Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, kini memusatkan perhatian pada upaya revitalisasi itik alabio serta konservasi kerbau rawa. Program ini dirancang secara terintegrasi dan berbasis potensi lokal di lahan rawa. Tujuannya adalah untuk menjaga populasi ternak sekaligus meningkatkan hasil produksi demi kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan, menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap inisiatif ini. Dia menyatakan bahwa pihaknya berkeinginan agar sistem pertanian terintegrasi (sitani) dapat terwujud nyata. Harapannya, program ini akan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi seluruh warga HSU, khususnya para peternak dan petani.
Inisiatif strategis ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak ahli. Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) turut serta dalam diskusi, bersama peneliti internasional dari Wageningen University & Research Belanda, Siep Missaar. Sinergi ini diharapkan mempercepat terwujudnya visi HSU sebagai pusat agro-minapolitan unggul di masa depan.
Advertisement
Advertisement
Revitalisasi itik alabio dan konservasi kerbau rawa di HSU berfokus pada perlindungan plasma nutfah melalui penguatan kawasan konservasi perairan. Hal ini penting untuk menjaga keaslian genetik dan keberlanjutan populasi kedua jenis ternak khas daerah tersebut. Pendekatan ini memastikan bahwa upaya pengembangan tidak mengorbankan aspek kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati lokal.
Salah satu metode utama yang diterapkan adalah pemeliharaan kerbau rawa dan pengembangbiakan itik alabio secara terintegrasi di lahan rawa. Sistem ini memanfaatkan ekosistem rawa yang ada, menciptakan simbiosis mutualisme antara ternak dan lingkungan. Integrasi ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan akademisi dan peneliti internasional sangat strategis. "Sinergi ini mempertegas arah pembangunan kita dalam mengembangkan sistem pertanian terintegrasi yang berkelanjutan bagi masyarakat," ujarnya. Keterlibatan para ahli dari UGM, ULM, dan Wageningen University & Research Belanda diharapkan membawa inovasi dan praktik terbaik dalam pengelolaan peternakan terintegrasi.
Advertisement
Advertisement
Keterlibatan akademisi menjadi tulang punggung dalam pengembangan sistem pertanian terintegrasi di HSU. Prof. Ika Sumantri, pendamping akademik dari Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian ULM, berperan penting dalam memastikan penelitian yang dilakukan oleh Siep Missaar relevan dengan kondisi lokal. Penelitian ini secara khusus mengkaji peran vital sektor peternakan dalam sistem pertanian terpadu di wilayah rawa.
Fokus penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana peternakan dapat diintegrasikan secara efektif dengan komponen pertanian lainnya di lingkungan rawa. Tujuannya adalah menciptakan sistem yang efisien dan berkelanjutan. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan dan program pengembangan pertanian di HSU.
Prof. Ika Sumantri menyatakan, "Hasil penelitian ini diharapkan mendorong implementasi inovasi pertanian di HSU yang mampu menopang logistik pangan di Kalimantan Selatan." Dengan demikian, program revitalisasi ini tidak hanya bertujuan untuk kesejahteraan lokal, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan regional. Inovasi yang dihasilkan diharapkan dapat direplikasi di daerah lain dengan karakteristik serupa.
Advertisement
Sumber: AntaraNews