirilis pekan ini menjadi sorotan utama pasar karena berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed dan arah pergerakan emas.

Sentimen Ritel Terbelah, Inflasi AS Masih Membayangi

Berbeda dengan analis Wall Street, investor ritel belum menunjukkan optimisme dominan. Dalam jajak pendapat daring Kitco yang mengumpulkan 206 suara, 45% responden memperkirakan harga emas naik pekan ini, 37% memprediksi turun, dan 18% melihat harga bergerak mendatar.

Data inflasi Amerika Serikat menjadi katalis penting pekan ini. Pasar menantikan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) September, serta data penjualan ritel dan klaim pengangguran.

Marc Chandler, Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, menilai harga emas masih menghadapi tekanan dan perlu kembali bertahan di atas US$ 4.230 per ons untuk menunjukkan terbentuknya fondasi penguatan.

Di sisi lain, Alex Kuptsikevich, analis senior FxPro, melihat peluang kenaikan lanjutan menuju US$ 4.300–US$ 4.350 per ons, meski mengingatkan penguatan dolar AS dan persoalan utang global masih menjadi tantangan bagi emas dalam jangka panjang.

Rekomendasi