Libur panjang, Museum Fatahillah di Kota Tua diserbu puluhan ribu pengunjung
Merdeka.com - Musim libur akhir tahun sepanjang Natal dan Tahun Baru banyak dimanfaatkan warga untuk menyerbu berbagai tempat wisata. Salah satu destinasi wisata favorit di Jakarta adalah kawasan Kota Tua.
Di Kota Tua, ada beberapa tempat yang menjadi tujuan utama warga terutama yang datang bersama keluarga yaitu Museum Fatahillah.
Pantauan merdeka.com, antrean panjang terlihat mengular di depan pintu masuk museum tersebut. Sebanyak tiga orang disiagakan untuk mengatur dan memberi arahan kepada pengunjung.
"Tolong berbaris jangan melewati garis, satu orang yang membeli tiket," teriak petugas tersebut.
Pengunjung dibagi ke dalam dua baris. Baris pertama adalah orang yang akan membeli tiket, satunya lagi untuk pengunjung yang sedang menunggu tiket.
Nantinya, orang yang membeli tiket tinggal menyebutkan jumlah rombongannya. Hal tersebut dilakukan agar tidak terjadi penumpukan orang di tempat pembelian tiket.
Adapun harga tiket dipatok cukup terjangkau. Paling mahal Rp 5.000 untuk dewasa, pelajar dan mahasiswa Rp 3.000 dan untuk anak-anak Rp 2.000.
Koordinator pemandu wisata museum kesejaarahan Jakarta, Amat Kusaini Al-Alexs, mengungkapkan bahwa seharusnya pada hari Senin, Museum Fatahillah ditutup untuk umum.
"Harusnya libur, tapi hari ini kami buka jam dua siang sampai jam 8 malam," kata pria yang akrab disapa Alexs, di lokasi, Senin (25/12).
Alexs mengungkapkan, pengelola membuka museum pada hari ini untuk memberi kesempatan kepada masyarakat menghabiskan hari liburnya di museum.
Alex mengatakan, baru satu jam usai dibuka, sudah hampir 2.000 lebih pengunjung yang masuk ke dalam museum. "Kalau hari kemarin jumlah pengunjung 11.343 orang mengalahkan jumlah pengunjung Monas yang hanya 10.000," ungkapnya.
Alexs mengatakan, Museum Fatahillah memang selalu menjadi museum andalan para pengunjung. "Di Jakarta ada 4 museum sejarah yaitu Thamrin, Djoeang, Prasasti dan Fatahillah. Fatahillah yang favorit."
Suasana yang sama terlihat di pintu masuk Museum Wayang yang masih berada di kawasan Kota Tua. Antrean panjang mengular hingga ke luar area museum.
Salah satu pengunjung, Isna mengatakan dia lebih memilih menghabiskan waktu liburan di museum bersama teman-temannya untuk mempelajari sejarah.
"Dengan ke museum kita bisa nongkrong yang bermanfaat jadi tak sekadar nongkrong aja tapi mempelajari sejarah dan dapat pengetahuan baru."
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya