Bukan Hanya Tenun, Kencur dan Jahe Badui Jadi Penopang Ekonomi Utama Masyarakat Adat Ini!

Masyarakat Suku Badui mengandalkan Kencur dan Jahe Badui sebagai komoditas unggulan ekonomi dari pertanian ladang. Penasaran bagaimana mereka meraih kesejahteraan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bukan Hanya Tenun, Kencur dan Jahe Badui Jadi Penopang Ekonomi Utama Masyarakat Adat Ini!
Masyarakat Suku Badui mengandalkan Kencur dan Jahe Badui sebagai komoditas unggulan ekonomi dari pertanian ladang. Penasaran bagaimana mereka meraih kesejahteraan? (Merdeka.com)

Masyarakat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, kini tengah gencar melakukan percepatan tanam komoditas unggulan mereka. Kencur dan jahe, dua jenis rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, menjadi andalan utama penopang perekonomian masyarakat adat ini dari hasil pertanian ladang. Aktivitas tanam ini dilakukan seiring dengan masuknya kalender adat bulan delapan, sebuah periode penting bagi siklus pertanian tradisional mereka.

Penanaman kencur, jahe, dan pisang secara serentak ini tidak hanya dilakukan di tanah ulayat adat, tetapi juga di luar kawasan tersebut melalui sistem sewa lahan. Komoditas-komoditas ini telah terbukti mampu memberikan pendapatan yang stabil dan signifikan bagi sekitar 7.500 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 68 perkampungan Badui. Dengan masa panen rata-rata satu tahun, hasil pertanian ini menjadi sumber penghasilan tahunan yang krusial.

Sistem pertanian yang diterapkan adalah tumpang sari, memungkinkan petani menanam beragam komoditas secara bersamaan di satu lahan. Metode ini tidak hanya memaksimalkan penggunaan lahan, tetapi juga menjamin adanya pendapatan berkelanjutan dari panen bulanan hingga tahunan. Keberhasilan ini menegaskan peran vital kencur dan jahe dalam menjaga ketahanan ekonomi dan pangan masyarakat Badui.

Kencur dan Jahe: Komoditas Unggulan Penopang Ekonomi Badui

Komoditas kencur dan jahe telah lama menjadi tulang punggung ekonomi bagi masyarakat Suku Badui. Menurut Sekretaris Desa Kanekes, Medi, hasil panen dari kedua komoditas ini dapat menjadi sumber pendapatan utama yang menjanjikan. Harga kencur di tingkat petani saat ini mencapai Rp25 ribu per kilogram, sementara jahe dihargai Rp15 ribu per kilogram.

Potensi pendapatan dari kencur sangat menggiurkan, dengan produksi rata-rata 1 ton per hektare. "Saya kira komoditas kencur saja sudah bisa membawa kesejahteraan keluarga dan belum ditambah pendapatan tanaman lainnya," kata Medi, menggarisbawahi dampak positifnya. Ini berarti satu hektare lahan kencur berpotensi menghasilkan Rp25 juta, sebuah angka yang signifikan bagi kesejahteraan keluarga petani.

Selain kencur dan jahe, pisang juga menjadi komoditas penting dengan harga bervariasi tergantung jenisnya, seperti pisang ambon yang bisa mencapai Rp50 ribu per tandan. Kombinasi komoditas ini memastikan aliran pendapatan yang beragam dan berkelanjutan bagi masyarakat Badui, mengurangi ketergantungan pada satu jenis tanaman saja.

Sistem Pertanian Tumpang Sari dan Kalender Adat Badui

Masyarakat Badui menerapkan sistem pertanian tumpang sari yang cerdas dan berkelanjutan. Di satu lahan, mereka menanam berbagai jenis komoditas secara bersamaan, termasuk jahe, kencur, pisang, jagung, terung, cabai, padi huma, tebu telur atau turubuk, hingga Albasia. Sistem ini memungkinkan panen bertahap, mulai dari bulanan, tiga bulanan, enam bulanan, tahunan, hingga lima tahunan.

Siklus pertanian masyarakat Badui sangat terikat pada kalender adat mereka. Pada bulan delapan kalender adat, mereka fokus pada percepatan tanam kencur, jahe, dan pisang. Setelah itu, pada bulan sembilan atau sekitar Oktober 2025, giliran padi huma yang akan ditanam di ladang-ladang mereka. Keteraturan ini menunjukkan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam.

Pulung, salah satu petani Badui, mengungkapkan pengalamannya dalam mengandalkan tanaman ini sebagai penghasilan ekonomi tahunan. "Kami tahun lalu menghasilkan panen empat kuintal kencur dan dijual Rp25.000 per kg, sehingga mendapatkan uang Rp10 juta," ujarnya. Pengalaman ini membuktikan efektivitas sistem pertanian tradisional mereka dalam menghasilkan pendapatan yang nyata.

Kualitas Terjamin dan Kontribusi Petani Muda Badui

Kualitas kencur dan jahe dari Badui dikenal unggul karena proses budidayanya yang alami. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, menegaskan, "Kami menjamin kualitas kencur Badui lebih baik tanpa menggunakan pupuk kimia." Pendekatan organik ini tidak hanya menjaga kualitas produk, tetapi juga kelestarian lingkungan.

Semangat bertani juga didukung oleh generasi muda Badui. Ketua Komunitas Doa Petani Muda Badui, Santa, memimpin 25 anggotanya dalam menggarap lahan seluas 25 hektare di kawasan hutan Blok Cicuraheum Gunungkencana. Mereka menggunakan sistem sewa lahan milik Perum Perhutani, menunjukkan adaptasi dan inisiatif dalam mengembangkan pertanian.

Komunitas ini secara aktif menanam kencur, jahe, dan pisang, berkontribusi pada pendapatan ekonomi keluarga dan ketahanan pangan di wilayah tersebut. Upaya kolektif ini memperkuat posisi kencur dan jahe sebagai komoditas strategis yang tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga menjaga tradisi dan keberlanjutan hidup masyarakat Suku Badui.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi