Pemprov DKI Jakarta Diminta Tingkatkan Kualitas Transportasi Umum

Kamis, 28 November 2019 18:38 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Pemprov DKI Jakarta Diminta Tingkatkan Kualitas Transportasi Umum Busway. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja memandang kehadiran skuter sebagai moda transportasi di DKI Jakarta belum cukup relevan. Hal ini berdasarkan pemilihan lokasi shelter.

"Masalah transportasi di Jakarta itu sangat besar dan keberadaan skuter listrik di Jakarta, kalau saya identifikasi tempat-tempat, ini banyak di kawasan yang sudah banyak sekali layanan transportasi publiknya," kata dia, dalam diskusi bertajuk 'Quo Vadis Aturan Main Skuter Listrik', di Jakarta, Kamis (28/11).

Sebagai contoh, penempatan shelter skuter listrik di kawasan Sudirman tidak relevan karena moda transportasi publik di situ sudah lengkap. "Sebetulnya kalau dari halte ke tempat tujuan itu cuma jalan 3 sampai 5 menit maksimal. Kayak di Sudirman sudah ada sekitar 20 rute Trans Jakarta, ada satu MRT," jelas dia.

"Lalu kalau misalnya Sabang itu juga ada shelter e-scooter juga, itu sudah ada minimal 3 rute Transjakarta yang jarak haltenya cuma 200-300 meter. Jadi benar-benar sudah tidak relevan. Segitu malasnya kah kita. Pemilihan lokasi e-scooter sebetulnya tidak ada hubungannya," imbuhnya.

Dia justru lebih mendorong pemerintah provinsi DKI Jakarta agar lebih berfokus pada peningkatan kualitas sarana transportasi publik dan upaya mendorong masyarakat berpindah ke moda transportasi massal. "Masalah transportasi di Jakarta masih banyak, bagaimana meningkatkan load share-nya transportasi publik masih belum maksimal," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Pembatasan Skuter Listrik

Masyarakat DKI Jakarta mendukung pembatasan penggunaan skuter listrik, karena rendahnya standar keamanan serta kurang tertibnya pengguna dalam memanfaatkan skuter listrik. Hal tersebut berdasarkan hasil riset yang dilakukan Research Institute of Socio Economic Development (RISED).

Rumaya Batubara, Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga mengatakan, dalam riset yang dilakukan dengan 1.000 orang responden tersebut, muncul sejumlah poin yang berisi pandangan publik atas kehadiran skuter listrik.

"Hasilnya pendapat masyarakat hasilnya kebanyakan negatif. Riset dilakukan dua minggu lalu. Ini bagian dari komitmen kita memperkaya perdebatan publik dari sisi konsumen pengguna suatu transportasi publik," kata dia, dalam diskusi bertajuk Quo Vadis Aturan Main Skuter Listrik, di Jakarta, Kamis (28/11). [azz]

Baca juga:
Riset: Masyarakat DKI Dukung Pembatasan Penggunaan Skuter Listrik
Dishub DKI Bolehkan Skuter Listrik di Jalur Sepeda, Kecuali Grabwheels
Operasional Skuter Listrik Sepantasnya Dilarang Hingga Terbit Aturan
Mulai Hari Ini, Pengguna Skuter Listrik Melanggar Akan Ditilang
Pemprov DKI Kaji Aturan Penggunaan Skuter Listrik
Pemprov DKI dan Polisi Sepakat Skuter Listrik Dilarang Mengaspal di Jalan Raya

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini