Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) secara resmi memperkenalkan program rehabilitasi ekosistem pesisir terbaru. Program ini menggunakan metode hybrid engineering yang inovatif, bertujuan memperkuat ketahanan wilayah pesisir.
Pengenalan metode ini berlangsung di Banjarbaru pada Selasa (22/10), dengan fokus pada penanganan dampak perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang bagi kawasan pesisir di Kalsel.
Menurut Kepala DKP Kalsel, Rusdi Hartono, metode hybrid engineering merupakan kombinasi strategis. Ini adalah gabungan antara rehabilitasi ekosistem alami dan penggunaan struktur fisik yang ramah lingkungan, khususnya di area penggunaan lain (APL) yang dianggap kritis.
Advertisement
Advertisement
Metode hybrid engineering yang diperkenalkan DKP Kalsel ini dirancang sebagai respons terhadap degradasi kawasan pesisir. Degradasi tersebut seringkali disebabkan oleh abrasi, banjir rob, serta kenaikan muka air laut yang terus meningkat. Rusdi Hartono menjelaskan, “Ini berkaitan dengan kegiatan mitigasi perubahan iklim di kawasan pesisir. Kami banyak bergerak di zona APL (Area Penggunaan Lain), khususnya di kawasan yang dianggap kritis.”
Sebelumnya, DKP Kalsel memfokuskan rehabilitasi pada tiga ekosistem utama, yaitu mangrove, terumbu karang, dan lamun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan rehabilitasi lebih difokuskan pada ekosistem mangrove dan terumbu karang. Kedua ekosistem ini dinilai paling rentan dan memerlukan perhatian khusus di wilayah pesisir Kalimantan Selatan.
Pendekatan baru ini menandai evolusi dalam strategi konservasi pesisir. DKP Kalsel berupaya mencari solusi yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Dengan demikian, diharapkan ekosistem pesisir dapat pulih dan berfungsi optimal dalam melindungi daratan dari ancaman lingkungan.
Advertisement
Advertisement
DKP Kalsel mengakui bahwa metode rehabilitasi sebelumnya, seperti tanam murni dengan jarak 1x1 meter, tidak selalu cocok untuk semua kondisi pesisir. Oleh karena itu, pengembangan metode hybrid engineering menjadi langkah penting. “Metode sebelumnya tanam murni dengan jarak 1x1 meter, tapi tidak semua kondisi cocok. Karena itu, kami kini kembangkan metode baru hybrid engineering, yaitu kombinasi antara struktur fisik dan kaidah konservasi,” jelas Rusdi.
Pendekatan hybrid engineering ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional yang sering digunakan sektor lain. Metode konvensional, seperti pembangunan pemecah ombak dari beton atau semen, cenderung kurang memperhatikan aspek ekologis. DKP Kalsel memilih struktur fisik yang mudah didapat masyarakat, namun tetap menjaga prinsip konservasi.
“Kalau sektor lain seperti PU atau BPBD menggunakan struktur fisik penuh, kami memakai struktur fisik yang mudah didapat masyarakat, namun tetap menjaga prinsip konservasi,” tambah Rusdi. Hal ini menunjukkan komitmen DKP Kalsel untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian lingkungan. Strategi ini juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal dalam proses rehabilitasi.
Advertisement
Advertisement
Sebagai langkah awal implementasi, DKP Kalsel telah melaksanakan kegiatan demonstration plot (demplot) penerapan metode hybrid engineering. Lokasi demplot ini berada di kawasan Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut. Uji coba ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan kelayakan metode baru tersebut di lapangan nyata.
Hasil dari demplot di Tanah Laut akan menjadi dasar penting untuk pelaksanaan program skala lebih besar di masa mendatang. Rusdi menuturkan, “Hasil dari demplot ini akan menjadi dasar pelaksanaan skala lebih besar pada tahun 2026 di dua kabupaten prioritas, yaitu Tanah Bumbu dan Kotabaru.” Ini menunjukkan rencana ekspansi yang terukur dan berbasis data.
DKP Kalsel memperkirakan tingkat keberhasilan teknis metode hybrid engineering ini mencapai 80 hingga 90 persen. Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari kemampuan mengurangi abrasi dan banjir rob, tetapi juga dari peningkatan ketahanan ekosistem pesisir secara berkelanjutan. Angka ini memberikan optimisme terhadap potensi metode ini dalam mengatasi tantangan lingkungan di pesisir Kalsel.
Advertisement
Advertisement
Rusdi Hartono menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi pesisir tidak hanya bergantung pada aspek teknis semata. Pemberdayaan sosial masyarakat sekitar juga memegang peranan krusial dalam keberlanjutan program. “Struktur fisik saja tidak cukup. Ada seksi lain seperti pemberdayaan masyarakat yang menangani edukasi dan pelibatan kelompok masyarakat hingga pelajar, yang dipimpin oleh Ibu Husna,” ujarnya.
Pelibatan aktif masyarakat, mulai dari edukasi hingga partisipasi langsung, akan menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan pesisir. Ini memastikan bahwa upaya rehabilitasi tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga bottom-up, di mana masyarakat menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem mereka.
Dengan penguatan infrastruktur berbasis lingkungan serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir, DKP Kalsel berharap model hybrid engineering ini dapat menjadi contoh nasional. Model ini diharapkan mampu menjadi acuan dalam penanganan kawasan pesisir yang berkelanjutan di seluruh Indonesia, menunjukkan komitmen Kalsel terhadap lingkungan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews