Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Korporasi dinilai lebih proaktif atasi kebakaran lahan gambut

Korporasi dinilai lebih proaktif atasi kebakaran lahan gambut TNI padamkan lahan gambut yang terbakar. ©2016 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Ketua Tim Restorasi Gambut Ahmad Hijazi mengatakan, korporasi lebih proaktif dalam penanganan kebakaran lahan gambut. Dalam konteks pencegahan kebakaran, korporasi besar juga punya kewajiban tidak hanya di area konsesi perusahaan, tetapi juga di daerah sekitar area konsesi.

"Mereka dalam penyusunan konsep kan dilibatkan. Jadi memang sudah ada forum sinergi antara pemerintah masyarakat dan pihak swasta," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (15/7).

Hijazi yang juga Sekretaris Daerah Provinsi Riau menjelaskan, Riau adalah provinsi pertama di Indonesia yang menjalankan pembangunan berkelanjutan. Bahkan sebelum dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Pemprov Riau sudah membuat MoU dengan UNDP untuk piloting dan localizing SDGs di Indonesia itu di Riau.

"Konkretnya, kita mengambil 17 target SDGs yang kita terjemahkan dalam RPJMD kita. Nanti itu menjadi acuan dalam prioritas pembangunan tahunan yang kita lakukan," jelasnya.

Hijazi menambahkan, dalam pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) pemerintah tidak mungkin berjalan sendirikan. Pihaknya, menggandeng empat pemangku kepentingan lain, seperti perguruan tinggi, perusahaan swasta, dan civil society sepert Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan di Riau.

Sementara itu, Pakar Ekologi dari Pusat Studi Lingkungan Hidup, Universitas Riau, Dr. Suwondo menilai kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan, dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat ini dinilai sudah lebih baik jika dibandingkan saat terjadi bencana karhutla di 2015. Menurutnya, hal itu salah satu indikasi bahwa industri pun sudah mulai lebih peduli pada lingkungan.

"Saat terjadi kebakaran besar di 2015, baik pemerintah maupun perusahaan sifatnya masih reaktif, ada kejadian baru bersikap. Kalau sekarang, ketika terpantau titik panas mereka sudah standby entah itu water bombing atau yang lainnya," kata Suwondo.

(mdk/sau)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP