Mengupas Rencana 'Impor' Maskapai Asing Tekan Harga Tiket Pesawat

Selasa, 11 Juni 2019 08:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Mengupas Rencana 'Impor' Maskapai Asing Tekan Harga Tiket Pesawat Ilustrasi pesawat. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/IM_photo

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana untuk akan mengundang maskapai asing untuk membuka rute domestik, sehingga konsumen nantinya bisa memiliki lebih banyak pilihan. Selain itu, maskapai juga semakin efisien, sehingga berdampak terhadap harga tiket pesawat yang semakin terjangkau.

Maskapai asing bisa mendirikan perusahaan (perseroan terbatas) dan membuka rute-rute domestik. Saat ini, maskapai asing yang telah membuka rute penerbangan domestik adalah Indonesia AirAsia di mana 49,25 persen sahamnya dimiliki oleh AirAsia Investment Ltd.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga akan mengkaji ide ini. Menurutnya, ide tersebut bisa dilaksanakan asalkan tidak melanggar azas cabotage.

Azas cabotage adalah kepemilikan saham tidak lebih dari perusahaan nasional, yakni 49 persen asing, 51 persen dalam negeri. "Perusahaan asing itu harus memiliki perusahaan di sini di mana dimiliki oleh Indonesia 51 persen, juga terus mengikuti syarat-syarat lain," katanya.

Berikut fakta-fakta di balik rencana pemerintah untuk mendatangkan maskapai asing ke Indonesia

1 dari 5 halaman

Bikin harga tiket pesawat kompetitif

Menhub Budi mengungkapkan bahwa ide Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mendatangkan maskapai asing akan berdampak positif. Hal tersebut akan menciptakan kompetisi sehat dan harga tiket pesawat yang lebih kompetitif.

"Imbauan Pak Presiden untuk memberikan kompetisi bagi maskapai kami sedang mempelajari tapi secara jujur kami sampaikan itu ide yang baik," kata dia, di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa (4/6).

Meskipun demikian, dia mengatakan ada sejumlah hal yang harus diperhatikan pemerintah ketika mengizinkan maskapai asing beroperasi di Indonesia. Sejumlah syarat dalam Undang-Undang, kata dia, harus dipenuhi.

2 dari 5 halaman

Tekan persaingan antar maskapai

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani setuju dengan pemberian penambahan rute maskapai asing di Indonesia. Masalah harga tiket pesawat yang mahal menjadi pertimbangan utama dari dukungan ini.

"Tiket pesawat masih dirasakan mahal dan kami mendukung penuh inisiatif pemerintah untuk memperkenankan pesawat regional atau pesawat penerbangan asing untuk menambah rute domestiknya. Itu kami dukung penuh," tegasnya di acara open house Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warijyo, di Jakarta, Rabu (5/6).

Hal lain yang disorot oleh Hariyadi adalah dominasi Garuda Indonesia dan Lion Air. Kedua maskapai itu dinilai membuat harga sulit menurun. Akibatnya hal itu mempengaruhi minat para pelancong lokal. Okupansi hotel pun ikut merosot, ini terutama terdampak pada daerah Timur seperti Sulawesi Selatan.

"Memang dominasi Garuda dan Lion terlalu besar, sehingga harga itu akan sulit terkoreksi karena mereka terlalu dominan," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Mendapat banyak dukungan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mendukung ide mendatangkan maskapai asing untuk beroperasi di Indonesia. Saat ini maskapai di Indonesia hanya ada dua kelompok besar yaitu Garuda Indonesia dan Lion Air. Jadi perubahan harga tiket pesawat tidak akan jauh berbeda diantara kedua kelompok besar maskapai ini.

Maka dari itu, Menko Darmin nampak begitu setuju akan ide Presiden Jokowi yang ingin memasukan maskapai asing di Indonesia. Agar dua kelompok maskapai tersebut dapat bersaing dan menurunkan harga tiketnya. Namun, diakui hal ini tetap beresiko.

"Maskapai-maskapai penerbangan lokal ini tentunya akan teriak uaaaa ini jadi susah!," jelasnya.

Meskipun demikian, pemerintah akan terus mendukung hal ini. Sebab, menurut Menko Darmin, agar harga tiket pesawat tidak naik setajam seperti saat ini dibutuhkan lebih banyak persaingan.

4 dari 5 halaman

Banyak keuntungan

Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani mengungkapkan, maskapai penerbangan domestik tidak perlu terlalu cemas akan rencana tersebut. Kompetisi yang timbul dengan kehadiran maskapai asing justru akan mendorong efisiensi di tubuh maskapai penerbangan.

Menurut dia, kehadiran maskapai asing akan diikuti dengan perbaikan baik dari sisi strategi bisnis maupun pelayanan dari maskapai yang sudah ada di Indonesia. Jika tidak mau kalah bersaing. "Ya harus lebih baik, harus mengupdate lebih baik begitu, efisein, dan harus siap kalau ada yang masuk dan berkompetisi. Dan paling penting apa, ya semua itu level of playing field-nya harus sama, begitu saja," ungkapnya.

Dia pun menilai, dari segi kualitas baik armada maupun layanan yang sudah diberikan oleh dua maskapai besar, Garuda Indonesia dan Lion Air sesungguhnya menjadi modal. Dengan demikian, kompetisi seharusnya bukanlah hal yang perlu terlampau dicemaskan.

Di lain hal, masuknya maskapai asing bakal mendongkrak sektor pariwisata Indonesia. Terkait maskapai yang bakal masuk, dia mengharapkan agar masyarakat tidak perlu terlalu meributkan negara asal maskapai tersebut. Namun, yang terpenting adalah manfaat yang akan ditimbulkan bagi perekonomian Indonesia.

5 dari 5 halaman

Beri peluang reformasi

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, dengan adanya rencana mendatangkan maskapai asing beroperasi di Indonesia, seharusnya maskapai dalam negeri yang sudah beroperasi lama melakukan perubahan, sehingga menciptakan tarif yang seimbang.

"Saya masih menaruh harapan bahwa maskapai yang ada melakukan reformasi lah, supaya ada keseimbangan harga, supply demand," kata Budi, di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (10/6).

Menurutnya, jika perubahan telah dilakukan dan keseimbangan terjadi, maka masyarakat akan tetap mengandalkan maskapai dalam negeri. Dia pun belum bisa memastikan, keefektifan maskapai luar negeri.

Menurutnya, jika perubahan telah dilakukan dan keseimbangan terjadi, maka masyarakat akan tetap mengandalkan maskapai dalam negeri. Dia pun belum bisa memastikan, keefektifan maskapai luar negeri.

[azz]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini