Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menengok Proses Pembuatan Tas Eiger Dilakoni Ratusan Wanita Cantik

Menengok Proses Pembuatan Tas Eiger Dilakoni Ratusan Wanita Cantik Pabrik Eiger. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Tim Merdeka.com Rabu (21/8) diberi kesempatan melihat langsung proses pembuatan Tas Eiger, Bodypack, dan Exsport di pabriknya yang terletak di Jl Terusan Kopo, Kabupaten, Bandung, Jawa Barat. Pembuatan Tas Eiger dilakukan di PT Eksonindo Multi Product Industry yang lokasinya tak berjauhan dari kantor Eiger karena hanya berjarak beberapa meter. Selain di Bandung, pabrik untuk produksi juga terdapat di Tangerang, dan Banten.

Di sini, tim merdeka disambut hangat oleh Aji Santoso selaku General Manager Procurement Eksonindo Multi Product Industri.

Sebelum berkeliling pabrik, dirinya sempat menceritakan sedikit tentang proses pembuatan tas dari tahap awal hingga sampai tahap pengiriman. Mulai dari riset desain produk, prototype/sample, digitalisasi dan dokumentasi pola, pemotongan bahan, assembly jahit, pemasangan aksesoris, packing, hingga ready to sell.

Dalam penjelasannya, Pak Aji sapaan akrabnya, membeberkan alasan produk tas Eiger memiliki harga yang sangat mahal. Menurutnya, itu adalah hal yang wajar, karena saat produksi pihaknya tidak main-main. Dia menggunakan bahan yang bagus, ber-garansi satu tahun dan akan menggantinya jika ada kerusakan.

Dirinya juga mengutamakan zero defects, yaitu menekan dan meminimalkan jumlah cacat maupun kesalahan yang terjadi dalam sebuah proses. "Hal ini dilakukan karena kita mau buka di Prancis dan Go Internasional, bahkan harga bahan sampai nomor jarum jahit pun kita hitung costnya. Tidak hanya itu, semua bahan juga diuji dahulu sebelum dipasarkan. Bahkan kita memiliki 1 tas yang harganya mencapai Rp 6 juta," ujar pria yang sudah bekerja sejak 2001.

Tim merdeka.com bahkan diberi kesempatan spesial melihat langsung proses pengujian kekuatan bahan yang digunakan untuk tas di salah satu ruangan khusus. Dalam ruangan yang hanya berisi 4 orang tersebut, semua bahan mentah untuk tas seperti tali, busa pelapis, resleting, sampai kain, dilakukan pengujian sebelum digunakan.

"Di sini semua, per-item barang dilakukan pengujian, kekuatan bahan, jahitan, resleting, warna bahan, dan proofing (anti air)," ujar pria yang selalu berpenampilan nyentrik ini.

Untuk tali, diuji dengan sebuah mesin yang akan menarik tali tersebut secara kuat hingga terputus. Hal ini dilakukan untuk menguji seberapa kuat tali tersebut membawa beban. Tidak hanya itu saja, kain yang akan digunakan juga melalui tahap profing, yaitu pengujian apakah kain tersebut akan anti air, warna tak mudah luntur, dan tak mudah sobek.

Selanjutnya, tim diajak lagi masuk sebuah ruangan. Di ruangan tersebut kami diajak melihat langsung proses pembuatan pola dasar. Di sini proses pembuatan pola dilakukan menggunakan 2 cara, secara manual, dan menggunakan mesin (laser) yang sudah di program. "Di sini kita harus membuat 200 pola desain perbulan, bahkan untuk satu tas saja dilakukan 286 proses," jelasnya.

Selesai dari ruang pola, tim Merdeka juga masuk ruangan yang berukuran sangat besar, di mana ruangan ini mampu menampung 800 pekerja setiap harinya. Aji menjelaskan, bahwa pabriknya menerapkan sel sistem untuk proses penjahitan.

Pada sistem ini, setiap penjahit dikelompokkan yang terbagi 14 barisan (line). Setiap kelompok berisikan 46 orang penjahit, itu di luar bagian Assembling dan Quality Control. Hal ini dilakukan karena untuk memenuhi target per-jamnya.

Dia menjelaskan, saat proses (jahit) tidak boleh ada yang berhenti di tengah, karena akan timbul penumpukan (bottle neck). Kita langsung sediakan mekanik yang setiap hari keliling jika ada mesin yang bermasalah. Mereka (mekanik) dikasih waktu 10 menit untuk mereparasi dan menyediakan mesin cadangan.

"Untuk mesin di sini kita punya 160 mesin. Harganya kisaran Rp 50-Rp 500 juta per mesin. Itu salah satu alasan kenapa tas Eiger harganya mahal," candanya memancing tawa tim merdeka.com.

Ada yang unik dan menarik perhatian tim Merdeka saat berada di ruangan ini, semua pekerja di sini rata-rata wanita semua. Hal itu dibenarkan Aji, untuk para pekerja (penjahit), Aji menceritakan bahwa pihaknya merekrut pekerja wanita lulusan SMA.

"Alasannya, wanita itu rajin, teliti, dan apabila sudah menikah mereka ada yang memilih mengundurkan diri untuk mengurus rumah tangga dan anak. Satu lagi yang penting, saya merekrut wanita yang cantik-cantik. Coba lihat tuh!" guyonnya sambil menunjuk dua orang wanita.

Di ruangan terakhir yang tim Merdeka.com kunjungi adalah bagian packing, semua barang yang telah diproduksi akan melewati tahapan Quality Control (QC) lalu masuk proses packing. Aji menjelaskan setiap hari melayani 10 ribu pengiriman.

Semua pekerja di sini diberikan fasilitas kesehatan di luar BPJS kesehatan. Bahkan, untuk pekerja wanita, disediakan ruangan khusus bagi ibu menyusui dan yang membawa balita. Di nursery room ini, tersedia suster pengasuh yang akan menjaga anak-anak para pekerja dan fasilitas khusus bagi para ibu menyusui.

Untuk standard waktu kerja, pihaknya mengikuti peraturan dari ILO (Internasional Labour Organization) menerapkan 8 jam kerja Senin-Jumat, dan hanya memperbolehkan lembur 2 jam. "Untuk hari Sabtu dan Minggu maksimal 8 jam dan lebih dari itu kita harus bayar 3 kali UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota)," ucapnya.

Pria paruh baya berkepala plontos ini sedikit bercerita bahwa perusahaannya telah meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah seorang karyawannya yang berhasil mendapatkan penghargaan dari Ridwan Kamil belum lama ini. Total pekerja di pabrik ini mencapai 1400 orang. Dia juga berpesan, bagi siapa saja yang tengah merintis usaha, harus terus konsisten dan berinovasi agar tak tertinggal dengan perkembangan.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP