Fenomena gig economy di kalangan mahasiswa Semarang menemukan bentuk barunya melalui tren anjem (antar-jemput) informal.
Tren ini digerakkan oleh dan untuk sesama mahasiswa demi menunjang mobilitas harian dengan fleksibilitas waktu dan tarif yang ditetapkan.
Bukan cuma soal mobilitas, penggunaan jasa anjem kerap dilandasi semangat solidaritas antar-mahasiswa.
Tama (23), mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, mengaku menggunakan jasa ini lebih dari lima kali dalam seminggu, bahkan hingga memiliki langganan tetap.
"Saya pakai anjem bisa lima kali seminggu karena memang ingin membantu teman sesama mahasiswa. Mengingat kebutuhan mahasiswa semakin tinggi, jadi saya ingin menggerakkan ekonomi teman agar lapak usahanya laris," ujar Tama pada Senin (5/10)
Advertisement
Sistem dan Algoritma Anjem
Hani (23), mantan pengemudi (driver) anjem mahasiswa Universitas Negeri Semarang, mengaku menawarkan jasa ini untuk mengisi waktu di sela-sela jadwal kuliah. Penghasilan yang ia dapatkan digunakan untuk jajan harian hingga menutup kebutuhan pokok.
Uniknya, algoritma pencarian penumpang jasa anjem berawal dari tren menfess (confess message) yang menjamur di platform X (Twitter). Ketika pengguna mengunggah kebutuhan transportasi melalui menfess, para penyedia jasa anjem akan memenuhi kolom komentar untuk menawarkan ketersediaan mereka.
Selain melalui menfess, ekosistem ini juga bergerak lewat grup percakapan khusus yang berisi pengemudi dan penumpang.
"Biasanya mereka chat di grup kalau butuh anjem, nanti driver merespons via chat pribadi. Tapi saya juga punya customer langganan yang sudah percaya, jadi bisa langsung pesan," ungkap Hani.
Selama menjadi driver, Hani secara ketat membatasi segmentasi penumpangnya demi alasan keamanan.
"Kalau saya khusus customer perempuan. Biasanya saya lihat dari foto profil atau memastikan dulu lewat chat. Kalau ternyata laki-laki, tidak saya ambil," tambah Hani.
Advertisement
Kenyamanan 'Sepantaran'
Jarak usia yang seumuran (sepantaran) membuat penumpang merasa jauh lebih aman, familiar, dan kenal secara personal. Interaksi di sepanjang perjalanan pun terasa lebih luwes dan seru.
Faktor kesepantaran ini efektif mengikis rasa canggung yang kerap muncul jika penumpang harus naik transportasi umum dengan pengemudi yang usianya jauh lebih tua.
"Daripada harus menggunakan jasa resmi, saya agak canggung soalnya tidak kenal. Kalau sama yang sudah kenal atau sesama mahasiswa kan interaksinya lebih enak dan enggak canggung," tutup Tama.