Krisis kedelai terjadi hampir setiap tahun
Merdeka.com - Pemerintah harus serius mengatasi lonjakan masalah kedelai yang selalu terjadi setiap tahun. Kelangkaan dan melonjaknya harga kedelai membuat perajin tempe dan tahu merugi.
Salah satu perajin tempe, Taksimal (60) menyadari, aksi mogok produksi tahu dan tempe memang tidak menyelesaikan masalah. Pihaknya justru harus menanggung kerugian. Dia mengakui, kondisi seperti ini hampir terjadi setiap tahun.
"Saya mogok kerja, rugi Rp 600.000-700.000 per hari, kalau di kalkulasi sampai 3 hari kedepan bisa Rp 1.800.000," ujarnya kepada merdeka.com, Senin (9/90.
Taksimal menyebutkan, setiap hari, pabrik rumahan miliknya bisa memproduksi 8 kwintal tempe. Dengan harga kedelai yang melonjak tinggi, Taksimal dan perajin lainnya merasa sangat terbebani dalam memproduksi tempe.
"Untuk kacang kedelai yang jenis super sekarang sudah mencapai Rp 10.500 per kwintal," katanya.
Krisis kedelai tidak hanya terjadi tahun ini. Medio Juli tahun lalu, Wakil Ketua DPR Pramono Anung bahkan berniat turun ke jalan bersama para produsen tahu dan tempe nasional. Penyebabnya sama, harga kedelai meroket setinggi langit.
Krisis kedelai yang terjadi tahun lalu menyita perhatian semua pihak di negeri ini. Terlebih, tahu dan tempe bisa dibilang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dua jenis panganan murah meriah itu mendadak sulit dijumpai di pasar tradisional maupun warung kelontong menyusul aksi para produsen yang memilih stop produksi sementara.
Mogoknya produsen tahu tempe sebagai bentuk protes pada pemerintah yang tak kunjung berhasil menstabilkan harga kacang kedelai yang menjadi bahan baku utama membuat tahu dan tempe.
Krisis kedelai tidak hanya terjadi tahun lalu. Awal 2008, tingginya harga kedelai secara tidak langsung 'menghilangkan' tahu dan tempe di pasaran. Pengrajin tahu dan tempe memilih menyetop produksi lantaran beban produksi yang terlalu besar.
Diberitakan sebelumnya, Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mengeluarkan surat edaran kepada seluruh perajin agar menggelar mogok produksi serentak mulai hari ini hingga Rabu (11/9). Secara keseluruhan ada 115.000 perajin tahu-tempe di seluruh Indonesia.
Dengan perkiraan 99 persen anggota Gakoptindo mengikuti anjuran itu, maka kerugian pengusaha mencapai Rp 200 miliar per hari.
Aksi mogok produksi yang dilakukan oleh perajin atau pengusaha tahu tempe tidak lepas dari melonjaknya harga kedelai, bahan baku utama pembuatan dua makanan tersebut. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran lebih dari Rp 9.000 per kg. Kondisi ini memberatkan perajin tahu tempe. Biaya produksi membengkak, hingga akhirnya beberapa perajin tahu tempe memilih tutup. (mdk/noe)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya