Microsoft-Walmart Bakal Akuisisi TikTok Dengan Mahar Sekitar Rp 438,7 T

Jumat, 28 Agustus 2020 15:14 Reporter : Merdeka
Microsoft-Walmart Bakal Akuisisi TikTok Dengan Mahar Sekitar Rp 438,7 T Ilustrasi TikTok. ©Reuters

Merdeka.com - Perusahaan raksasa ritel Amerika Serikat Walmart mengatakan akan bekerja sama dengan Microsoft untuk mengajukan tawaran mengakuisisi TikTok di Amerika Serikat. Walmart mengatakan langkah ini bertujuan memperluas jangkauan pasarnya.

Seperti yang telah diketahui, TikTok memang diberi waktu sepanjang 90 hari untuk menjual cabangnya di AS ke perusahaan lokal Amerika Serikat. Hal ini disebabkan karena Presiden AS Donald Trump menduga TikTok menyebarkan data pengguna dengan Beijing, di mana klaim ini telah dibantah oleh TikTok.

Dilansir dari BBC, juru bicara Walmart mengatakan akan memenuhi harapan para pengguna TikTok di Amerika Serikat sambil tetap memenuhi ketentuan yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat. "Kami percaya kalau kerjasama antara Walmart dan Microsoft ini dapat memenuhi permintaan pengguna TikTok di Amerika Serikat untuk tetap mengadakan aplikasi ini," katanya.

Sebelumnya, pada awal Agustus, Microsoft memang telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang dalam pembicaraan dengan TikTok. Namun, Microsoft menyatakan pada BBC bahwa tidak ada yang bisa 'diinformasikan' dalam waktu-waktu dekat ini.

Harapannya, bersama jaringan pasar swalayan Inggris Asda atau Walmart, Microsoft bisa bersaing dengan calon penawar lain, seperti perusahaan teknologi asal AS, Oracle. Jika kesepakatan tercapai, TikTok bakal dibeli dengan harga sekitar USD 30 miliar atau setara Rp 438,7 triliun (asumsi Rp 14.634 per USD).

Sejak peluncuran globalnya pada akhir 2018, TikTok berhasil menarik banyak antusiasme pengguna, terutama mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya membuat video pendek, dengan bantuan database lagu yang luas dan berbagai fitur filter.

2 dari 2 halaman

Risiko Kebocoran Data

data

Namun, pemerintahan Trump kerap menuduh pemilik TikTok, perusahaan internet China, Bytedance sebagai ancaman keamanan data di Amerika Serikat. Dikatakan bahwa dari 800 juta data yang dimiliki TikTok, 100 jutanya berasal dari Amerika Serikat dan berpotensi akan dieksploitasi oleh pemerintah China.

Pemerintah India juga telah melarang TikTok, bersama dengan lusinan aplikasi buatan China lainnya, mengklaim bahwa mereka "secara diam-diam" mengirimkan data pengguna. Beijing membantah klaim tersebut, menyebut larangan Amerika Serikat itu bermotif politik.

Adapun pendiri ByteDance, Zhang Yiming, menghadapi kritik atas keputusannya menjual TikTok ke sebuah perusahaan AS. Namun, dalam sebuah surat kepada staf pemerintah China, dia mengatakan itu adalah satu-satunya cara untuk mencegah aplikasi tersebut dilarang di Amerika.

TikTok bukan satu-satunya aplikasi milik China yang menarik kecurigaan otoritas pemerintahan AS, hal ini turut dirasakan oleh aplikasi kirim pesan WeChat.

Reporter Magang: Theniarti Ailin

Baca juga:
Kelakuan Cowok Pas Tahu Gebetan Jerawatan, Jijik dan Malu Jalan Berdua, Blokir WA
TikTok Ungkap Jumlah Pengguna Aktif di AS
Tips Bikin Konten TikTok Agar Ditonton Banyak Orang
Cimoy Montok Tak Lupa Diri, Bangga dengan Kamar di Rumah Lama yang Dilapisi Koran
Dilarang di AS, TikTok Bakal Gugat Kabinet Trump ke Pengadilan
TikTok Buka Peluang Kreativitas Sekaligus Wadah Edukasi
Trump sebut Bakal Ada Perusahaan Asal Tiongkok Bernasib Sama Seperti TikTok

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini