Produsen Obat Sirop Anak, Errita Pharma Klaim Produknya Tak Mengandung Zat Berbahaya
Merdeka.com - Kasus gagal ginjal akut yang menimpa anak-anak memicu langkah Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menarik obat sirop anak.
Rencana penarikan produk obat sirop itu berkaitan dengan temuan tiga zat kimia berbahaya, yakni ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE) pada 15 sampel produk obat sirop yang diteliti dari pasien gangguan ginjal akut.
Sebagai produsen obat pereda demam anak, PT Errita Pharma menegaskan bahwa kandungan dalam produk mereka tidak terdapat zat yang disebut berbahaya dan merusak ginjal.
"Etagesic syr dan paracetamol syr tidak menggunakan bahan glycerin/glycerol, propilene, glycol, polythene glycol, ethylene glycol, diethylene glycol," demikian keterangan tertulis perusahaan yang diterima merdeka.com, Kamis (20/10).
Surat yang tertandatangani Direktur Utama, Piping Pratamadita juga menyampaikan kepada distributor PT Errita Pharma, tenaga kesehatan, dan para konsumen PT Errita Pharma bahwa produk etagesic syr dan paracetamol syr merupakan pereda demam anak dengan zat aktif paracetamol 120 mg.
Disampaikan juga produk dari PT Errita Pharma yaitu etagesic syrup 120 mg/ 5 ml dengan komposisi paracetamol 125 mg, kemasan dus/botol 60 ml.
Kemudian, paracetamol sirup 120 mg/5 ml dengan komposisi paracetamol 125 mg, kemasan dus/botol 60 ml.
"Surat ini tidak dimaksudkan sebagai deskripsi lengkap tentang manfaat dan risiko yang terkait dengan pengumuman etagesic syr dan paracetamol syr," demikian pernyataan perusahaan.
Kata Kemenkes
Rencana penarikan obat sirop anak disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. "Jadi sekarang, kami berkoordinasi dengan BPOM supaya bisa cepat dipertegas, itu obat-obatan mana saja yang harus kita tarik," kata Budi di Kota Serang, Banten Kamis (20/10).
Dia mengatakan zat kimia tersebut terdeteksi di organ pasien melalui penelitian terhadap 99 pasien balita meninggal akibat gagal ginjal di Indonesia.
"Kami tarik dan ambil darahnya, kami lihat ada bahan kimia berbahaya merusak ginjal. Kemudian kami datangi rumahnya, kami minta obat obatan yang dia minum, itu mengandung juga bahan-bahan tersebut," ujarnya.
Budi mengatakan diperlukan sikap tegas pemerintah untuk melindungi masyarakat dari risiko gagal ginjal. Sebab jumlah kasus meninggal akibat gagal ginjal di Indonesia telah mencapai 70-an pasien per bulan.
"Yang terdeteksi (sakit) di Indonesia sekitar 35 sebulan, rumah sakit sekarang sudah mulai agak penuh, kami ambil tindakan preventif," katanya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya