BPJN Sulut Rencanakan Pelebaran Jalur MORR I untuk Atasi Kemacetan di Manado

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Utara berencana melakukan pelebaran Jalur MORR I di Manado guna mengatasi kemacetan parah yang sering terjadi, terutama di area terowongan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BPJN Sulut Rencanakan Pelebaran Jalur MORR I untuk Atasi Kemacetan di Manado
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Utara berencana melakukan pelebaran Jalur MORR I Manado yang kerap menjadi sumber kemacetan, terutama di area terowongan. Simak detail rencana dan anggaran yang dibutuhkan untuk mengatasi bottleneck ini. (AntaraNews)

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Utara telah merencanakan pelebaran jalur Manado Outer Ring Road (MORR) I. Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah kemacetan yang kerap terjadi di ruas jalan tersebut, khususnya pada titik-titik penyempitan. Rencana strategis ini diharapkan dapat meningkatkan kelancaran lalu lintas di wilayah Manado.

Penyebab utama kemacetan di MORR I adalah adanya bottle neck atau penyempitan jalur di area terowongan. Kondisi eksisting MORR I saat ini memiliki empat jalur, namun menyempit menjadi dua jalur ketika mendekati terowongan. Hal ini menciptakan hambatan signifikan bagi pengendara, terutama pada jam-jam sibuk.

Pelebaran jalur ini bertujuan untuk mengubah kondisi dua jalur yang menyempit di terowongan menjadi empat jalur. Dengan demikian, diharapkan kemacetan parah yang sering terjadi pada waktu-waktu tertentu dapat terurai. Proyek ini menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan berkendara di Manado.

Penyebab Kemacetan dan Kondisi Eksisting MORR I

Kemacetan di Jalur MORR I Manado telah menjadi perhatian serius bagi pengguna jalan dan pihak berwenang. Kasatker PJN Wilayah I, Ringgo Radetyo, menjelaskan bahwa titik kemacetan utama berada di terowongan akibat fenomena bottle neck. Kondisi ini menyebabkan penumpukan kendaraan yang signifikan.

Jalur MORR I yang semula memiliki empat lajur, secara drastis menyempit menjadi dua lajur saat mendekati terowongan. Penyempitan ini secara langsung memicu antrean panjang kendaraan, terutama saat jam sibuk. Warga Manado sering merasakan dampak kemacetan ini pada pagi hari ketika berangkat kerja dan sore hari saat pulang kantor.

Kepala BPJN Sulut sebelumnya, Hendro Satrio MK, juga telah mengusulkan penggantian terowongan dengan jembatan yang mampu menampung empat jalur. Usulan ini bertujuan untuk secara fundamental mengurai kemacetan. Solusi jangka panjang ini diharapkan dapat memberikan kelancaran lalu lintas yang berkelanjutan.

Rencana Pelebaran dan Anggaran Proyek

BPJN Sulawesi Utara bertekad untuk merealisasikan pelebaran jalur MORR I menjadi empat jalur secara keseluruhan. Rencana ini diharapkan dapat menghilangkan titik kemacetan di area terowongan. Peningkatan kapasitas jalan ini sangat krusial untuk menunjang aktivitas ekonomi dan sosial di Manado.

Proyek pelebaran ini diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp24 miliar. Anggaran tersebut akan digunakan untuk membiayai seluruh proses konstruksi dan penyesuaian infrastruktur. Dana ini sempat dianggarkan pada awal tahun 2025, namun mengalami penundaan akibat efisiensi anggaran.

Meskipun sempat tertunda, BPJN Sulut terus berupaya agar anggaran untuk proyek ini dapat dialokasikan pada tahun ini. Komitmen untuk melanjutkan pembangunan menunjukkan pentingnya pelebaran jalur ini bagi mobilitas warga. Pelebaran jalur ini akan menjadi investasi penting bagi infrastruktur Manado.

Dampak dan Konektivitas Infrastruktur

Pelebaran jalur MORR I memiliki dampak positif yang luas bagi konektivitas regional. Proyek ini tidak hanya akan mengurai kemacetan di Manado, tetapi juga akan terhubung dengan pembangunan MORR III yang sedang berlangsung. Integrasi infrastruktur ini akan menciptakan jaringan jalan yang lebih efisien.

Infrastruktur jalan yang memadai, termasuk pelebaran MORR I, sangat penting sebagai penunjang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Kelancaran aksesibilitas akan mendukung pergerakan barang dan jasa, serta menarik investasi ke KEK Bitung. Dengan demikian, pembangunan ini berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Peningkatan kapasitas jalan ini akan memperlancar arus transportasi dari dan menuju KEK Bitung. Hal ini akan mengurangi waktu tempuh dan biaya logistik, sehingga meningkatkan daya saing wilayah. Keberadaan infrastruktur yang terintegrasi menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi ekonomi Sulawesi Utara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi