Kisah Steve Christian, pernah ditolak jadi pekerja kasir kini miliki perusahaan KLY

Sabtu, 25 Agustus 2018 17:41 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah
Kisah Steve Christian, pernah ditolak jadi pekerja kasir kini miliki perusahaan KLY CEO KLN Steve Christian. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - CEO Kapanlagi Youniverse (KLY), Steve Christian, bercerita soal kesuksesan dan jatuh bangun dalam mendirikan sebuah perusahaan media daring. Cerita itu disampaikan dalam acara 'Young On Top National Conference' (YOTNC) 2018, yang diselenggarakan oleh PT Young On Top Inspirasi Nusantara, di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (25/8).

Dihadapan ratusan peserta YOTNC, Steve bercerita kisah suksesnya berawal dari sebuah penolakan. Cerita itu berawal ketika dirinya baru lulus SMA melamar sebagai kasir di sebuah apotek di Malang.

"Saya mulai berusaha sendiri karena penolakan. Pada waktu selesai SMA saya ingin bantu ortu saya. Dan saya dari Malang saya datang di salah satu toko yang kebetulan sahabat saya kerja di sana. Dia bilang mau resign. Dan saya dikasih kerjaan itu," kenang Steve.

Sayang, ketika Steve datang ke apotek itu, sang pemilik apotek mengatakan posisi kasir telah terisi. Steve merasa kecewa karena sedang membutuhkan pekerjaan usai lulus sekolah.

"Kemudian saya datang hari Senin. Ternyata pada waktu saya datang dari Senen si pemilik toko tanya ke saya kamu siapa, saya bilang saya yang mau bekerja disini om. Terus CEOnya bilang, kasirnya sudah ada sejak Jumat," ujarnya.

Dia merasa kecewa mendapat penolakan. Berangkat dari kondisi itu, Steve bertekad membangun perusahaan yang memberikan lapangan pekerjaan yang besar bagi banyak orang.

Saat itu, dia memutuskan untuk menjadi seorang pebisnis. Media digital dipilihnya. "Saya kecewa sekali, penolakan yang besar. Dari situ saya punya cita-cita, nanti kalau saya punya sesuatu saya ingin menciptakan lapangan pekerjaan yang besar," ungkap Steve.

"Pada waktu itu saya sangat butuh sekali pekerjaan. Penolakan buat saya sangat sedih dan bertekad, saya ingin berbuat sesuatu," sambungnya.

Steve kemudian memulai karir bisnisnya pada 1993 saat masih berkuliah di Malang, Jawa Timur. Ketika itu, dia membuat beberapa program komputer untuk beberapa toko di Kota Apel itu. Seiring waktu berjalan, bisnis yang digawanginya pun semakin berkembang, dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus pada aktivitas bisnis.

Berbekal keahliannya di bidang teknologi komputer, dia bertekad membangun usaha yang bergerak di bidang tersebut. "Saya berangkat bukan dari media, saya berangkat dari IT. Saya seorang progammer sebelum saya masuk. Sebelum Kapanlagi saya punya beberapa company," paparnya.

Akhirnya pada 2003, Steve mendirikan Kapanlagi hanya dengan modal Rp 300 juta. Dia berupaya membangun sebuah kanal berita yang menyediakan konten-konten untuk pengguna peralatan digital.

Saat itu, Kapanlagi yang baru dirintis beroperasi sangat sederhana. Perusahaan itu hanya dikelola oleh beberapa orang yang berkantor di Malang dan Jakarta.

Dua tahun berselang, PT Kapanlagi terancam gulung tikar. Dia memanggil rekan-rekannya untuk mengumumkan keuangan tengah goyah. Butuh waktu 3 bulan untuk menstabilkan Kapanlagi.com.

"Saya modal awal Rp 300 juta. Kemudian saya dapat dari teman-teman dari Malang yang naruh duit. Setelah 2 tahun mau tutup tapi ada kemurahan tahu-tahu setelah saya announce akan tutup tahu-tahu meningkat, naik naik naik naik," ucapnya.

Kejadian itu terulang hingga dua kali. Setelah sebelumnya mulai stabil, Kapanlagi kembali diambang kebangkrutan pada 2011. Penyebabnya adanya aturan baru dari pemerintah soal media digital. Hanya segelintir rekanan yang bertahan membangun kembali Kapanlagi yang akan hancur.

PT Kapanlagi bangkit, melebarkan sayap bisnisnya dengan mendirikan merdeka.com. Merdeka.com diproyeksi untuk menjadi kanal berita-berita umum berbeda dengan Kapanlagi.com yang menyediakan berita-berita hiburan.

"Dan kejadian itu terulang kembali di 2011, 2011 company kita ini tahun-tahun yang sangat berat. Tim kita pada saat itu 180 orang," kata dia.

"Dan kemudian ada satu perubahan peraturan di Indonesia yang membuat banyak company kita yang waktu itu kita terbesar kita dari Telkomsel Indosat XL tahu-tahu hari itu tidak ada. Pada Oktober waktu itu penghasilan kita hilang dalam semalam. Karena peraturan pemerintah," tambah Steve.

Akhirnya, PT Kapanlagi mampu bertahan dari badai. Sekarang, perusahaan yang digagas Steve, dengan modal bayangan dunia digital akan menjadi tren, pun berkembang pesat. Kapanlagi Network berubah nama menjadi Kapanlagi Youniverse. Di bawahnya ada sekitar 11 media dengan 120 juta pembaca tiap bulannya.

"Hari ini kita punya 900 lebih karyawan. Dari kapanlagi kita punya 11 media, kapanlagi.com, liputan6.com, ada merdeka.com, fimela.com, bola.com, bola.net. Jumlahnya pembacanya 120 juta. Saya tidak kebayang akan jadi 120 juta banyak sekali ya. Saya yakin semua dari kalian disini tidak tahu dalam satu bulan dapat dari Whatsapp, Facebook, dari Instagram pasti mampir di salah satu situs kita," tandasnya.

[bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini