Pemerintah menempuh efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui evaluasi operasional dan ketepatan sasaran, bukan dengan memangkas anggaran program. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menekankan langkah ini diambil untuk memastikan uang negara digunakan efektif sesuai kebutuhan penerima manfaat.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam program Bicara Bersama Retno Pinasti di SCTV, Jumat (9/10/2026). Ia menegaskan, efisiensi yang dikejar pemerintah bukan berarti pemotongan pagu.
"Bukan potong anggaran, efisiensinya kemudian muncul, anggarannya menjadi lebih efisien,” ujar Suahasil dalam Bicara Bersama Retno Pinasti di SCTV, Jumat (9/10/2026).
Suahasil menjelaskan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penelaahan atas pelaksanaan program, termasuk kebutuhan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan jumlah porsi makanan yang disediakan. Evaluasi juga mencermati kebutuhan sekolah penerima agar pelaksanaan lebih tepat sasaran.
Menurut Suahasil, pemerintah melakukan evaluasi belanja secara berkelanjutan untuk memastikan program prioritas tetap berjalan dengan penggunaan anggaran yang efisien. Kementerian Keuangan berperan mengawasi pengelolaan keuangan negara, sementara kementerian/lembaga pelaksana menilai kebutuhan operasional program masing-masing.
Ia menambahkan, efisiensi tidak identik dengan pemangkasan karena perbaikan tata kelola dan pelaksanaan kegiatan masih dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas.
"Berapa jumlah porsi yang untuk satu SPPG, SPPG itu bisa berbeda-beda porsi-nya. Ini menciptakan sasaran operasional. Lalu sasarannya sekolah mana yang memang membutuhkan dan seterusnya,” kata Suahasil.
Suahasil juga menyebut pendekatan serupa diterapkan pada program prioritas lain. Pemerintah menilai kembali kebutuhan anggaran, sumber daya, dan infrastruktur tiap kegiatan agar belanja negara menghasilkan manfaat optimal bagi masyarakat.