Proyek Baterai Rp129 Triliun di RI Ditinggal LG, Investor Eropa Juga Tahan Diri

Lesunya pasar kendaraan listrik disinyalir jadi alasan kuat para investor undur diri dari Indonesia.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Proyek Baterai Rp129 Triliun di RI Ditinggal LG, Investor Eropa Juga Tahan Diri
Proyek Baterai Rp129 Triliun di RI Ditinggal LG, Investor Eropa Juga Tahan Diri (Merdeka.com)

Di balik gencarnya ambisi Indonesia menjadi pusat industri baterai kendaraan listrik (EV) dunia, kabar mengejutkan datang dari mitra strategis asal Korea Selatan.

Dilansir Kantor Berita Yonhap, sebuah konsorsium yang dipimpin oleh LG, termasuk LG Energy Solution, LG Chem, dan LX International Corp., memutuskan menarik diri dari proyek besar senilai 11 triliun won setara Rp129 triliun yang semula dirancang untuk membangun rantai pasokan baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia.

Proyek tersebut sempat digadang-gadang akan menjadi tonggak sejarah kolaborasi Indonesia-Korea Selatan dalam memanfaatkan cadangan nikel terbesar di dunia yang dimiliki Indonesia.

Rantai nilai menyeluruh dari pengadaan bahan baku, produksi prekursor dan katoda, hingga perakitan sel baterai sudah dirancang dengan matang, bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan sejumlah perusahaan pelat merah.

Namun, realita industri berbicara lain. Permintaan kendaraan listrik global yang sempat melonjak tajam kini mulai melambat, menciptakan fenomena yang disebut sebagai "jurang EV". Di tengah lanskap yang berubah ini, konsorsium LG memilih mundur.

"Mempertimbangkan kondisi pasar dan lingkungan investasi, kami memutuskan untuk keluar dari proyek," ujar pejabat LG Energy Solution kepada kantor berita Yonhap, Jumat (28/6).

Meski begitu, mereka menegaskan tetap berkomitmen dengan investasi yang sudah berjalan, seperti proyek pabrik baterai Hyundai LG Indonesia Green Power (HLI Green Power) di Karawang, Jawa Barat.

Tak hanya dari Asia, tekanan juga datang dari Eropa. Dua raksasa industri BASF dari Jerman dan Eramet dari Prancis menunda investasi senilai USD2,6 miliar di proyek Sonic Bay, Maluku Utara.

Meskipun banyak yang mengira penarikan diri ini sebagai sinyal surutnya kepercayaan investor asing, Menteri Investasi yang saat itu diemban oleh Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa langkah tersebut hanyalah penundaan, bukan pembatalan.

"Investasinya dipending, bukan dicabut," kata Bahlil. Ia menyebut bahwa pihaknya masih aktif menjalin komunikasi dengan kedua perusahaan.

Menurutnya, penurunan permintaan kendaraan listrik di Eropa dan Amerika menjadi faktor utama. Daya beli yang melemah dan persaingan ketat dengan mobil produksi negara lain membuat pasar menurun, berdampak langsung pada permintaan baterai.

Namun, Bahlil optimistis. Ia memastikan bahwa iklim investasi Indonesia tetap aman dan menarik.

"Tidak ada kekhawatiran dari investor lain. Kita masih dalam pembicaraan. Ini hanya jeda, bukan titik akhir," tegasnya.

Rekomendasi