Senyap Usai Kebakaran, Suara Alat Tenun Desa Sade Kembali Bergema

Di tengah sisa puing musibah kebakaran, perajin Desa Sade dapat bantuan alat kerja baru. Semangat menenun kembali membumbung demi pulihkan ekonomi.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Senyap Usai Kebakaran, Suara Alat Tenun Desa Sade Kembali Bergema
Senyap Usai Kebakaran, Suara Alat Tenun Desa Sade Kembali Bergema

Kebakaran yang menerjang Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pada Agustus lalu meninggalkan duka mendalam. Musibah ini tak hanya menghanguskan tempat tinggal, tetapi juga melalap habis alat kerja yang menjadi tempat menggantungkan napas ekonomi warga.

Bagi 56 nasabah binaan PNM Mekaar di Desa Sade, kehilangan tempat tinggal berarti kehilangan ruang untuk menenun dan berjualan kain khas Sasak. Di tengah masa pemulihan, membantu masyarakat kembali memiliki mata pencaharian menjadi kunci utama untuk bangkit.

"Yang paling berat bukan hanya kehilangan tempat tinggal atau tempat berjualan. Kami kehilangan tempat untuk bekerja. Padahal dari menenun dan menjual kain inilah kebutuhan keluarga sehari-hari dipenuhi," cerita salah satu korban di Desa Sade bernama Heppy Susanti dikutip keterangan tertulis, Rabu (30/9/2026).

Heppy, yang telah menjadi nasabah PNM Mekaar selama lima tahun, sempat kehilangan harapan setelah rumahnya rata dengan tanah. Namun, bantuan cepat datang untuk menguatkan langkah para perajin.

"Saya terharu saat PNM datang dua hari setelah kebakaran dan langsung kasih bantuan. Sekarang PNM datang kembali dengan bantuan yang lebih bermakna. Terima kasih karena sudah merangkul kami sejak awal sampai sekarang," ujar Heppy.

PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM bersama BRI Insurance (BRINS) melanjutkan pendampingan bagi warga terdampak lewat program Madani Tanggap Desa Adat Sade. Jika di tahap awal PNM fokus menyalurkan bantuan darurat seperti peralatan dapur dan kebutuhan pokok, kini bantuan diarahkan pada pemulihan alat produksi.

Warga menerima bantuan berupa alat tenun, mesin jahit industrial, serta gawangan untuk produksi. Tak hanya itu, pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga dan anak-anak turut diselenggarakan. BRINS juga merealisasikan pencairan klaim asuransi untuk membantu pemenuhan kebutuhan harian dan penataan usaha warga.

"Alat tenun ini sangat berarti bagi kami. Mudah-mudahan setelah ini kami bisa mulai menenun lagi, punya penghasilan lagi, dan perlahan mengembalikan kehidupan seperti sebelumnya. Bantuan dari asuransi juga sudah saya terima dan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," tambah Heppy.

Proses Pemulihan Bencana

Senyap Usai Kebakaran, Suara Alat Tenun Desa Sade Kembali Bergema
Senyap Usai Kebakaran, Suara Alat Tenun Desa Sade Kembali Bergema

Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa proses pemulihan bencana harus menyentuh akar ekonomi warga agar dampak positifnya terasa jangka panjang.

"PNM berharap bantuan ini menjadi langkah awal agar ibu-ibu di Desa Adat Sade dapat kembali menjalankan usahanya. Ketika alat kerja kembali tersedia, harapan untuk menghidupkan kembali ekonomi keluarga juga ikut tumbuh. Dan dalam kesempatan ini kami menggandeng BRI Insurance untuk menyalakan harapan itu," ujar Kindaris.

Desa Adat Sade dikenal luas sebagai ruang hidup pelestari tradisi tenun yang menggerakkan roda pariwisata daerah. Saat seorang ibu kembali memegang alat tenun, bukan hanya pendapatan keluarga yang terselamatkan, melainkan juga warisan budaya lintas generasi.

PNM juga menyiapkan strategi pendampingan lanjutan, mulai dari penguatan usaha berbasis klasterisasi, pengembangan Ruang Pintar untuk edukasi anak-anak, hingga pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi produk warga.

"Ini bagian dari misi pemberdayaan PNM, membuka akses dan kesempatan agar nasabah mampu untuk kembali berdiri setelah bencana, mengembangkan usaha, dan melihat pasar yang lebih luas," tutup Kindaris.

Rekomendasi