Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kemenkeu: Perdagangan 2019 Tumbuh Paling Rendah Seperti Krisis 2008

Kemenkeu: Perdagangan 2019 Tumbuh Paling Rendah Seperti Krisis 2008 Wamenkeu Suahasil Nazara. ©2019 Humas Kemenkeu

Merdeka.com - Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengatakan ekonomi dunia pada 2019 hingga awal 2020 menghadapi kondisi yang tidak mudah. Ekonomi dunia menghadapi ancaman mulai British Exit (Brexit) di awal 2019, kemudian disusul oleh Hong Kong yang bergejolak pada Maret.

"Tidak terlalu mengagetkan kalau tahun lalu itu volume pertumbuhan perdagangan internasional paling rendah seperti krisis keuangan 2008," jelasnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (3/2).

Suahasil pun menjabarkan masalah perekonomian dunia sejak awal 2019. "Kalau biasanya tutup tahun kita refleksi kita jejerkan kondisi tahun sebelumnya yang cukup volatile. Mulai dari Brexit tahun lalu yang rada-rada bingung sekarang sudah kelihatan maunya, kalau setahun lalu bingung. Hong Kong mulai bergejolak sekitar Maret," tambahnya.

Selain kerusuhan Hong Kong, ada juga Venezuela yang mengalami kondisi kurang beruntung. Kemudian, ada perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) yang penuh ketidakpastian.

"Tidak hanya itu, untuk kita sendiri. Kita menghadapi pemilu itu di April. Belum selesai ini semua. Kalau kalian ingat, ada juga fenomena Argentina mengalami krisis. Dia collaps pada Agustus," jelas Suahasil.

Tidak hanya Argentina, beberapa negara yang sempat mengalami krisis adalah Amerika Latin dan Chili. Setelah beberapa fenomena tersebut, ekonomi dunia juga dihajar oleh serangan fasilitas pengeboran minyak Saudi Aramco.

"Di akhir tahun ada impechmen Trump (Presiden AS), masuk Januari 2020 ada Jenderal Iran yang dibunuh, lalu dalam sebulan terakhir sibuk Corona," jelasnya.

Seluruh kondisi tersebut, kata Suahasil, membuat pertumbuhan volume perdagangan turun cukup tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kata Jokowi soal Defisit Neraca Perdagangan RI Terparah Sepanjang Sejarah

soal defisit neraca perdagangan ri terparah sepanjang sejarahRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 2,50 miliar pada April 2019 lalu. Ini dipicu oleh faktor defisit sektor migas sebesar USD 1,49 miliar, dan non-migas senilai 1,01 miliar.

Defisit neraca perdagangan tersebut merupakan yang terparah sepanjang sejarah, melampaui perolehan pada Juli 2013 lalu yang sebesar USD 2,33 miliar.

Menyikapi hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, defisit neraca perdagangan memang merupakan persoalan besar. Dia menyebutkan, kunci utama untuk memangkas defisit tersebut ialah penguatan ekspor.

"Tapi rumusnya, kalau ekspornya tidak meningkat, substitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, sampai kapanpun enggak akan rampung mulu," ujar dia di Bendungan Rotiklot, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Senin (20/5).

Jokowi melanjutkan, industrialisasi dan hilirisasi menjadi kunci utama sehingga negara bisa memproduksi barang jadi ketimbang bahan mentah. "Oleh sebab itu kuncinya industrialisasi. Kuncinya hilirisasi. Jangan sampai ngirim bahan mentah, jangan sampai ngirim raw material. Semuanya harus ada nilai tambah di dalam negeri. Kuncinya di situ aja," tegasnya.

"Kayak sekarang ini sudah kerjakan avtur, sekarang sudah enggak impor, kerjain di sini nanti mulai bulan depan sudah enggak ada impor avtur dan solar," dia menambahkan.

Jokowi pun mempermasalahkan bilamana Indonesia ke depannya masih terus bergantung kepada impor tanpa bisa memproduksi barang jadi sendiri.

"Sampai kapan pun defisitnya pasti akan besar kalau impor, enggak usah diceritain. Yang paling penting itu bagaimana menyelesaikan persoalan itu," pungkas dia.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP