Menanti Harga Tiket Pesawat Murah

Rabu, 6 Juli 2022 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Menanti Harga Tiket Pesawat Murah Bandara Soekarno Hatta. ©2019 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Harga tiket pesawat mengalami lonjakan drastis setidaknya dalam 6 bulan terakhir. Kondisi ini dipicu berbagai hal, mulai dari kenaikan harga atur hingga kemampuan perusahaan maskapai penerbangan untuk kembali bangkit dari dampak pandemi.

Harga tiket pesawat per Juli 2022 di platform pembelian tiket online untuk rute Jakarta- Surabaya sudah mencapai Rp1,3 juta , Rute Jakarta-Bali sekitar Rp1,1 juta. Sedangkan harga tiket pesawat untuk Jakarta-Kualanamu Rp1,5 juta.

Harga tiket pesawat rute internasional juga sudah tinggi. Rata-rata rute penerbangan Jakarta-Singapura dibanderol Rp3,7 juta, rute Jakarta-Kuala Lumpur dari Rp3,8 juta. Sedangkan rute Jakarta- Tokyo mulai dari Rp6,7 juta - Rp8,3 juta untuk satu kali perjalanan.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie menilai kenaikan harga tiket pesawat ini masih dalam batas atas, sebagaimana aturan dari Kementerian Perhubungan Nomor 106 tahun 2019 tentang tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Ditambah, tahun ini Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 68 tahun 2022 tentang Biaya Tambahan (fuel surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Sehingga dia menilai mahalnya tarif tiket pesawat yang dipatok maskapai penerbangan tidak melanggar aturan pemerintah.

"Harga tiket pesawat sekarang memang tinggi tapi masih di koridor matas atas, jadi tidak ada pelanggaran," kata Alvin Lie saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (6/7).

Naiknya harga tiket pesawat tak lepas dari ketidakmampuan maskapai menanggung beban akibat kenaikan harga avtur. Saat ini harga bahan bakar pesawat sudah naik 100 persen dari harga tahun 2021.

Akibat kenaikan harga avtur, biaya operasional maskapai jadi bengkak. Biasanya biaya avtur untuk pesawat tipe baling-baling sekitar 35 persen dari biaya operasional. Namun saat ini sudah mencapai 60 persen. Hal inilah yang membuat maskapai penerbangan menaikkan harga tiket pesawat mencapai batas atasnya.

"Ini bukan karena mereka (maskapai penerbangan) mau menaikkan harga, tapi karena tidak ada pilihan. Biaya untuk avtur sudah mencapai 60 persen dari biaya operasional," kata Alvin.

2 dari 4 halaman

Pengaruh Perang Rusia-Ukraina

Lebih jauh mantan anggota Ombudsman ini mengatakan kenaikan harga avtur tidak terlepas dari pengaruh perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Konflik geopolitik ini telah menyebabkan harga energi melonjak.

Hal ini pun membuat harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tinggi, tak terkecuali avtur. Merujuk informasi milik Pertamina, harga avtur untuk 1-14 Juli 2021 sebesar Rp18.431 per liter di Bandara Soekarno-Hatta. Harga tersebut mengalami kenaikan dibandingkan periode 1-14 Juni 2022 yakni Rp15.748 per liter.

"Harga avtur itu di luar kendali kita, kalau harga minyak naik terus, avtur ini bisa naik terus," kata Alvin.

Dia mengaku tidak bisa memprediksi kapan harga avtur bisa turun. Nanti ketika harga avtur turun, terbuka peluang harga tiket pesawat akan turun lagi. "Kalau harga avtur balik lagi, nanti harga tiket ini bisa turun,' katanya.

Selain kenaikan harga avtur, mahalnya tiket pesawat saat ini juga dipicu tingginya permintaan dari masyarakat. Mengingat saat ini tengah musim libur tahun ajaran baru. Sehingga tanpa adanya kenaikan avtur, harga tiket pesawat memang mengalami kenaikan.

"Sekarang juga masih liburan sekolah, tanpa kenaikan avtur memang ini peak season permintaan," kata dia.

3 dari 4 halaman

Maskapai Belum Sepenuhnya Normal

Hanya saja memang, Alvin menyebut pengoperasian pesawat di berbagai maskapai belum sepenuhnya kembali normal seperti pra pandemi. Jumlah pesawat yang beroperasi saat ini baru sekitar 65 persen saja. Tingginya permintaan kursi penumpang tak lantas membuat maskapai penerbangan menambah unit baru. Sebab sebagian pesawat sudah ditarik lessor karena tak mampu membayar sewa. 

Menambah pengoperasian unit juga bukan perkara mudah. Ada biaya yang perlu dikeluarkan untuk menambah unit baru, seperti mengaktifkan kembali pilot yang sudah lama tidak terbang. 

"Kalau aktifkan kembali ini biayanya tidak sedikit, bisa ratusan juta per pesawat. Kalau aktifkan pilot juga bisa kena Rp300 juta per pilot," kata dia. 

Tak berhenti di situ, permasalahan ketidakpastian keadaan juga membuat maskapai berpikir ulang untuk menambah unit. Maskapai khawatir, bila semua sudah diaktifkan kembali, muncul kembali pembatasan mobilitas. "Nah mereka ini khawatir dengan pandemi karena belum berakhir. Kalau ada pembatasan lagi mereka tidak kuat menanggung beban itu," kata dia. 

Alhasil maskapai memilih menahan diri dengan kapasitas terbatas, namun resikonya rendah. Alvin menilai mereka baru akan melakukan ekspansi optimal ketika pemerintah sudah memutuskan bertransisi dari pandemi menjadi endemi.  

4 dari 4 halaman

Sektor Pariwisata Kekurangan Moda Angkutan Transportasi Udara

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengakui saat ini sektor pariwisata kekurangan kapasitas pesawat pengangkut penumpang. Sebab dari 550 pesawat yang ada di dalam negeri hanya sekitar 350 pesawat yang aktif. Sisanya sedang dalam tahap perawatan yang membutuhkan waktu lama untuk bisa kembali beroperasi.

"Hanya ada 350 pesawat dari 550 pesawat yang beroperasi dan ini perlu kita sikapi," kata Sandiaga dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (13/6) lalu.

Sandiaga menjelaskan saat ini banyak maskapai penerbangan yang masih membatasi penerbangan lantaran tidak memiliki unit. Hal ini sebagai dampak lanjutan dari upaya restrukturisasi yang dilakukan perusahaan selama pandemi, yakni mengembalikan pesawat sewaan.

Di sisi lain, banyak pesawat yang masih dalam tahap perawatan. Bahkan di tengah permintaan yang tinggi, proses perawatan pesawat juga tengah antre dan baru bisa dioperasikan kembali dalam waktu beberapa bulan kedepan. 

Selain itu, saat ini maskapai penerbangan tengah dihadapkan menambah rute dan jadwal karena keterbatasan pesawat. Maka, perlu dilakukan kalibrasi ulang rute dan jumlah penerbangan pesawat. "Permintaan sekarang ini meningkat tapi jumlah pesawatnya terbatas, maka kita perlu kalibrasi ulang," kata dia.

Sandiaga memperkirakan kebutuhan angkutan penumpang udara untuk para wisatawan harus 2 kali lipat dari kebutuhan tahun 2019. Sehingga armada yang dibutuhkan harus 2 kali lipat dari yang bisa di utilisasi. "Jika mencapai angka idealnya di tahun 2019 itu 17 juta pengunjung, maka dibutuhkan 2 kali lipat armada yang bisa d utilisasi," kata dia.

Adapun upaya yang dilakukan pemerintah saat ini dengan mendorong para pelaku industri penerbangan untuk memberikan terobosan inovasi. Agar momentum pemulihan di sektor pariwisata tidak terganggu dan berjalan optimal.

"Kita ada beberapa terobosan inovasi yang bisa meningkatkan jumlah kapasitas penerbangan menuju destinasi wisata," kata dia. [idr]

Baca juga:
Pemerintah akan Buka Rute Penerbangan Solo ke Singapura dan Malaysia
Sandiaga Uno Beri Sinyal Bakal Buka Rute Penerbangan Moskow - Denpasar
DPR Setuju PMN untuk Garuda Indonesia Sebesar Rp7,5 Triliun
Melihat Potensi Turis Rusia ke Bali usai Putin Buka Lagi Penerbangan Bali-Moscow
Wings Air akan Buka Layanan Penerbangan Domestik Melalui Bandara Pondok Cabe
Jika Syarat ini Terpenuhi, Sri Mulyani Siap Cairkan Rp7,5 T untuk Garuda Indonesia

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini