Garuda Indonesia Diminta Fokus Penerbangan Domestik, Penyumbang Pendapatan Rp1.400 T

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan, Garuda Indonesia akan fokus pada bisnis penerbangan domestik dengan melayani perjalanan masyarakat antarpulau di Tanah Air. Aksi yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan upaya untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari masalah finansial.

Bimo Pratomo
Oleh Bimo Pratomo - Reporter
Garuda Indonesia Diminta Fokus Penerbangan Domestik, Penyumbang Pendapatan Rp1.400 T
Antrean penumpang jadwal ulang penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan, Garuda Indonesia akan fokus pada bisnis penerbangan domestik dengan melayani perjalanan masyarakat antarpulau di Tanah Air. Aksi yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan upaya untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari masalah finansial akibat kerugian yang dialami perseroan.

"Indonesia ini negara kepulauan, jadi tidak mungkin orang Indonesia menuju pulau lain pakai kereta, pilihannya ada dua yaitu kapal laut atau penerbangan. Garuda dan Citilink akan fokus kepada pasar domestik, bukan pasar internasional," kata Menteri Erick Thohir seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Rabu (2/6).

Menteri Erick merujuk database Garuda Indonesia yang didominasi penumpang tujuan daerah sebanyak 78 persen dengan pendapatan mencapai Rp1.400 triliun. Sementara, jumlah penumpang tujuan luar negeri tercatat hanya 22 persen dengan perolehan Rp300 triliun.

Menurutnya, pembicaraan terkait perubahan bisnis Garuda Indonesia ke pasar domestik telah dilakukan pada November 2019 hingga Januari 2020, sebelum adanya pandemi COVID-19. "Sebelum COVID-19 sebanyak 78 persen turis adalah turis lokal sebanyak Rp1.400 triliun, turis asing hanya 22 persen Rp300 triliun," kata Menteri Erick.

Utang Garuda Indonesia

Garuda Indonesia tercatat memiliki utang sebesar USD 4,9 miliar atau setara Rp70 triliun, meningkat sekitar Rp1 triliun setiap bulan karena terus menunda pembayaran kepada pemasok.

Perusahaan juga tercatat memiliki arus kas negatif dan utang minus Rp41 triliun. Tumpukan utang tersebut disebabkan pendapatan perusahaan yang tidak bisa menutupi pengeluaran operasional.

Berdasarkan pendapatan Mei 2021, Garuda Indonesia hanya memperoleh sekitar USD 56 juta dan dalam saat bersamaan harus membayar sewa pesawat USD 56 juta, perawatan pesawat USD 20 juta, bahan bakar avtur USD 20 juta, dan gaji pegawai USD 20 juta.

Rekomendasi