Program Makan Gratis Bisa Serap Tenaga Kerja dan Dorong Industri Lokal
Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh Presiden Prabowo ternyata berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto dinilai memiliki dampak ekonomi yang luas, tidak hanya pada kesehatan anak-anak, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan industri dalam negeri.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Tumiran, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, yang menyebut bahwa MBG berpotensi membentuk ekosistem ekonomi baru di Indonesia.
“Program ini bukan hanya soal makanan bergizi, tapi harus dilihat sebagai pemicu tumbuhnya ekonomi baru. Kita harus dukung Presiden Prabowo dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Tumiran, Minggu (25/5).
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendag memiliki dampak yang signifikan
Sayangnya, ia mengungkapkan keprihatinan terhadap kebijakan Kementerian Perdagangan yang berencana membuka jalur impor food tray tanpa memerlukan izin.
Kebijakan ini dianggap bertentangan dengan upaya untuk mencapai kemandirian ekonomi. Sementara itu, industri domestik telah mampu memproduksi sebanyak 82 juta food tray untuk mendukung program tersebut.
"Jangan sampai kebijakan impor malah melemahkan industri lokal yang sudah siap," tegasnya.
Ajaklah industri nasional untuk terlibat secara maksimal
Pelaksanaan program MBG memerlukan rantai pasok yang luas mulai dari penyediaan bahan pangan, alat masak, hingga peralatan penyajian seperti food tray dan perlengkapan makan lainnya. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka akan tercipta banyak lapangan kerja baru, terutama di tengah meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Ini peluang nyata untuk menyerap tenaga kerja lokal. Petani, produsen karton, plastik, sendok, dan tisu akan tumbuh jika diprioritaskan dalam program ini,” ujarnya.
Namun, ia juga mengkritisi kebijakan Kementerian Perdagangan yang membuka jalur impor food tray tanpa izin. Menurutnya, langkah tersebut dapat melemahkan industri nasional yang saat ini telah mampu memproduksi 82 juta unit food tray.
“Jangan sampai kebijakan impor justru melemahkan industri lokal yang sudah siap mendukung program ini,” tegasnya.
Ia juga mendorong adanya sinergi yang kuat antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Ketenagakerjaan dalam memaksimalkan potensi ekonomi dari program MBG. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang konsisten dan berpihak pada produksi dalam negeri agar manfaat ekonomi dari program ini bisa dirasakan secara luas.
“Kalau semua kebutuhan program MBG disuplai oleh industri lokal, maka efek ekonominya akan sangat besar dan merata,” pungkasnya.