Penutupan IndoXXI Diharapkan Gairahkan Industri Perfilman RI

Rabu, 25 Desember 2019 17:18 Reporter : Siti Nur Azzura
Penutupan IndoXXI Diharapkan Gairahkan Industri Perfilman RI Ilustrasi film. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Tatiana Popova

Merdeka.com - Situs streaming film ilegal IndoXXI memutuskan untuk menutup layanan mereka per 1 Januari 2020. Penutupan penayangan film dilakukan untuk mendukung dan memajukan industri kreatif Tanah Air.

Meski demikian, Pemblokiran tidak hanya berlaku untuk IndoXXI saja, tapi juga semua platform yang melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di bidang kesenian dan musikalisasi. Pemblokiran ini bertujuan untuk melindungi HAKI para pegiat seni.

Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) Edwin Nazir mengatakan, pemblokiran yang dilakukan akan membawa dampak besar bagi industri perfilman Indonesia. Sebab, pembajakan secara nasional telah membuat kerugian yang besar.

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM), dampak pembajakan film mengakibatkan hilangnya pendapatan pada usaha perfilman sekitar Rp 31 miliar hingga Rp 636 miliar per tahun.

"Dampaknya bisa sangat besar untuk perkembangan industri perfilman indonesia. Artinya ada potensi ekonomi begitu besar yang hilang akibat pembajakan," kata Edwin saat dihubungi Merdeka.com, Rabu (25/12).

Dia menjelaskan, besarnya kerugian tersebut seharusnya bisa meningkatkan industri dan ekosistem perfilman lokal. Sehingga, dengan adanya pemblokiran ini diharapkan bisa menekan kerugian akibat pembajakan.

"Potensi ekonomi itu bisa membuat industri dan ekosistem perfilman semakin maju. Skala produksi bisa semakin besar, konten film akan semakin baik dan beragam, sehingga penonton juga punya semakin banyak pilihan," jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan tidak hanya sebatas memblokir situs streaming tersebut. Namun juga harus memastikan tidak akan ada situs-situs yang sama untuk muncul kembali.

"Yang perlu dijaga, jangan sampai setelah IndoXXI ditutup, situs pembajakan lain justru malah muncul makin banyak. Perlu kerjasama semua pihak," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Permudah Akses Film

film

Kritikus Film sekaligus pendiri Cinema Poetica, Adrian Jonathan Pasaribu mengimbau agar pemerintah bisa mempermudah akses bagi masyarakat untuk menonton film. Mengingat, situs streaming film seperti IndoXXI sudah menjadi akses masyarakat untuk bisa menikmati film.

"Ini saling berkesinambungan situasinya. Kalau mau dilarang ya negara harus mengupayakan perusahaan media streaming lokal yang legal. Atau pemerintah menyediakan bioskop murah yang bisa masuk pasar. Jadi ini serba salah. Kamu melarang tapi kamu tidak memberi kesempatan untuk masyarakat mengakses film dengan mudah," kata Adrian saat dihubungi merdeka.com, Rabu (25/12).

Dia menjelaskan, menjamurnya situs streaming film di Indonesia bisa dipengaruhi berbagai hal. Di antaranya, harga tiket bioskop di Indonesia yang belum terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Selain itu, keberadaan bioskop yang lebih banyak berada di mal juga mempengaruhi masyarakat lebih memilih menonton streaming.

"Masyarakat menengah ke bawah sangat mengandalkan bajakan karena dia mau ke mana lagi. Bisokop mahal, di Netflix juga biaya lagi. Dari pada mematikan satu situs, mendingan benerin ekosistemnya, regulasinya. Misalnya pembangunan bioskop murah, atau akses untuk masyarakat streaming film dengan legal," imbuhnya. [azz]

Baca juga:
Situs IndoXXI Ditutup, Pemerintah Diminta Permudah Masyarakat Akses Film
Mulai 1 Januari 2020 Situs IndoXXI Ditutup
Diblokir Kominfo, INDOXXI Sampaikan Salam Perpisahan Sampai Bikin Netizen Sedih
Polri Dukung Kemenkominfo Blokir Situs Streaming Film Ilegal
Fahri Hamzah: Jangan Tiap Ada Kekacauan Blokir, Ngomong, Hadapi Rakyat

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini