PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) baru-baru ini menggelar pelatihan inovatif di Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Pelatihan ini melibatkan sejumlah pemuda lintas agama, termasuk perwakilan Gereja dan Remaja Masjid, untuk mengolah limbah Fly Ash Bottom Ash (FABA).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore pada Rabu, 8 Oktober, ini bertujuan untuk mengubah FABA atau abu sisa pembakaran batu bara PLTU menjadi produk bernilai ekonomi. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam mewujudkan energi berkeadilan dan berkelanjutan di wilayah tersebut.
General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, menegaskan bahwa pemanfaatan FABA menjadi paving blok memberikan dampak positif. Hal ini mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan, sekaligus mematahkan stigma negatif terhadap limbah pembangkitan.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Pemanfaatan FABA untuk Ekonomi Sirkular
Pelatihan pengolahan FABA di Maurole menjadi bukti nyata komitmen PLN untuk menghadirkan energi berkeadilan yang berkelanjutan bagi masyarakat NTT. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal. F. Eko Sulistyono, General Manager PLN UIW NTT, menyatakan bahwa program ini adalah bentuk nyata upaya PLN dalam mewujudkan energi yang berkeadilan, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Eko, pemanfaatan FABA menjadi paving blok merupakan inovasi strategis yang memiliki potensi besar. Langkah ini mampu memberikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan. Produk akhir dari pengolahan FABA memiliki nilai jual dan dapat dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur lokal, seperti jalan setapak atau halaman rumah.
Manajer PLN UPK Flores, Tri Handoko, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah konkret dalam penerapan ekonomi sirkular di lingkungan pembangkit. Tujuannya adalah untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap limbah pembangkitan. "Kami ingin mematahkan stigma bahwa limbah pembangkitan harus dibuang," ujar Tri Handoko, menekankan potensi FABA sebagai sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Advertisement
Tri menambahkan bahwa FABA memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tinggi melalui proses yang relatif sederhana. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan menjadi modal awal yang kuat untuk menciptakan peluang usaha baru di komunitas mereka. Selain itu, upaya ini juga berkontribusi signifikan pada menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi penumpukan limbah industri.
Advertisement
Memperkuat Kerukunan Lintas Agama Melalui Pemberdayaan
Program pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan teknis tentang pengolahan FABA, melainkan juga sebuah platform yang efektif untuk memperkuat kerukunan sosial. Peserta pelatihan secara khusus berasal dari kalangan Pemuda Gereja dan Remaja Masjid di wilayah Maurole. Kehadiran mereka bersama-sama dalam satu kegiatan menunjukkan semangat kolaborasi dan kebersamaan yang tinggi antar komunitas beragama.
Inisiatif PLN ini secara tidak langsung meningkatkan kemampuan teknis peserta dalam mengolah FABA menjadi produk yang bermanfaat. Lebih dari itu, pelatihan ini juga berhasil memperkuat kerukunan dan semangat persaudaraan lintas agama di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang telah lama dijunjung tinggi di Kabupaten Ende.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN yang berkesinambungan. Program TJSL ini dilaksanakan melalui Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Flores sebagai wujud kepedulian perusahaan. Fokus utamanya adalah pada pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan, dengan dimensi sosial yang kuat dalam membangun harmoni.
Advertisement
Melalui pelatihan semacam ini, PLN tidak hanya memenuhi tanggung jawabnya sebagai penyedia energi, tetapi juga berperan aktif dalam pembangunan sosial. Pemberdayaan pemuda lintas agama ini diharapkan dapat menciptakan agen perubahan yang tidak hanya produktif secara ekonomi tetapi juga menjadi teladan dalam menjaga persatuan dan kesatuan di daerah.
Sumber: AntaraNews