Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan hampir setahun duduk di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Sejak dilantik 19 Oktober 2011, Dahlan selalu menjadi buah bibir pemberitaan. Terutama atas aksi-aksinya selama ini.
Mulai dari beberapa aksinya membuka pintu tol, perombakan direksi-direksi perusahaan BUMN, aksinya membersihkan lantai bandara, aksi Dahlan membersihkan perusahaan BUMN dari praktek korupsi, dan aksi-aksi lainnya. Tidak semua orang bisa menerima aksi Dahlan yang cenderung one man show.
Belum lepas dari ingatan kita bagaimana aksinya dalam bongkar pasang direksi perusahaan BUMN yang menuai kontroversi. Terutama dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang tidak sependapat dengan aksi Dahlan.
Saat rapat dengan Komisi XI DPR, Dahlan justru membanggakan terobosan dan kinerjanya yang dinilai telah memberikan dampak positif bagi perusahaan-perusahaan BUMN. Seperti PT Merpati Nusantara Airlines yang sejak tidak diberi suntikan dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN), justru kinerja perusahaannya semakin baik. Tidak hanya itu, Dahlan juga membanggakan cara yang dilakukannya untuk mengembangkan industri gula nasional.
Lalu, bagaimana tanggapan Ketua DPR Marzuki Alie atas kinerja Dahlan dalam kabinet? Marzuki Alie memiliki parameter dan indikator sendiri untuk mengukur kinerja Dahlan.
"Lihat saja nanti kinerjanya. Dividen BUMN semakin turun," singkat Marzuki saat berkunjung ke kantor merdeka.com, Selasa (25/9) malam.
Pemerintah mematok dividen dari perusahaan pelat merah sebesar Rp 32,6 triliun tahun ini. Namun, target tersebut dipastikan akan meleset. Setoran perusahaan-perusahaan pelat merah sampai saat ini hanya bisa mengumpulkan dividen Rp 28,5 triliun.
Kementerian BUMN berkilah tidak tercapainya target setoran dividen karena beberapa hal. Mulai dari koreksi atas proyeksi laba PT PLN, dividen PT Tambang Batubara Bukit Asam yang berpotensi terjadi penurunan karena penerapan UU. Dahlan juga beralasan berkurangnya setoran BUMN karena PT Freeport belum memberi dividen sebesar Rp 350 miliar.
Menurut Marzuki, setoran negara yang tidak mencapai target bisa digunakan sebagai indikator atas kinerja Dahlan dalam kabinet. Namun, dia tidak secara tegas menyebut Dahlan gagal dalam mencapai target yang telah ditetapkan. "Silakan wartawan yang menerjemahkan sendiri," singkatnya.