Kinerja Pasar Modal Indonesia 2021 Terbaik Ketiga Asia

Kamis, 20 Januari 2022 11:12 Reporter : Anisyah Al Faqir
Kinerja Pasar Modal Indonesia 2021 Terbaik Ketiga Asia Layar IHSG di BEI. ©2022 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Kinerja sektor jasa keuangan selama tahun 2021 mengalami perbaikan di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung. Selama 2021, pasar modal Indonesia telah mengalami pemulihan. Sampai 14 Januari 2021, IHSG berada di level 6.693,40. Sudah lebih tinggi dari masa pra pandemi pada 2 Maret 2020 sebesar 5.361,25.

"Capain ini merupakan peringkat ke 3 terbaik di Asia," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022 di Jakarta, Kamis (20/1).

Selain itu kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 8.252,41 triliun. Menjadi yang terbaik kedua setelah Thailand.

Jumlah investor pasar modal juga menjadi 7,5 juta, naik 93 persen dari capaian di tahun 2020. Dari jumlah tersebut 80 persen investor berasal dari kalangan milenial.

"Ini berkah kita karena investor pasar modal ini menarik buat milenial," kata dia.

Dari sisi penghimpunan dana di pasar modal mengalami kenaikan 206 persen atau mencapai Rp 363,3 triliun. Menjadi yang terbaik di Asia Pasifik yang rata-rata 171 persen.

Sementara, di sektor perbankan, terlihat pertumbuhan kredit hingga 5,2 persen. Selain itu, prosentase kredit macet (NPL) mengalami penurunan dibandingkan tahun 2020.

"Kredit perbankan sudah tumbuh 5,2 persen dengan NPL 3 persen cenderung turun dari tahun sebelumnya yakni 3,06 persen," katanya.

Dari sisi permodalan perbankan cukup kuat dengan CR mencapai 25,6 persen. Ini didukung dari Dana Pihak Ketiga (DPK) yang menguat 12,21 persen. "Permodalan di perbankan juga cukup kuat," kata dia.

2 dari 2 halaman

Masalah Restrukturisasi

rev1

Hanya saja restrukturisasi kredit masih menjadi pekerjaan rumah. Trennya di tahun 2021 melandai dengan total restrukturisasi sampai bulan November sebesar Rp 693,6 triliun dengan 4,22 juta debitur UMKM dan non UMKM. Lebih rendah dari tahun 2020 yang nilainya mencapai Rp 830,5 triliun.

Maka dari itu, dia meminta perbankan agar membentuk pencadangan. Masih dalam kurun waktu yang sama, tercatat pencadangan telah mencapai Rp 103 triliun atau 14,85 persen.

"Ini kan terus kami minta buat pencadangan, agar kalau dinormalisasikan nanti tidak terjadi yang disebut black effect," kata dia.

Wimboh juga mengatakan permodalan di Industri Keuangan Non Bank (IKNB) sudah cukup kuat. Permodalan asuransi jiwa telah mencapai 539,8 persen dan asuransi umum mencapai 327,3 persen. Angka-angka tersebut telah melebihi ambang batas sebesar 120 persen.

Sementara itu, gearing ratio terus menurun jadi 1,9 kali. Jauh dari batas ambang maksimal 10 kali.

Rasio kredit perusahaan pembiayaan stabil di angka 3,53 persen. Ditopang kebijakan restrukturisasi yang mencapai Rp 218,95 triliun dengan 5,2 juta kontak atau porsinya 60,1 persen. [bim]

Baca juga:
Catat, Rekomendasi Saham untuk Dikoleksi Hari ini
IHSG Dibuka Melemah, Analis Rekomendasikan Saham BMRI Hingga BBRI
Mau Memulai Investasi di Pasar Modal, Yuk Pahami Penyebab Harga Saham Bisa Naik Turun
IHSG Dibuka Menguat, Simak Saham Emiten Andalan Analis Hari Ini
IHSG Dibuka Melemah, Saham Telkom Hingga BRI jadi Rekomendasi Analis
BAPPEBTI Terbitkan Izin Emas Digital Pertama untuk Treasury

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini