Menko Airlangga soal Penyaluran Kredit Loyo: Suku Bunga Masih Tinggi

Jumat, 20 Desember 2019 19:27 Reporter : Merdeka
Menko Airlangga soal Penyaluran Kredit Loyo: Suku Bunga Masih Tinggi Menko Airlangga Hartarto. ©2019 Foto: Lutfi/Humas Ekon

Merdeka.com - Menteri koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto membeberkan alasan pertumbuhan kredit perbankan melambat. Salah satunya adalah karena suku bunga kredit korporasi masih tinggi.

Menurut Airlangga, suku bunga korporasi saat ini masih berada di angka 10,7 persen. Sebagai catatan, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) bertahan di angka 5 persen dan sudah diturunkan sebanyak 4 kali.

"Jadi rata-rata suku bunga korporasi masih 10,7 persen dan ini adalah sebuah persoalan," tutur Airlangga di gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (20/12).

Airlangga juga mengatakan, kondisi iklim ekonomi global yang masih volatil membuat perusahaan menahan ini untuk melakukan ekspansi dan investasi. Oleh karenanya, pemerintah mengimbau kepada perbankan untuk mentransmisikan suku bunga BI dengan cepat.

Sementara, BI menyebutkan realisasi pertumbuhan kredit pada November berkisar di angka 6,53 persen, lebih kecil dari pertumbuhan kredit bulan sebelumnya yang mencapai 7,89 persen.

1 dari 1 halaman

Kredit Macet Meningkat & Penyaluran Pembiayaan Perbankan Melambat

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui rasio kredit bermasalah (NPL/non performing loan) perbankan dalam negeri mengalami peningkatan di saat penyaluran kredit melambat.

Sesuai dengan Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 Desember 2019, NPL perbankan pada Oktober meningkat jadi 2,73 persen (gross) dan 1,25 persen (nett).

"NPL memang secara gross dan nett kami pandang masih rendah, ternyata grossnya ini sedikit meningkat tapi nettnya tetap rendah," ujar Perry di Gedung BI, Kamis (19/12).

Perry menerangkan, meningkatnya NPL gross disebabkan dengan kondisi perusahaan yang masih belum mau melakukan ekspansi.

"Tapi, dengan NPL nett yang masih rendah, dipastikan perbankan membentuk cadangan yang cukup untuk resiko NPL ini," imbuh Perry.

Sebagai informasi, NPL pada Oktober 2019 meningkat dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,66 persen (gross) atau 1,18 persen (net). NPL pada Oktober 2019 juga merupakan posisi tertinggi sepanjang 2019.

Sementara, penyaluran kredit juga tumbuh melambat pada Oktober 2019, yakni hanya 6,53 persen. Sebelumnya, pertumbuhan kredit berada di angka 7,89 persen.

Reporter: Athika

Sumber: Liputan6.com [idr]

Baca juga:
BI Target Pertumbuhan Kredit Perbankan Tahun Depan Capai 12 Persen
Data BI: Kredit Macet Meningkat & Penyaluran Pembiayaan Perbankan Melambat
Bank Mandiri Perketat Syarat Pembiayaan di Sektor Pertambangan dan Energi
Oktober 2019, OJK Catat Pertumbuhan Kredit Melambat Capai 6,53 Persen
Ekonomi Global Melambat, Bank Mandiri Turunkan Target Pertumbuhan Kredit di 2020
Bank Mandiri Taspen Jaga Angka Kredit Macet di 0,63 Persen

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini