Kepala Ekonom Asean, Euben Paracuelles, menyatakan ketidakpastian global mengancam pemulihan pertumbuhan ekonomi imbas virus corona di negara Asia Tenggara semakin lama. Di mana, ekonomi ASEAN membentuk kurva U yang berarti ekonomi bakal menghabiskan waktu lebih lama di dasar resesi sebelum kembali pulih.
"Secara umum, grafik pemulihan berbentuk U. Menurut saya, ini dikarenakan masih penuh dengan ketidakpastian dan memiliki risiko condong ke bawah," jelas Euben Paracuelles dilansir dari CNBC "Street Signs Asia" pada Rabu (5/8).
Dia menjelaskan bahwa meskipun Thailand tampaknya berhasil menahan wabah, sektor ekonominya masih akan mengalami hambatan besar dari merosotnya pariwisata. Penurunan dari pariwisata kemungkinan akan berlanjut sampai kontrol perbatasan dilonggarkan atau vaksin sudah tersedia.
Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan menyebut Thailand sebagai salah satu negara yang berpotensi mendapat pukulan ekonomi terbesar akibat hilangnya pariwisata. Adapun Indonesia dan Filipina yang masih berjuang melawan wabah, sebagai dua negara terpadat di Asia Tenggara, masih berjuang untuk mengendalikan angka korban virus corona.
Selain Indonesia yang baru saja mendapatkan kontraksi ekonomi pertamanya dalam 2 dekade, Filipina juga turut membukukan kontraksi sebesar 16,5 persen yoy - yang mana adalah rekor kontraksi terdalam.
Ekonom tersebut mengatakan kedua pemerintah tengah menghadapi urgensi yang lebih besar dalam mendukung ekonomi masing-masing negara. Untuk Indonesia, Paracuelles mengatakan semakin lama pihak berwenang mengendalikan wabah, akan semakin sulit menentukan langkah-langkah selanjutnya untuk menyokong perekonomian negara.
Advertisement
Tanpa Usaha Luar Biasa, Ekonomi RI Dipastikan Masuk Jurang Resesi di Kuartal III
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini, meyakini pertumbuhan perekonomian Indonesia di kuartal III akan masuk resesi.
"Ternyata dari data yang dikeluarkan oleh BPS dan juga fakta bahwa presiden marah-marah, ternyata fungsi pemerintah dalam menahan pertumbuhan minus ini tidak berjalan," kata Didik dalam press conference INDEF, Jakarta, Kamis (6/8).
"Justru pemerintah menjadi sumber kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negatif, saya yakin kuartal III masuk resesi dan kuartal IV akan jatuh lagi jika penanganannya begini," lanjutnya.
Menurutnya, pilar utama pemerintah sebagai penyelamat yang seharusnya berfungsi ternyata tidak berfungsi, ini sama persis dengan dinamika kebijakan yang dilakukan pemerintah mengatasi pandemi.
"Jadi ekonominya tidak teratasi dan pandeminya juga, sehingga ekonominya lebih jauh mengalami pertumbuhan negatif," katanya.
Reporter Magang: Theniarti Ailin