AS tolak CPO Indonesia karena kepentingan bisnis?

Berita Indonesia cepat, aktual, serius, unik, dan baru: Produksi dan ekspor CPO Indonesia yang terus meningkat harus diakui membuat negara lainnya merasa tersaingi.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
AS tolak CPO Indonesia karena kepentingan bisnis?
minyak sawit. merdeka.com/shutterstock

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa penolakan masuknya minyak sawit (crude palm oil/CPO) asal Indonesia tidak ada hubungannya dengan persaingan bisnis atau perlindungan minyak nabati AS.

Pemerintah AS menyatakan bahwa penolakan tersebut lebih kepada kepentingan lingkungan.

"AS hanya menolak minyak sawit atau minyak apa pundan dari negara mana pun yang diketahui tidak produk hijau atau yang tidak maksimal mengurangi efek rumah kaca. Jadi bukan karena kepentingan dagang atau melindungi produk nabati AS," ujar Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS Bidang Asia Tenggara dan ASEAN Joseph Y.Yun di Medan, seperti dikutip Antara, Jumat (18/5).

Amerika Serikat menilai perkembangan ekonomi Indonesia sudah semakin baik. "Tapi Indonesia juga harus tetap memperhatikan dan menjaga lingkungan," kata Joseph Y.Yun.

Menurutnya, upaya pengurangan efek rumah kaca harus didukung oleh semua pihak. Negara lain dan AS juga melakukannya karena memang diperlukan untuk menekan kerusakan alam yang merugikan.

Berdasarkan kajian AS, biofuel dari minyak sawit Indonesia belum mampu mengurangi minimum 20 persen gas rumah kaca. Pernyataan resmi dari AS atas palm-oil Indonesia sebagai unsustainable product telah diterima Kementerian Perdagangan RI pada 28 Januari 2012.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia Derom Bangun mengatakan, produksi dan ekspor CPO Indonesia yang terus meningkat harus diakui membuat negara penghasil minyak nabati lainnya merasa semakin tersaingi.

Tidak heran jika kemudian muncul berbagai spekulasi isu dan protes yang diduga bertujuan menekan minyak sawit. Semisal protes lembaga swadaya masyarakat yang berafiliasi dengan LSM asing, kemudian disusul tindakan perusahaan pembeli dengan aksi pemboikotan dan termasuk penolakan dari AS itu.

"Tapi apa pun alasannya, Indonesia memang harus menjelaskan soal sawit nasional yang sudah semakin ramah lingkungan itu ke dunia, termasuk ke AS," katanya.

Derom juga menyebutkan, AS sebenarnya bukan pasar utama CPO nasional sehingga ancaman AS itu harusnya tidak terlalu mengkhawatirkan. Pasar utama ekspor minyak sawit Indonesia adalah China dan India. Indikatornya berdasarkan tingginya volume permintaan CPO dari dua negara tersebut.

Permintaan India misalnya, tahun ini diprediksi naik menjadi 7,1 juta ton dari 6,75 juta ton di 2011 sedangkan China meningkat 12 persen menjadi 6,65 juta ton.

Rekomendasi