Pembebasan Royalti Batubara Hanya untuk Perusahaan Ingin Bangun Pabrik

Rabu, 12 Februari 2020 17:09 Reporter : Dwi Aditya Putra
Pembebasan Royalti Batubara Hanya untuk Perusahaan Ingin Bangun Pabrik Menko Airlangga. istimewa ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut, pembebasan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) batu bara dan pungutan royalti sebesar nol persen hanya berlaku untuk perusahaan yang ingin membangun pabrik. Selain itu, kewajiban DMO dan pungutan royalti sebagaimana diatur pemerintah tetap berlaku.

"Kalau bikin pabrik maka dia tidak harus bayar royalti, jadi volumenya tergantung pabrik. Kalau tidak bikin pabrik dia tidak nol. Itu namanya fasilitas," katanya ditemui di DPR, Jakarta, Rabu (12/2).

Dia menjelaskan, royalti nol persen sendiri diberikan untuk batu bara yang akan dimanfaatkan sebagai proyek hilirisasi dimethyl ether (DME) atau gasifikasi batu bara. "Misalnya dimethyl ether bahan baku untuk dimethyl ether tidak menjadi objek royalti," imbuh dia.

Seperti diketahui, pemerintah menginginkan industri batu bara dapat melakukan hilirisasi dengan melakukan ekspor komoditas secara mentah atau belum diproses. Sebagai gantinya, hilirisasi akan diganjar sejumlah keuntungan seperti dibebaskan dari kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) batu bara dan pungutan royaltinya bisa dinolkan.

"Kalau sumber daya alam di Indonesia kita dorong nilai tambah. Dia tidak diwajibkan lagi DMO dalam bentuk batu bara dan royalti bisa nol," kata Airlangga beberapa waktu lalu.

1 dari 1 halaman

Virus Corona Ganggu Ekspor Sektor Minerba

Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono mengaku belum menerima laporan terkait dampak virus corona yang mengganggu ekspor-impor di sektor mineral dan batu bara. Namun, dia tak memungkiri bahwa dalam jangka panjang bisa saja berdampak.

"Kalau tembaga mungkin sudah ada pengaruhnya," kata Bambang di Komplek DPR MPR RI, Jakarta, Selasa (11/2).

Meski begitu, Bambang tidak mengetahui seberapa besar dampak dari virus corona terhadap kegiatan perdagangan Indonesia-China di sektor energi dan minerba. Sebab, hingga kini belum ada pengusaha batu bara yang melapor atau mengeluh.

"Belum ada, mudah-mudahan jangan ada,"kata Bambang.

Dia melanjutkan, ekspor mineral Indonesia ke China termasuk yang paling besar dan berpengaruh. Namun, dia enggan membeberkan jumlah pasti ekspor minerba ke negeri tirai bambu itu.

"Angkanya saya enggak tahu pasti, tapi yang jelas China termasuk yang besar, India juga," kata Bambang. [azz]

Baca juga:
ESDM Mulai Khawatir Virus Corona Ganggu Ekspor Sektor Minerba
ESDM Bongkar 5 Masalah Potensi Ganggu Pencapaian Target PNBP Minerba Rp44 T di 2020
Cadangan Mineral dan Batubara Tak Dicatat Kemenkeu, Negara Kehilangan Rp5.700 T
Tekan Impor LPG, Pemerintah Tetapkan Harga Khusus Batubara
ESDM Sebut Proyek Gasifikasi Batubara Perdana Dimulai 2020
Permintaan Meningkat, Harga Batubara Acuan Naik USD 0,3 per Ton di Desember

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini